Kenali Lima Gejala Anak Terpapar Virus Radikalisme

Kenali Lima Gejala Anak Terpapar Virus Radikalisme

- in Suara Kita
454
0
Kenali Lima Gejala Anak Terpapar Virus Radikalisme

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa virus radikalisme kini menyebar secara lintas sosiologis, dan demografis. Dari sisi sosiologis, virus radikalisme tidak hanya menyasar kelompok kalangan bawah, namun juga menjamur di kelompok kelas-menengah atas. Sedangkan secara demografis, virus radikalisme kini tidak hanya menyasar orang dewasa, namun juga anak-anak.

Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2019 lalu mendapati fakta bahwa banyak sekolahan setingkat PAUD, TK, dan SD yang mengajari anaknya berpikir intoleran bahkan radikal. Penelitian itu seolah dikonfirmasi oleh hasiil riset Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (Lakip) yang menyebutkan bahwa sekitar 50 persen pelajar memiliki kecenderungan bersikap intoleran dan radikal.

Ironisnya lagi, ada sekitar 80 anak yang tercatat terlibat aksi teror selama satu dekade terakhir. Ini menunjukkan bahwa penyebaran radikalisme di kalangan anak-anak sudah sangat mengkhawatirkan. Ironisnya, banyak orang tua dan masyarakat yang tidak menyadari anaknya terpapar ideologi radikal. Sehingga kita acapkali kaget mendengar berita anak-anak terlibat aksi teror. Maka, penting kiranya mendeteksi gejala-gejala paparan radikalisme di kalangan anak-anak sejak dini sehingga bisa dilakukan langkah preventif.

Gejala anak terpapar radikalisme kiranya dapat diidentifikasi dari setidaknya lima hal. Pertama, adanya gejala menarik diri dari orang tua, keluarga, teman, komunitas, dan masyarakat. Gejala pertama anak yang terpapar virus radikalisme biasanya menunjukkan sikap anti-sosial. Bahkan, anak-anak yang tadinya ekstrovert, terbuka, dan periang pun bisa tiba-tiba berubah menjadi introvert, tertutup, dan pendiam. Hal ini menandai adanya pergolakan batin yang terjadi akibat menerima pemikiran dan ideologi yang nisbi baru.

Kedua, paparan ideologi radikal ke anak-anak biasanya mewujud pada gejala meningkatnya kesalehan individual dalam beragama yang dibarengi dengan menguatnya sikap eksklusif dan intoleran. Inilah tahapan yang dinamakan sebagai konservatisme. Yakni fase ketika individu mengalami peningkatan dalam hal keimanan, namun berdampak pada pola pikir dan sikap keberagamaan yang sempit, kaku, dan anti-perbedaan.

Ketiga, menunjukkan sikap resisten alias melawan terhadap tata nilai sosial, keagamaan, dan kebudayaan yang dianut oleh keluarga serta masyarakat sekitar. Anak-anak yang terpapar radikalisme umumnya mulai menyalahkan cara beragama orang tua dan masyarakat sekitar, bahkan tokoh agama. Tidak jarang, anak-anak yang terpapar radikalisme sampai mengkafirkan orang tua mereka dan memutus hubungan dengan keluarga.

Keempat, gejala radikalisme pada anak juga mewujud pada munculnya sikap kebencian pada pemerintah. Tiba-tiba saja anak sangat peduli pada isu-isu besar seperti politik, ekonomi, hukum, dan sebagainya lalu rajin berkomentar dengan tendensi menyudutkan pemerintah. Hal ini terutama terjadi di media sosial yang telah menjadi dunia kedua bagi anak-anak milenial dan gen-z. Tendensi membenci pemerintah ini muncul atas persepsi bahwa pemerintah bersikap zalim terhadap umat Islam.

Kelima, anak-anak yang terpapar radikalisme umumnya juga menunjukkan sikap benci dan anti pada ritual keagamaan yang berkelindan dengan tradisi atau budaya setempat. Lebih dari itu, anak yang terpapar radikalisme biasanya juga akan anti-pada kearifan lokal Nusantara lantaran hal itu dianggap tidak sesuai dengan kaidah agama. Sikap yang demikian ini merupakan konsekuensi logis dari doktrin radikalisme yang menghendaki pemurnian ajaran Islam.

Selain mengidentifikasi gejala, penting kiranya bagi masyarakat untuk tahu dari mana pintu masuk radikalisme ke kelangan anak-anak. Selama ini, transmisi paham radikal ke anak terjadi melalui setidaknya dua pola. Pertama, pola patronase, yakni anak-anak didoktrin paham radikal oleh patron-patron mereka, mulai dari orang tua, guru, atau tokoh agama yang menjadi idola anak-anak. Kedua, pola self-radicalisation alias radikalisasi diri yang terjadi karena anak-anak mengonsumsi konten-konten radikal terutama di internet dan media sosial.

Pola patronase dan self-radicalisation inilah yang selama ini menjadi rantai penyebaran radikalisme di kalangan anak-anak. Maka, penting bagi orang tua untuk memastikan anaknya memiliki lingkungan pergaulan yang tepat, bersekolah di lembaga yang berwawasan moderat, serta belajar agama ke sumber-sumber yang otoritatif. Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini kiranya bisa menjadi momentum membangun kesadaran pentingnya melindungi anak dari paparan virus radikalisme.

Facebook Comments