Keluhuran Akhlak Manusia dan Martabat Bangsa

Keluhuran Akhlak Manusia dan Martabat Bangsa

- in Suara Kita
610
1
Keluhuran Akhlak Manusia dan Martabat Bangsa

Apa itu akhlak? Dalam bahasa Arab kata akhlak berasal dari akar kata khuluq yang bermakna perangai, tabiat atau tingkah laku. Secara istilah berarti tingkah laku atau tabiat seseorang yang timbul dari keinginan hati untuk melakukan suatu tindakan. Dengan demikian, akhlak itu berbasis pada nilai. Nilai adalah sesuatu yang bersifat universal. Karena itu, akhlak ada pada semua orang.

Hujjatul Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali al Thusi, termasyhur dengan sebutan Imam Ghazali, dalam satu karya monumentalnya Ihya’ ‘Ulumuddin mendefinisikan akhlak sebagai sifat yang tertanam kokoh dalam jiwa manusia yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa melalui proses berpikir lebih dulu.

Senada dengan al Ghazali, Ibnu Miskawih mendefinisikan, akhlak adalah sifat yang ada dalam jiwa yang mendorong manusia untuk bertindak tanpa melalui proses berpikir dan pertimbangan. Adapun Imam Qurthubi dalam tafsirnya menta’rif akhlak dengan, sesuatu yang secara lahiriah ada dalam diri manusia yang menjadi sumber tata krama, santun, beradab dan baik pekertinya.

Kemudian, dalam literatur keislaman klasik, secara garis besar akhlak terkelompok menjadi empat macam. Yakni, akhlak terpuji (mahmudah), akhlak yang baik (hasanah), akhlak tercela (madzmumah), dan akhlak yang buruk. Ada pula ulama yang hanya membagi akhlak menjadi dua; akhlak mulia dan akhlak tercela.

Agama dan Akhlak

Agama dan akhlak tidak bisa dipisahkan. Terutusnya Nabi Muhammad sebagai pamungkas para Nabi dan Rasul misi utamanya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dari sini, Imam Ghazali dalam kitabnya Kimya al Sa’adah berkesimpulan, bahwa agama seluruhnya adalah akhlak. Akhlak merupakan simpul agama. Tinggi rendahnya mutu agama seseorang dinilai dari akhlaknya. Seseorang yang akhlaknya lebih baik dari orang lain, pasti agamanya juga lebih baik dari orang tersebut.Hal ini sesuai dengan pesan Nabi; kelak, umatnya yang paling dekat dengan beliau adalah muslim yang memiliki akhlak yang baik dan terpuji.

Menurut al Ghazali, ada empat model akhlak; akhlak para malaikat, akhlak setan, akhlak hewan dan akhlak binatang buas. Keempat cerminan akhlak ini menggambarkan manusia sesuai dengan akhlak yang dimiliki. Jika akhlaknya seperti setan, tentu saja ia seperti setan. Demikian seterusnya.

Manusia dan Keluhuran Akhlak Bangsa

Ketika membaca sejarah, segera akan diketahui, bahwa marwah, martabat dan kejayaan suatu bangsa sangat dominan ditentukan oleh akhlak penduduknya. Apabila masyarakat suatu bangsa berakhlak mulia, berpegang teguh pada nilai-nilai budi pekerti yang mulia dan luhur, bangsa tersebut dipastikan akan jaya, damai, tentram dan terbebas dari cekam kengerian dan ketakutan. Sebaliknya, manakala akhlak penduduk suatu negeri tidak terpuji atau tercela, dipastikan kehancuran akan secepatnya menghampiri mereka. Tak hanya itu, kehancuran negara tidak akan lama lagi.

Sebab, dengan akhlak mulia seseorang akan sangat mudah menghormati orang lain. Ia, akan memandang perbedaan sebagai sesuatu yang memang sudah ada, karenanya harus diterima dan dihormati. Akhlak mulia juga membawa seseorang mudah untuk saling tolong menolong, saling mengasihi dan menghilangkan permusuhan. Dengan begini, keamanan dan persatuan suatu bangsa akan terbina secara kuat.

Beda halnya kalau akhlak mulia dan terpuji itu hilang dari diri kita. Bangsa akan kacau dan liar. Akan akrab kita dengar sikap hujat menghujat, saling menyalahkan, saling mencaci, dan saling membunuh. Kalau sudah demikian, kalau keluhuran akhlak kebangsaan telah rapuh, jangan berharap lagi Indonesia yang gemah ripah loh jinawi. Jangan berharap Indonesia menjadi negara yang “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”, negeri tentram dan diridhai Tuhan.

Karena itu, umat Islam sebagai penduduk mayoritas mestinya memberikan teladan akhlak mulia kepada semua anak bangsa penganut agama yang lain. Supaya keluhuran Islam kembali terpancar terang di negeri ini. Bukan sebaliknya, menjadi penyebab kekacauan, terorisme dan kekasaran-kekasaran yang lain.

Tengoklah Baginda Nabi kita yang selalu mendiktekan akhlak-akhlak mulia untuk semua manusia di bumi ini. Dengannya, beliau menjadi manusia paling mulia karena akhlaknya adalah semulia-mulianya akhlak.

Akhlak mulia adalah simpul ajaran Islam. Kalau simpul itu terlepas, lepaslah agama itu dari diri kita. Nabi Muhammad dipuji oleh Tuhan karena akhlaknya. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung”. (QS. al Qalam: 4). Maka, satu yang harus selalu kita ingat adalah sabdanya “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”.

Facebook Comments