Kepahlawanan di Era Milenial dan Militansi Menangkal Ideologi Radikal

Kepahlawanan di Era Milenial dan Militansi Menangkal Ideologi Radikal

- in Suara Kita
1087
0
Kepahlawanan di Era Milenial dan Militansi Menangkal Ideologi Radikal

Penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan dapat dibaca dari setidaknya dua sudut pandang. Pertama, sudut pandang yang spesifik, yakni bahwa Hari Pahlawan ialah monumen sejarah untuk mengabadikan momen Perang Surabaya di medio November 1945. Perang Surabaya antara pejuang Republik Indonesia dan tentara Sekutu dan NICA merupakan fragmen penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa.

Kedua, sudut pandang yang lebih luas, yakni bahwa Hari Pahlawan ialah sebuah momen untuk membangkitkan kesadaran sejarah kita akan jasa para pahlawan. Lebih dari itu, Hari Pahlawan ialah sebuah upaya untuk membangkitkan gairah anak bangsa dalam meneladani sikap dan laku para pahlawan terdahulu. Sudut pandang kedua inilah yang kiranya harus kita elaborasi lebih lanjut.

Seperti kita lihat, pasca berakhrinya era Orde Baru 1998, bangsa Indonesia mengalami semacam kekosongan ideologi. Dicabutnya aturan tentang asas tunggal Pancasila telah membuka jalan bagi kebangkitan ideologi-ideologi lain. Salah satu yang paling membahayakan ialah bangkitnya ideologi radikal berlatar agama. Ironisnya, di saat yang sama bangsa Indonesia juga mengalami semacam defisit keteladanan dan krisis idola. Hal itu dilatari oleh adanya keterputusan sejarah terutama di kalangan generasi muda.

Kaum Muda dan Sikap Permisif pada Ideologi Radikal

Kekosongan ideologi dan keterputusan sejarah itu lantas membuat anak muda begitu permisif terhadap penetrasi ideologi radikal berbaju agama. Bahkan, tidak sedikit anak muda yang terpapar ideologi radikal dan menjadi bagian dari gerakan terorisme. Hal itu merupakan fenomena yang mengkhawatirkan. Tersebab, kaum muda merupakan kelompok yang selalu berpengaruh signifikan dalam milestone sejarah perjalanan bangsa. Apa jadinya bangsa ini jika kaum mudanya tidak lagi setia pada garis ideologi bangsa dan tidak memiliki ikatan historis dan psikologis dengan para pahlawan terdahulu?

Maka, peringatan Hari Pahlawan kiranya harus didesain sedemikian rupa agar tidak berakhir menjadi selebrasi tahunan yang bersifat seremonial dan simbolik. Peringatan Hari Pahlawan idealnya didesain dan difokuskan untuk membangkitkan minat kaum muda milenial mengenal sejarah pahlawan dan menggali inspirasi kepahlawanan yang relevan diterapkan di era sekarang. Di era multimedia, upaya membangkitkan minat kaum muda pada sejarah kepahlawanan dapat dilakukan dalam berbagai macam cara sekaligus media. Misalnya lomba orasi kepahlawanan, lomba esai tentang pahlawan, atau kompetisi film pendek bertema kepahlawanan. Model indoktrinasi sejarah pahlawanan sebagaimana pernah dipraktikkan oleh Orde Baru kiranya sudah tidak relevan bagi generasi muda milenial.

Gerakan Kolektif Membangkitan Militansi Menangkal Radikalisme

Intinya, harus ada gerakan kolektif yang dimotori oleh pemerintah dan jaringan masyarakat sipil untuk membangkitkan gairah milenial dalam meneladani inspirasi kepahlawanan. Utamanya membangun kesadaran bahwa salah satu bentuk meneladani inspirasi kepahlawanan di era sekarang ialah dengan bersikap militan dalam membendung arus ideologi radikal. Mengapa? Karena ideologi radikal itulah musuh negara dan bangsa yang sesungguhnya saat ini, dan bukan yang lain. Jika diidentifikasi, tidak ada ancaman sosiologis dan politis yang lebih berbahaya ketimbang apa yang dihadirkan oleh paham dan gerakan radikalisme-terorisme.

Militansi kaum milenial dalam membendung arus radikal ialah wujud komitmen dan sumbangsih tertinggi yang bisa dilakukan saat ini. Kaum milenial tentu bebas berkiprah di ranah mana saja dan memilih profesi apa saja. Namun, satu hal yang tidak boleh lupa, bahwa kaum muda milenial memiliki kewajiban untuk menjaga NKRI dari musuh-musuh yang mengancamnya. Inspirasi kepahlawanan di era milenial ini idealnya mewujud pada komitmen untuk membendung arus ideologi radikal.

Mengapa harus kaum milenial yang menjadi obyek dalam hal ini. Pertama, karena kaum milenial memiliki jumlah populasi yang besar dan hal ini tentu strategis dalam menentukan keberhasilan sebuah gerakan. Kedua, kaum milenial dikenal produktif dan inovatif serta melek teknologi. Seperti kita tahu, arus ideologi radikal belakangan ini banyak mengalir di ruang-ruang digital (internet dan media sosial).

Terakhir, karena kaum milenial juga menjadi sasaran utama rekrutmen dan indoktrinasi oleh kaum radikal. Maka, ketika kaum milenial memiliki kesadaran militan untuk melawan radikalisme, kecil kemungkinan mereka akan terpapar ideologi tersebut. Arkian, peringatan Hari Pahlawan ini kiranya bisa membuka ruang pemaknaan baru bagi kaum muda milenial. Yakni bahwa kepahlawanan ialah etos perjuangan yang tidak kenal ruang dan waktu. Setiap orang bisa menjadi pahlawan bagi zamannya masing-masing. Di zaman sekarang, menjadi pahlawan ialah menjadi yang terdepan dan paling militan dalam menangkal ideologi radikal.

Facebook Comments