Kembali ke Peradaban Nusantara yang Egaliter dan Toleran

Kembali ke Peradaban Nusantara yang Egaliter dan Toleran

- in Suara Kita
178
0

Selalu ada memori kolektif dalam setiap nama, demikian sering disebut. Tak ada nama yang ujug-ujug lahir dari ruang kosong. Setiap nama pasti mempunyai imajinasi dan latar belakangnya masing-masing, baik berupa budaya, peradaban, mentalitas, ataupun kejayaannya.

Hakikat inilah mungkin yang diperhitungkan oleh Pemerintah ketika secara resmi memilih “Nusantara” sebagai nama Ibu Kota Negara (IKN) bagi Indonesia. Nama “Nusantara” mengalahkan 80 nama lainnya yang disodorkan kepada presiden.

Nusantara bukanlah nama yang asing bagi bangsa ini. Nusantara adalah nama yang sangat populer. Sebab, ia adalah memori kolektif bangsa ini sekaligus sejarah masa lalu yang penuh dengan kejayaan.

Nusantara punya peradaban yang cemerlang dalam merawat keberagaman dan perbedaan. Keterbukaan terhadap pihak yang berbeda adalah ciri dari mentalitas Nusantara.

Kebudayaan Nusantara adalah kebudayaan yang egaliter dan terbuka. Masyarakatnya bisa menerima sesuatu yang “asing”, dan mampu berdialog dengan liyan, serta bisa memberikan ruang bagi tumbuhnya keberagaman.

Keegaliteran peradaban Nusantara mewujud dari suatu fakta bawah Nusantara adalah berbentuk kepulauan. Masyarakat kepulauan adalah masyakat bahari yang mau terbuka kepada pihak lain.

Terbuka

Manusia kepulauan adalah manusia-manusia yang bisa menerima dan beradaptasi jika ada ada kapal yang mendarat di pinggir pantai. Sebagai masyarakat nelayan, ia sangat akomodatif terhadap para pendatang yang silih berganti berlabuh di pinggir pantai tempat tinggal mereka.

Manusia yang hidup dalam iklim kepulauan adalah manusia yang mampu memposisikan semua manusia itu setara, tidak ada kelas wahid dan kelas dua, tidak ada kasta, semuanya sama di hadapan laut.

Para pendahulu kita yang hidup di pinggir laut dan terbiasa dengan dunia laut, adalah manusia-manusia yang terbuka. Faktor alam yang tidak menentu, iklim yang bisa berubah-ubah, kondisi laut yang tidak bisa dipastikan, secara aktual mempengaruhi sikap, tindakan, dan cara berpikir mereka menjadi manusia-manusia yang terbuka.

Terbuka terhadap ilmu pengetahuan baru, terbuka kepada tradisi dan budaya baru, dan terbuka terhadap tamu yang baru. Sikap terbuka, mau berdialog dan memahami yang lain adalah modal yang sangat kuat bagi individu untuk tidak terjerumus kepada kubangan radikalisme.

Damai dan Toleran

Penamaan Nusantara sebagai nama Ibu Kota Negara merupakan momentum yang pas untuk menghidupkan kembali memori kolektif kita, bahwa sejak dulu kita adalah bangsa yang terbuka, damai dan toleran.

Nusantara sebagai peradaban yang egaliter dan toleran harus sekuat tenaga dihidupkan kembali. Adanya pergeseran budaya, yakni budaya individual dan menutup diri, perlu menjadi perhatian bersama.  

Sikap individual yang lebih menekankan diri atau kelompoknya sendiri, adalah fenomena daratan yang tidak dikenal dalam peradaban kepulauan.

Kebudayaan Nusantara sebagai kebudayaan kepulauan merupakan  kebudayaan yang melahirkan manusia tidak egois, mereka bangga jika dirinya memberikan manfaat bagi banyak orang.

Kebanggaan sebab memberikan manfaat kepada orang lain, bukan kebanggaan sebab menebarkan terror, ketakutan, pembunuhan, dan bom bunuh diri.

Wujud dari keterbukaan manusia Nusantara adalah mereka mau bekerjasama, bersaing dalam kebaikan, berkolaborasi, danmau menjalin persaudaraan dengan yang lain.

Persaingan yang tidak ada kerjasama dan persaudaraan, adalah fenomena mutakhir yang bukan sifat asli dari manusia kepulauan.

Asalkan saya menang, saya siap menikam lawan. Asalkan saya masuk surga, saya siap membunuh orang. Asal saya membela kebenaran, saya bersedia mati, meski dengan bom bunuh diri.

Untuk itu, penyematan nama Nusantara itu harus dimaknai sebagai upaya dan momentum untuk mengurangi atau menghapus pola ber-relasi yang tertutup, yang menyebabkan konflik dan menggantinya dengan budaya manusia kepulauan yang lebih toleran, terbuka, dan akomodatif.

Facebook Comments