Kerentanan “Gen-Z” pada Radikalisme dan Urgensi Moderasi Beragama di Keluarga

Kerentanan “Gen-Z” pada Radikalisme dan Urgensi Moderasi Beragama di Keluarga

- in Suara Kita
171
0
Kerentanan “Gen-Z” pada Radikalisme dan Urgensi Moderasi Beragama di Keluarga

Dalam teori pembabakan generasi, generasi Z atau Gen-Z ialah generasi yang lahir di rentang tahun 1995 sampai 2010. Maka, relevan kiranya istilah Gen-Z ini dirujukkan pada anak-anak. Lantaran, seturut Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yang dimaksud dengan anak-anak ialah mereka yang belum genap berusia 18 tahun. Maka, dalam tulisan ini yang dimaksud dengan Gen-Z ialah anak-anak dan remaja yang berusia di bawah 18 tahun.

Gen-Z memiliki sejumlah ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan Gen-Y (milenial) atau Gen-X (baby boomer). Secara psikologis, mereka cenderung rawan terkena penyakit mental, stress, atau bahkan depresi. Gen-Z ini dikenal mudah galau dan kerap tidak memiliki ketangguhan dalam menyelesaikan masalah.

Di sisi lain Gen-Z juga dikenal cakap berkomunikasi dan bekerjasama. Mereka cenderung lebih adaptif dan bisa menjalin kolaborasi dengan individu atau kelompok yang berbeda identitas dan latar belakang. Pendek kata, secara pergaulan sosial, Gen-Z cenderung lebih inklusif.

Sikap inklusif itu yag membuat Gen-Z mudah menjalin pertemanan dengan siapa pun, terutama di dunia maya. Gen-Z memang dikenal sebagai generasi digital native, yakni kelompok yang memang sudah mengenal teknologi digital sejak mereka lahir. Bahkah, Gen-Z juga kerap disebut sebagai iGeneration alias generasi internet. Sikap terbuka di media sosial ini seperti pedang bermata dua.

Di satu sisi hal itu bisa berdampak positif, lantaran dengan sikap terbuka seseorang bisa menjalin relasi dengan siapa pun. Namun, di sisi lain hal itu juga bisa berdampak negatif. Sikap terbuka yang nyaris tanpa filter acapkali membuat Gen-Z dengan mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Semisal gaya hidup hedonisme, atau yang paling parah terpapar radikalisme.

Ciri lain dari Gen-Z yang sangat menonjol ialah mereka memiliki rasa ingin tahun dan ambisi yang besar serta kuat. Hal ini juga memiliki dua sisi, positif dan negatif. Rasa ingin tahu dan ambisi yang besar ini jike dikelola dengan baik akan melejitkan potensi Gen-Z. Sebaliknya, rasa ingin tahu dan ambisi yang kuat tanpa dibarengi dengan pengetahuan yang mumpuni tentu akan lebih banyak membawa mudarat.

Dalam konteks keagamaan misalnya, rasa ingin tahu yang besar tentang ajaran Islam kerap membuat Gen-Z belajar Islam dari sumber yang tidak kredibel, dan tidak otoritatif. Internet dan media sosial menjadi salah satu rujukan utama mereka dalam belajar Islam. Alhasil, banyak Gen-Z yang mengenal ajaran Islam hanya secara parsial, tidak komprehensif, namun memiliki ghirah atau ambisi yang kuat dalam membela agama.

Inilah celah bagi masuknya ideologi radikal ke Gen-Z. Ambisi atau ghirah keberagamaan yang sedemikian kuat, namun tidak diimbagi dengan pengetahuan keagamaan yang mumpuni menjadi semacam pintu masuk bagi infiltrasi paham intoleran-radikal. Maka, bukan hal yang mengejutkan jika paham radikal-ekstrem, bahkan terorisme saat ini dominan menyebar di kalangan anak dan remaja alias Gen-Z.

Pentingnya Moderasi Beragama di Keluarga

Kondisi kerentanan Gen-Z pada intoleransi dan radikalisme jelas tidak bisa dipandang sepele. Maka, penting kiranya kita melakukan langkah-langkah preventif agar Gen-Z tidak mudah terpapar virus radikalisme. Salah satunya ialah dengan mengintensifkan agenda moderasi beragama di lingkungan domestik alias keluarga. Moderasi beragama di keluarga ialah upaya membangun cara pandang dan praktik keagamaan yang berpedoman pada nilai-nilai toleransi, inklusivisme, dan pluralisme yang berbasis pada sistem kepengasuhan dalam keluarga.

Di sini peran orang tua sangat vital dalam menentukan paradigma dan praktik keberagamaan Gen-Z. Orang tua harus menjadi role model alias panutan dalam beragama. Maka, adalah hal yang mutlak bagi orang tua untuk menjadi umat beragama yang adaptif pada pluralitas agama dan budaya, setia pada dasar dan falsafah bangsa (Pancasila), serta terbuka pada kearifan dan tradisi lokal. Di saat yang sama, orang tua harus menerapkan model pengasuhan anak yang mendukung terwujudnya agenda moderasi beragama.

Model pengasuhan yang cocok untuk mewujudkan moderasi beragama di keluarga ialah yang mengedepankan sikap terbuka pada anak. Anak diposisikan sebagai mitra yang sejajar dan dilibatkan sebagai subyek dalam kepengasuhan, alih-alih semata diposisikan sebagai obyek yang selamanya dipaksa bersikap pasif. Orang tua harus menjadi teman anak dalam berdiskusi dan membahas persoalan atau isu-isu tertentu. Bagaimana pun, orang tua harus memberikan ruang untuk anak berpendapat dan mengekspresikan pandangannya. Cara ini dipandang penting untuk melatih anak dengan perbedaan pandangan sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam nalar fanatisme dan egoisme.

Facebook Comments