Kerentanan Mahasiswa Terpapar Radikalisme dan Pentingnya Menjadikan Kampus Sebagai Rumah Moderasi Beragama

Kerentanan Mahasiswa Terpapar Radikalisme dan Pentingnya Menjadikan Kampus Sebagai Rumah Moderasi Beragama

- in Suara Kita
175
0
Kerentanan Mahasiswa Terpapar Radikalisme dan Pentingnya Menjadikan Kampus Sebagai Rumah Moderasi Beragama

Kasus mahasiswa terlibat jaringan terorisme memang bukan hal baru. Namun, ditangkapnya mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, berinisial IA oleh Densus 88 Anti-Teror karena menjadi simpatisan ISIS membuka fakta-fakta lain. IA ialah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional yang dikenal cerdas dan ber-IPK di atas 3. Selain itu, sepak terjang IA dalam urusan terorisme tidak main-main. Di medsos, ia rajin mempropagandakan ajaran ISIS. Di dunia nyata, ia rajin menggalang dana untuk mendanai aksi teror.

Dan, dari penelusuran Polisi, IA juga menjalin komunikasi dengan anggota JAD. Dalam komunikasi itu terungkap mereka merencanakan aksi teror yang menyasar sejumlah kantor polisi dan fasilitas umum lainnya. Fakta ini menegaskan bahwa infiltrasi radikalisme dan terorisme di kalangan mahasiswa telah sedemikian akut. Mahasiswa memang menjadi salah satu kelompok masyarakat yang memiliki kerentanan nisbi tinggi untuk terpapar ideologi radikal-terorisme.

Di satu sisi, mahasiswa memang menjadi salah satu kelompok yang disasar oleh kelompok radikal dan jaringan teroris untuk direkrut dan dijadikan anggota. Posisi mahasiswa yang strategis dalam struktur sosial-politik menjadi magnet yang menarik kelompok radikal untuk menyusup. Sejarah telah mencatat, bagaimana organisasi keislaman bercorak konservatif seperti Ikhwanul Muslimin berhasil menancapkan dominasinya ke banyak negara muslim karena menyusup ke gerakan-gerakan mahasiswa di kampus.

Di sisi lain, secara psikologis mahasiswa dan kaum muda pada umumnya berada di fase pencarian akan identitas, termasuk identitas keagamaan. Mahasiswa umumnya memiliki rasa ingin tahu yang besar akan segala hal, termasuk ihwal keagamaan. Ironisnya, rasa ingin tahu ini kerap tidak terakomodasi oleh lingkungan terdekatnya; misalnya keluarga, pertemanan, atau pun kehidupan akademik di kampus. Konsekuensinya, mereka menuntaskan rasa ingin tahunya tersebut dengan bergabung ke gerakan-gerakan keagamaan yang acapkali memiliki kecenderungan intoleran, radikal, dan ekstrem.

Dalam konteks ini, kita tentu tidak bisa sepenuhnya menyalahkan oknum mahasiswa atas keterlibatannya dalam jaringan terorisme. Terjebaknya mahasiswa dalam gerakan terorisme harus diakui juga merupakan kegagalan kampus sebagai lembaga akademik dan keluarga sebagai institusi sosial. Kampus gagal menyediakan ruang akademik yang terbuka sehingga mahasiswa bisa menuntaskan rasa ingin tahunya tentang isu-isu politik keagamaan. Sedangkan keluarga gagal menjaga anggotanya dari pengaruh buruk lingkungan dan media sosial.

Rumah Moderasi Beragama, Benteng Kampus Melawan Radikalisme

Berkaca dari fenomena itu, gagasan mendirikan Rumah Moderasi Beragama di lingkungan Perguruan Tinggi Islam Negeri kiranya patut diapresiasi. Program Kementerian Agama ini patut disambut positif dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata di lapangan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa maraknya radikalisme dan terorisme yang menyusup ke kampus pada mulanya ialah berakar dari sikap permisif kita pada penyebaran ideologi ekstremisme beragama. Jika ekstremisme ialah racun, maka moderasi ialah anti-dote atau penawar yang bisa menyembuhkannya.

Rumah Moderasi Beragama di kampus tidak boleh hanya menjadi wacana, namun harus menjadi kerja nyata. Di titik ini, kampus perlu melibatkan stakeholder dari luar, misalnya pesantren, tokoh agama, dan tokoh publik. Kampus harus memiliki kebijakan yang tegas terkait penyebaran paham radikal-ekstrem di lingkungannya. Salah satunya ialah mempraktikkan pengawasan melekat pada lembaga-lembaga kemahasiswaan baik internal maupun eksternal. Tersebab, selama ini infiltrasi radikalisme-terorisme lebih banyak terjadi melalui lembaga-lembaga kemahasiswaan, mulai dari BEM, UKM, hingga LDK.

Selain melakukan pengawasan melekat, pihak kampus juga perlu menanamkan nilai Pancasila ke seluruh mahasiswa. Selain dari mata kuliah, nilai dan prinsip Pancasila kiranya bisa ditanamkan melalui kegiatan-kegiatan non-akademik lainnya. Ini artinya, kampus perlu mencari pendekatan lain (non-formal) dalam mentransformasikan nilai Pancasila ke mahasiswa. Misalnya, melalui pendekatan budaya populer dengan melibatkan seni-budaya populer yang cenderung lebih mudah diterima oleh mahasiswa.

Ke depan, program Rumah Moderasi Beragama ini idealnya tidak hanya dikembangkan di kampus-kampus Islam negeri. Melainkan juga dikembangkan di seluruh perguruan tinggi. Data menunjukkan bahwa paham radikal-ekstrem justru lebih banyak berkembang di lingkungan perguruan tinggi negeri umum (non-keagamaan). Terutama menyasar mahasiswa di jurusan eksakta. Ini tentu patut menjadi perhatian bersama.

Kampus sebagai bagian dari gerakan civil society menempati posisi strategis dalam struktur sosial-politik kita. Keberpihakan kampus pada upaya penguatan komitmen kebangsaan akan sangat menentukan kokohnya ketahanan negara. Infiltrasi radikalisme-terorisme di kampus ialah ancaman serius yang juga harus disikapi secara serius.

Facebook Comments