Kepala BNPT Memberikan Warning Propaganda di Masjid, Inilah Fakta Potensi Radikalisasi

Kepala BNPT Memberikan Warning Propaganda di Masjid, Inilah Fakta Potensi Radikalisasi

- in Suara Kita
358
1

Tidak ada masjid radikal, begitu pula kampus radikal atau tempat mulia lainnya. Namun, penting diketahui bahwa ada beberapa tempat strategis yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan propaganda dan narasi radikalisme kepada masyarakat. Masjid tempat mulia, tetapi mereka mengkotori dengan khutbah yang memecahbelah masyarakat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada konferensi pers (20/6) memberikan kembali warning tentang potensi keterpaparan Apartur Sipil Negara (ASN) terhadap propaganda kelompok radikal. Ia menemukan adanya rumah ibadah di lingkungan pemerintahan yang dijadikan tempat penyebaran propaganda radikal.

Pernyataan ini pun mengundang orang yang tidak membaca secara penuh dan hanya mengandalkan emosi memframing seolah pernyataan islamofobia. Sejatinya, pernyataan ini warning agar masyarakat waspada karena kerapkali kelompok radikal ini memanfaatkan ruang masjid yang suci dengan ceramah yang kotor memecah belah masyarakat. Tidak percaya?

Persoalan ini bukanlah hal baru. Kegelisahan ini sebenarnya sudah lama dirasakan oleh beberapa ormas besar di Indonesia, sebutlah NU dan Muhammadiyah. Penetrasi aktor dan infiltrasi narasi radikal di ruang-ruang masjid bahkan kelompok ini merebut masjid sudah menjadi problem lama. Masjid dikuasi oleh kelompok yang menarasikan perpecahan dengan narasi keagamaan.

Karena itulah, NU mengeluarkan kebijakan yang mengupayakan masjid-masjid yang ada di bawah pengaruh mereka tidak terafilaisi pemikiran radikal. Pada Bahtsul Masail PB NU tahun 2007 merekomendasikan perlunya sertifikasi masjid-masjid NU. Begitu pula, PP Muhammadiyah mengeluarkan surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah No 149/Desember 2006 intinya agar hasil amal usaha Muhammadiyah tidak direbut kelompok radikal.

Tidak hanya berhenti di situ, fakta masjid dijadikan ruang dan potensi menyebarkan narasi radikal dan memecah belah juga sudah lama ditemukan dalam survei. Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, antara tahun 2008-2009 melakukan riset dengan judul “Pemetaan Ideologi Masjid di DKI Jakarta” dan “Pemetaan Ideologi Masjid di Solo”. Penelitian di Jakarta menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode  survei atas 250 masjid.

Hasilnya memang sangat mengejutkan dan mungkin akan dipandang “islamofobia” padahal sejatinya adalah sebuah fakta. Hasil penelitian itu menyebutkan opini dan pandangan takmir masjid sebanyak 45 % umat wajib mendirikan negara Islam, 32 % umat Islam wajib memperjuangkan khilafah dan 14 % pemerintah yang tidak menerapkan syariah wajib diperangi. Data-data ini berbicara bagaimana sejatinya ruang masjid sangat potensial dimanfaatkan aktor dan narasi yang memecahbelah persatuan.

Penceramah Abdul Somad pada pengajian Akbar yang diselenggarakan Dewan Masjid Indonesia (DMI) di masjid Istiqlal 2018 pernah menyatakan masjid yang penceramahnya menyampaikan ujaran kebencian hanya 6 persen. Somad mengakui data itu didapatkan dari riset tim DMI. Artinya, penceramah seperti itu dengan memanfaatkan ruang khutbah masjid adalah nyata, bukan opini islamofobia. Bahkan menurut Somad menyarankan jika menemukan penceramah seperti itu masyarakat boleh memprotes dan mengiterupsi langsung.

Kembali pada pernyataan kepala BNPT tentang potensi ASN terpapar paham radikal sejatinya adalah sebuah warning dan peningkatan kewaspadaan agar masyarakat juga kritis terhadap fenomena ini. Tentu perlu kebijakan pemerintah dan negara untuk mengembalikan masjid yang mulia agar tidak terkotori kembali oleh narasi kebencian dan pemecahbelah.

Satu hal penting bahwa memberikan warning agar pengurus masjid, jamaah masjid dan stakeholder masjid berhati-hati terhadap munculnya aktor dan narasi yang bisa mengotori kemuliaan masjid bukan warning yang islamofobia. Justru, masjid harus kembali menjadi tempat yang bisa mencerdaskan keagamaan dan persatuan umat, bukan tempat yang dimanipulasi kelompok tertentu untuk memecahbelah atas nama agama.

Facebook Comments