Kemuliaan Syawal dan Bagaimana Silaturahmi Menjadi Vaksin Anti-Radikalisme

Kemuliaan Syawal dan Bagaimana Silaturahmi Menjadi Vaksin Anti-Radikalisme

- in Suara Kita
186
0
Kemuliaan Syawal dan Bagaimana Silaturahmi Menjadi Vaksin Anti-Radikalisme

Syawal menjadi bulan mulia dan istimewa bagi umat Islam, terutama di Indonesia. Pasca menjalani Ramadan dengan berpuasa sebulan penuh, umat Islam menyambut bulan Syawal sebagai semacam bulan perayaan. Perayaan atas kemenangan melewati Ramadan yang tentu penuh ujian. Dan perayaan atas kembalinya jiwa manusia ke fitrah alias kesucian.

Kegembiraan dan euforia umat menyambut bulan Syawal melahirkan berbagai ekspresi keberagamaan yang berkelindan dengan tradisi atau kearifan lokal Nusantara. Dalam konteks ini, kita mengenal tradisi bada kupat (lebaran ketupat) di sejumlah daerah yang mengandung makna dan filosofi mendalam. Di sejumlah daerah, tradisi lebaran ketupat dimaknai sebagai leburnya dosa-dosa baik dosa vertikal (kesalahan pada Allah) maupun dosa horisontal (kesalahan pada sesama anak adam).

Selain lebaran ketupat, bulan syawal juga identik dengan beragam peristiwa atau hajatan sosial, mulai dari halal bi halal berbasis jejaring trah keluarga, silaturahmi antar-individu di suasana lebaran, hingga kegiatan reuni, temu kangen, dan hal-hal sejenisnya. Ringkas kata, lebaran, Idul Fitri atawa bulan Syawal selalu identik dengan bulan pemaafan, pertemuan, dan persaudaraan.

Di bulan Syawal, keluarga, sanak, dan taulan yang jauh di rantau pulang untuk menyambung ikatan silaturahmi. Mudik menjadi sarana melepas penat rutinitas di kota-kota besar sekaligus menelusuri kembali titik muasal. Momen halal bi halal, silaturahmi, reuni, atau temu kangen menjadi sarana mengikat kembali simpul-simpul kekeluarganaan, persaudaraan, dan pertemanan yang barangkali sempat merenggang karena terpisah jarak dan waktu.

Makna Silaturahmi Lebaran

Jika merujuk ke akar maknanya, Syawal bermakna “peningkatan”. Diharapkan, di bulan Syawal ketakwaan umat meningkat setelah sebulan sebelumnya jiwa kita mengalami recharge (isi ulang) spiritual. Di masa lalu, semasa hidup Rasulullah, Syawal dianggap sebagai bulan mulia. Bahkan, ada anjuran untuk menyarungkan pedang ketika bulan Syawal yang diartikan sebagai perintah untuk menahan diri dari kekerasan dan peperangan.

Jika mengacu pada kultur keislaman di Nusantara, bulan Syawal ialah ajang untuk menjalin silaturahmi. Di permukaan, praktik silaturahmi ini bisa jadi tampak sepele. Ketika keluarga atau sejawat saling kunjung, beranjang-sana, bercengkerama, sembari menikmati hidangan lebaran dari permukaan seolah tampak artifisial alias tanpa makna. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Silaturahmi pada dasarnya memiliki implikasi lebih luas dari sekadar itu.

Implikasi pertama silaturahmi ialah pada kondisi psikologis individu itu sendiri. Dalam banyak riset disebutkan bahwa orang yang gemar bersosialisasi dalam artian bertemu dan berinteraksi dengan orang lain memiliki kesehatan mental yang lebih baik ketimbang individu yang soliter dan asosial. Silaturahmi dengan demikian bisa menjadi semacam sarana healing untuk menjaga kesehatan mental dan terhindar dari perasaan teralienasi (terasing) yang rawan menimbulkan depresi.

Silaturahmi Membentuk Sistem Imunitas dari Radikalisme

Kedua, dari sisi sosial silaturahmi dapat berimplikasi pada terciptanya jejaring dan relasi antar-individu atau kelompok yang solid. Perjumpaan atau pertemuan fisik; tatap muka, berinteraksi, dan berkomunikasi pada dasarnya ialah mekanisme paling purba dari bagaimana manusia membangun peradaban. Disebutkan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens bahwa keberhasilan homo sapiens bertahan dari kepunahan dan bahkan menjadi pemuncak peradaban salah satunya ditentukan karena kemampuannya dalam mengkomunikasikan imajinasinya secara tepat.

Ketiga, silaturahmi dapat mengikis kecurigaan dan kesalahpahaman yang kerap terjadi terutama di era digital seperti sekarang. Di era digital, sebagian besar manusia umumnya berinteraksi secara virtual dengan berbagai media komunikasi seperti media sosial. Seringkali interaksi virtual itu menimbulkan kesalahpahaman dan kecurigaan. Momen silaturahmi secara langsung di bulan Syawal kiranya bisa menjadi sarana untuk menjernihkan kecurigaan dan kesalahpahaman tersebut.

Keempat dan ini yang terpenting, silaturahmi dapat memupuk spirit persaudaraan (ukhuwah) sekaligus membangun budaya saling mengenal antar-sesama. Mengenal bukan dalam artian dangkal seperti mengenal nama, asal-usul, dan hal sejenisnya. Namun, lebih pada mengenal watak dan karakter orang lain. Dengan mengenal watak dan karakter orang lain, diharapkan kita akan terbiasa dengan beragam perbedaan yang ada dalam kehidupan sosial maupun beragama.

Dalam konteks yang lebih luas, silaturahmi berimplikasi pada terbangunnya sistem imunitas atau kekebalan individu dari virus kebencian, intoleransi, dan radikalisme. Sederhananya, orang yang ahli silaturahmi sulit untuk diprovokasi dengan ujaran kebencian, diajak melakukan tindakan intoleran, apalagi diinfiltrasi oleh ideologi radikal. Di titik inilah pentingnya kita menjaga tradisi silaturahmi di momen Idul Fitri atau bulan Syawal. Melestarikan tradisi silaturahmi lebaran pada dasarnya ialah merawat ikatan kebangsaan agar terhindar dari perpecahan.

Facebook Comments