Kerelaan Pada Pancasila dan Nasib Para Libertarian Agama

Kerelaan Pada Pancasila dan Nasib Para Libertarian Agama

- in Narasi
418
0
Kerelaan Pada Pancasila dan Nasib Para Libertarian Agama

Take me to the magic of the moment

On a glory night

Where the children of tomorrow dream away

In the wind of change

Wind of Change, Scorpions           

Radikalisme dan terorisme di Indonesia, pada dasarnya, tak pernah berwajah tunggal. Dari berbagai kasus yang ada mereka memiliki banyak perbedaan. Taruhlah, untuk merujuk organisme terorisme internasional dimana organisasi-organisasi terorisme di Indonesia berinduk, al-Qaeda dan IS, pada praktiknya keduanya memiliki perbedaan dalam menentukan target teror.

Al-Qaeda, pada kasus terorisme yang dilakukan para simpatisan dan anggota JI, tak melakukan teror di daerah yang notabene muslim. Fakta lain yang tersingkap, kebanyakan anggotanya minimal bisa mengaji atau tak buta huruf-huruf Arab. Bagi saya, fakta sekecil kebisaan dalam membaca al-Qur’an ini penting tersebab organisasi terorisme lainnya hanyalah para penderita “cacat mental” yang hanya merayakan kekerasan belaka. Saya pernah melabeli mereka sebagai para penderita melankolia (Petaka Melankolia: Perihal Kebhinekaan, Kenusantaraan, Radikalisme dan Terorisme, Heru Harjo Hutomo, PT Nyala Masadepan Indonesia, Surakarta, 2022).

“Cacat mental” atau sejenis melankolia memang telah lama menjadi penanda dari para teroris yang berbaiat dan berinduk pada IS. Fakta yang ada menunjukkan bahwa mereka hanyalah para libertarian yang mencoba memakai tudung agama untuk merayakan kenikmatan hidup. Jihad telah lama mereka maknai dan praktikkan sebagai sebentuk jalan pintas ke surga. Maka tak musykil ketika kebanyakan mereka berasal dari dunia yang kelam: preman, alkoholik, penari bugil, pelacur, dst. Tentu ketika mereka memaknai jihad, yang disempitkan dalam bentuk aksi-aksi terorisme, sebagai sebentuk amaliah tertinggi, maka amaliah-amaliah lainnya seperti mengaji tak menjadi sebuah kemestian bagi para “pejuang Allah dan Islam.” Akhirnya, mereka mesti berani malu ketika ternyata kehidupan yang mereka jalani sama sekali bertolakbelakang dengan klaim keislamannya (Hikayat Binatang Beragama, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org).

Penerimaan salah satu dedengkot Islam radikal, Abu Bakar Ba’asyir, pada Pancasila memang merupakan buah dari perjuangan panjang pemerintah dan para pegiat kontra radikalisme dan terorisme dalam melakukan kontranarasi dan upaya hukum atas problem radikalisme dan terorisme di Indonesia. Sampai di sini, dengan mengingat posisi dan figur seorang amir, banyak pemerhati radikalisme dan terorisme di Indonesia kemudian bertanya, akankah fakta itu mengakhiri geliat radikalisme dan terorisme di Indonesia?

Ketika radikalisme dan terorisme itu dilihat dari perspektif ideologi, maka sebetulnya Islamisme dengan berbagai turunannya seperti khilafah dan daulah islamiyah telah lama berakhir. Bukan karena segala narasi agung, dalam pengertian Jean-Francoise Lyotard, sudah tak menggairahkan lagi secara politik, namun virus populisme, yang tak bernafsu pada segala hal yang rumit dan memberi ruang pada orang yang goblok untuk berbicara, telah membuat segala hal yang bersifat filosofis-ideologis serasa dongeng pangantar tidur belaka. Maka tak mengherankan, terutama menjelang pilpres 2019 hingga 2022 ini, banyak orang menyaksikan karnaval pelecehan akal sehat dengan tudung keagamaan mengecambah di Indonesia kontemporer.

Dengan demikian, fakta kerelaan dan keikhlasan Abu Bakar Ba’asyir dalam menerima Pancasila, yang baginya seturut dengan tauhid dalam agama Islam, adalah ibarat tumbangnya Tembok Berlin dan runtuhnya Uni Soviet atas memudarnya ideologi komunisme yang yang telah memudar sejak dekade 60-an. Namun, atas fakta itu, tak berarti radikalisme dan terorisme di Indonesia, yang bagi saya sama sekali tak bersifat ideologis, yang menyaratkan kepintaran dan keahlian, berakhir.

Dari berbagai kasus radikalisme dan terorisme pasca Bom Bali I dan II di Indonesia, kebanyakan pelaku terornya adalah para penderita “cacat mental” yang ternyata sama sekali jauh dari akal sehat dan background kehidupan agama yang kuat. Taruhlah dalam urusan pemakaian gunting ataupun klewang dan juga senjata Naruto untuk menciderai si target. Belum lagi fakta-fakta tentang masa lalu mereka yang sebagian besar kelam: penderita melankolia, patah hati, terbuang, preman, pelacur, alkoholik dan pengguna narkoba. Maka, dalam hal ini, orang seperti menghadapi para pelaku kriminal yang seolah-olah insyaf, padahal, demi tujuan baru yang berbungkus agama, mereka tetap saja seperti di masa lalunya.

Dengan demikian, penerimaan Abu Bakar Ba’asyir pada Pancasila, bisa jadi adalah sebuah akhir dari perjalanan radikalisme dan terorisme ideologis di Indonesia, namun bukanlah akhir dari perjalanan para libertarian agama yang pada dasarnya memang tak percaya pada apapun jua.

Facebook Comments