Kenapa Akhirnya Abu Bakar Ba’asyir Menerima Pancasila? Inilah Pelajaran Penting

Kenapa Akhirnya Abu Bakar Ba’asyir Menerima Pancasila? Inilah Pelajaran Penting

- in Suara Kita
200
0
Kenapa Akhirnya Abu Bakar Ba’asyir Menerima Pancasila? Inilah Pelajaran Penting

Siapa yang tidak kenal Abu Bakar Ba’asyir? Tokoh malang melintang di gerakan Islam politik sejak Orde Baru. Pernah ditahan dan pernah pula melarikan diri ke Malaysia. Tokoh sekaligus ideolog kelompok radikal yang sangat disegani. Penentang keras ideologi Pancasila dengan gairah membangun negara Islam.

Setelah bebas dari penjara tidak banyak atensi diberikan kepada tokoh ini. Baru-baru ini Pendiri Ponpes Al-Mukmin Ngruki Sukoharjo ini mengakui Pancasila sebagai dasar negara. Dalam sebuah video yang viral Ba’asyir menegaskan : Indonesia berdasar Pancasila itu mengapa disetujui ulama, karena dasarnya tauhid, Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini pun pengertian saya terakhir.

Pernyataan ini sangat mengejutkan karena sejak dulu Ba’asyir merupakan tokoh yang menolak tegas bahkan menganggap Pancasila sebagai syirik. Sebagaimana diketahui bahwa Ba’asyir pernah ditangkap di era Orde Baru dengan tuduhan menghasut orang untuk menolak asas tunggal Pancasila serta melarang santrinya melakukan hormat bendera. bersama dengan Sungkar, Ba’asyir pernah diganjar hukuman Sembilan tahun penjara.

Catatan berikutnya, Ba’asyir banyak bergelut dengan gerakan radikal terorisme. Setelah mendirikan Jamaah Islamiyah saat pengasingan di Malaysia, Ba’asyir kembali ke Indonesia dengan merintis Majelis Mujahidin Indonesia dan Jamaah Ansharut Tauhid. Keterkaitan dengan tindak pidana terorisme di Indonesia pun sangat lekat dengannya. Dari kasus Bom Bali hingga pendanaan kelompok bersenjata di Aceh.

Hampir banyak usia Ba’asyir dihabiskan di dalam penjara. Konsistensi pemikirannya tentang Islam, tauhid dan politik telah membentuk karakter pribadinya yang tegas menolak sistem yang dianggap tidak sesuai. Pancasila dianggap bertentangan dengan Islam dan merupakan bentuk kesyirikan.

Hampir semua kelompok radikal terorisme di Indonesia juga mempunyai keyakinan yang sama tentang dasar negara. Pancasila thagut, pemerintah kafir dan Indonesia darul harb adalah bagian dari mindset kelompok teror. Karena itulah, mereka menganggap penyerangan terhadap aparat, aksi teror dan kekerasan di negeri ini dianggap absah karena sebagai daerah perang.

Pemahaman yang berawal dari tidak sepakat dengan dasar negara adalah muara dari gerakan ini untuk merubah sistem secara fundamental. Lalu, apa dampak dari penerimaan Ba’asyir terhadap Pancasila?

Penegasan ini menurut saya sangat berdampak kuat terhadap pola pikir kelompok radikal selama ini. Kepercayaan baru Ba’asyir tentang Pancasila yang mempunyai dasar tauhid akan merubah cara pandang beberapa kelompok yang selama ini getol mengkafirkan Pancasila. Ba’asyir secara tegas mengatakan pengertian tauhid dalam Pancasila ini sebagai pengertian terakhirnya dalam memahami dasar negara ini.

Pelajaran lain yang harus diambil dari penerimaan Ba’asyir terhadap Pancasila adalah kerendahan hatinya dengan berhusnuddzon terhadap para ulama pendiri bangsa. Menurutnya, tidak mungkin para ulama pendiri bangsa menyetujui Pancasila jika memang dianggap syirik dan bertentangan dengan Islam. Mayoritas ulama sebagai ijma’ telah menyapakati dasar negara ini. Niat para ulama pastilah ikhlas, begitu menurut Ba’asyir.

Penolakan terhadap Pancasila sebagai dasar negara telah melahirkan banyak gerakan di negeri ini dalam bentuk yang ekstrem. Gerakan politik atas nama agama kerap menjadi sandungan besar dalam merajut persaudaraan kebangsaan. Teror, kekerasan dan konflik telah terjadi atas nama kebencian terhadap dasar negara.

Barangkali ini bisa mengkahiri sebuah narasi yang tak kunjung usai yang terus menerus membenturkan Pancasila dan agama. Sebagaimana dipahami oleh Ba’asyir, jika dipelajari selanjutnya dan lebih dalam kenapa ulama menyetujui dasar negara ini tentu adalah bagian yang harus diikuti oleh para generasi saat ini. Tidak ada lagi perdebatan yang selalu diruncingkan untuk membenturkan agama dengan negara dan Islam dengan Pancasila.

Saya pribadi menilai penghargaan terhadap ijtihad pendiri bangsa dari kalangan ulama yang dinyatakan tegas oleh Ba’asyir merupakan pelajaran penting bagaimana generasi saat ini juga menghargai jasa-jasa mereka. Generasi muda harus belajar tentang penghormatan dan penghargaan terhadap ijtihad dan jihad para ulama terdahulu dalam membangun bangsa ini.

Facebook Comments