Kenali Tiga Ciri Masjid yang Rentan Terpapar Radikalisme

Kenali Tiga Ciri Masjid yang Rentan Terpapar Radikalisme

- in Suara Kita
227
0

Isu radikalisme di masjid kembali mencuat pasca pernyataan Ketua BNPT Komjen. Pol. Boy Rafli Amar yang menghimbau umat Islam waspada terhadap propaganda radikalisme di tempat ibadah (masjid) dan mimbar keagamaan. Sayangnya, himbauan ini justru dipelintir sebagian kalangan sebagai sikap Islamofobik. Tuduhan yang jelas menyesatkan mengingat fenomena masjid radikal ini memang sudah menjadi perhatian pemerintah sejak lama.

Pada tahun 2018 misalnya, LP3M (Lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) merilis hasil penelitian yang menyebutkan bahwa ada 41 masjid di lingkup kementerian, lembaga, serta BUMN yang terindikasi terpapar radikalisme. Hasil penelitian ini lantas diamplifikasi oleh BIN (Badan Intelejen Negara). Ini artinya, pemerintah telah memiliki data terkait masjid-masjid yang terindikasi terpapar radikalisme.

Sayangnya memang, di level akar rumput masyarakat (umat) belum memiliki daya sensitivitas yang tinggi untuk mengenali mana saja masjid-masjid yang menjadi sarang penyebaran ideologi radikal. Jika diamati dari permukaan, masjid radikal itu memiliki setidaknya – ciri.

Pertama, masjid tersebut cenderung eksklusif, dalam artian tidak menerima jamaah dari kelompok lain alias hanya terbuka untuk golongannya sendiri. Masjid yang demikian ini biasanya didirikan oleh komunitas tertentu. Di dalamnya aktivitas keagamaan tidak hanya seputar ibadah, namun juga menjadi ruang indoktrinasi dan kaderisasi paham atau gerakan yang bertentangan dengan keindonesiaan.

Corak masjid yang seperti ini banyak ditemui di kota-kota besar yang notabene masyarakatnya cenderung individualis. Konsekuensi dari gaya hidup individualis ini ialah kurangnya perhatian masyarakat akan keberadaan tempat ibadah yang eksklusif, dan menyimpang dari aturan hukum serta konstitusi.

Kedua, corak khotbah jumat di masjid tersebut seringkali berisi ujaran kebencian dan provokasi, baik terhadap kelompok agama lain, aliran lain, maupun terhadap pemerintah. Seringkali pula, khotbah jumat dan mimbar keagamaan lainnya diwarnai oleh pembelokan atau pelintiran ayat Alquran maupun hadist yang bertujuan memecah-belah dan mengadu-domba umat.

Fenomena yang demikian ini sebenarnya bisa ditemui di masjid mana pun, baik masjid yang berafiliasi dengan ormas, bahkan masjid yang dibawah naungan pemerintah maupun BUMN. Dalam hal ini, cara pandang keagamaan khotib atau penceramah agama yang didaulat naik ke mimbar akan menetukan corak masjid tersebut. Maka, penting untuk memilih khotib atau penceramah agama yang berkarakter moderat dan nasionalis.

Ketiga, ciri masjid terpapar radikalisme ialah masjid tersebut kerap dijadikan sebagai basis gerakan politik identitas. Masjid yang demikian ini biasanya memiliki afiliasi dengan parpol atau kekuatan politik tertentu yang gemar memainkan sentimen politik identitas. Biasanya, masjid yang demikian ini menjadikan mimbar khotbah dan panggung kegiatan keagamaan sebagai media propaganda dan kampanye politik. Tujuannya ialah untuk mendukung kekuatan atau elite politik tertentu sembari mendelegitimasi pemerintahan yang sah. Di titik ini, radikalisasi masjid pada dasarnya hampir sama dengan politisasi masjid.

Praktik yang demikian ini marak terjadi belakangan ini di Indonesia. Terutama pasca panasnya kontestasi politik di Pilkada DKI Jakarta 2017 yang diwarnai politik identitas dan politisasi agama. Setelah momen tersebut, masjid dan mimbar keagamaan kerap dijadikan sebagai media untuk mengamplifikasi kritik berbalut kebencian pada pemerintah.

Mengenali ciri masjid yang terpapar virus radikalisme ini penting. Bagi pemerintah, mengenali ciri masjid radikal penting sebagai bagian dari pendataan dan pemetaan. Pemerintah sebagai pemegang otoritas memiliki kepentingan untuk mendata dan memetakan masjid-masjid yang terindikasi terpapar radikalisme. Data itu diperlukan untuk menyusun kebijakan yang efektif dan efisien.

Sedangkan bagi umat Islam, mengenali ciri masjid radikal ini penting sebagai semacam pedoman agar lebih selektif dalam memilih khotib atau penceramah agama. Umat Islam memiliki tanggung jawab untuk menjaga masjid dan mimbar keagamaan agar tetap steril dari narasi intoleransi dan radikalisme. Di saat yang sama, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban keislaman.

Arkian, kita tentu sepakat bahwa pada hakikatnya tidak ada masjid atau mimbar agama yang radikal. Yang menjadikan masjid atau mimbar agama itu radikal ialah khotib atau penceramahnya. Maka, kemampuan selektif umat dalam memilih khotib serta penceramah sangat vital dalam menentukan wajah atau corak masjid dan mimbar keagamaan.

Facebook Comments