Kembali Menjadi Fitrah: Suci dari Amarah, Kebencian, Permusuhan dan Kekerasan

Kembali Menjadi Fitrah: Suci dari Amarah, Kebencian, Permusuhan dan Kekerasan

- in Suara Kita
210
0
Kembali Menjadi Fitrah: Suci dari Amarah, Kebencian, Permusuhan dan Kekerasan

Idul Fitri, dalam bahasa Arab ‘Id al Fitri secara harfiah bermakna kembali pada fitrah, kembali suci seperti bayi yang baru lahir. Idul Fitri merupakan momen yang paling ditunggu oleh umat Islam yang berpuasa, karena disaat itu mereka mereka telah berhasil melalui pendidikan pengekangan hawa nafsu dan kembali kepada kesucian yang hakiki. Idul Fitri adalah hari kemenangan.

Umat Islam dibelahan bumi mana pun menyambut hari kemenangan ini dengan penuh suka cita. Bersyukur kepada Allah karena masih diberi nikmat bertemu dengan momen Idul Fitri dan diberi kekuatan sehingga sukses menjalankan ibadah puasa.

Anugerah dan rahmat Allah ini dimanfaatkan untuk menyempurnakan kefitrahan dengan meminta maaf kepada keluarga, teman, tetangga, kepada sesam muslim dan kepada non muslim agar bisa hidup rukun, damai, tentram dan bahagia. Inilah makna hakiki Idul Fitri.

Namun, tradisi yang berkembang belakangan ini telah menghilangkan esensi Idul Fitri itu sendiri. Banyak umat Islam merayakan hari raya lebaran justru dengan meluapkan nafsu keserakahan, padahal baru saja dilatih untuk mengekang nafsu tersebut.

Idul Fitri bukanlah pesta untuk meladeni nafsu setelah sebulan dikekang dan dikendalikan. Bukan pesta makan minum, sehingga yang tampak adalah perayaan Idul Fitri secara bungkusnya saja, sementara mutu dan relevansi pada aspek-aspek fundamental kemanusiaan terbaikan. Ia, sejatinya merupakan hari wisuda karena telah lulus berpuasa.

Semestinya, merayakan Idul Fitri tidak menghilangkan makna dan signifikansinya; spirit keagamaan, kebangsaan, perwujudan perdamaian, dan perbaikan tatanan kemanusiaan. Out put dari pendidikan Ramadhan supaya tidak berbicara kotor, mencemooh, berdusta, provokasi, adu domba dan lain-lain adalah dalam rangka itu semua. Supaya di dalam qalbu tumbuh kesadaran untuk perbaikan tatanan kemanusiaan.

Idul Fitri, dimana pada saat itu merupakan hari terakhir untuk pembayaran zakat fitrah, semestinya menumbuhkan kepedulian kepada sesama, memiliki solidaritas kemanusiaan yang utuh, dan terciptanya nilai-nilai kemanusiaan yang humanis- transformatif. Idul Fitri tidak diperingati hanya untuk menonjolkan romantisme belaka, tapi yang lebih penting adalah menampilkan tendensi empati-praktis. Sebuah aksi nyata hasil latihan puasa sebulan.

Idul Fitri dan Keindonesiaan Kita

Melihat fenomena yang menggejala akhir-akhir ini di negeri ini, dimana kebencian, provokasi, adu domba, permusuhan bahkan sampai tindakan terorisme jamak diketemukan, tentu Idul Fitri menjadi momentum terbaik untuk mengeliminir dan menghapus sifat-sifat buruk tersebut.

Idul Fitri semestinya dirayakan sebagai hari kemenangan dan usaha mempertahankan nilai spiritualitas yang telah dilatih selama bulan puasa, yaitu kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Taat menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan, serta tumbuhnya rasa empati dan persahabatan dengan sesama. Tidak terbenam oleh nafsu, menjauhkan prasangka, dan membakar sifat kebencian dan permusuhan.

Makna hakiki Idul Fitri tidak lain supaya kita menyambung dan mempererat silaturahmi; memperkuat persahabatan dan persaudaraan antar sesama tanpa memandang identitas dan latar belakang. Idul Fitri adalah hari kemenangan dari kemalasan beribadah, dari ketidakpedulian, ketidak adilan, dan permusuhan. Manusia yang fitrah atau suci adalah mereka yang tidak melakukan tindakan represif yang akan menimbulkan permusuhan dan perpecahan.

Idul Fitri bukan hanya perayaan karena telah mencapai “kesucian” dan peningkatan iman dan ketakwaan, lebih dari itu, ia mengandung spirit keagamaan untuk membangun solidaritas kemanusiaan kepada sesama. Iman dan ketakwaan tidak cukup hanya dengan giat beribadah, melainkan harus disertai dengan kesalehan sosial yang teraktualisasi dalam kehidupan nyata. Nabi seringkali mengisyaratkan pentingnya keseimbangan kesalehan spiritual dan kesalehan sosial tersebut dengan mengatakan: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormatilah tetangganya”, “hormatilah tamunya”, dan seterusnya.

Kembali menjadi fitrah berarti memiliki semangat kepedulian yang diimplementasikan melalui solidaritas terhadap orang miskin, orang lemah, dan yang terbelakang. Ada rasa iba bergelayut dalam hati melihat mereka yang menderita dan mereka yang miskin papa. Hati yang fitrah adalah yang di dalamnya tidak menyimpan amarah, kebencian, permusuhan dan kekerasan.

Ucapan “Selamat Idul Fitri” sejatinya adalah ucapan selamat berbahagia karena telah berhasil menjadi suci kembali. Suci dari dosa dan meningkatnya ibadah kepada Allah dan hati suci dari amarah, kebencian, permusuhan dan kekerasan. Fitrah adalah suci dari segala sifat buruk yang dibisikkan oleh hawa nafsu.

Facebook Comments