Kesaktian Pancasila Menjadi Roh Penguat Dari Terpaan Radikalisme

Kesaktian Pancasila Menjadi Roh Penguat Dari Terpaan Radikalisme

- in Suara Kita
1068
0

Negara Indonesia mempunyai masa lalu yang kelam, yakni pemberontakan dan pengkhianatan ideologis pada bulan September. Kejadian yang kelam tersebut dijadikan pelajaran sebagai peningkatan kewaspadaan terhadap apapun dan siapapun yang mengusik keamanan, kedaulatan, dan perjanjian suci bangsa ini. Negara Indonesia memiliki pegangan atau pedoman, yakni Pancasila.

Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI telah berdiri lama, namun ada saja tindakan untuk merongrong kedaulatannya. Tindakan oleh suatu kelompok yang bertujuan untuk menggantikan ideologi pancasila dengan ideologi radikal. Biasanya kelompok tersebut berjubah kebaikan dengan mengeksploitasi ajaran agama (radikalisme kanan) atau kepentingan politik sekuler lainnya (radikalisme kiri).

Dalam website islamsantun.org, menyebutkan beberapa ideologi yang mengancam persatuan bangsa atau ideologi yang menyimpang dan harus diwaspadai. Pertama, Wahabisme. Ideologi tersebut menolak keanekaragaman madzab dan tafsir yang dapat memunculkan paham takfiri dan terorisme. Kedua, Khilafahisme. Ideologi ini mengutip ayat dan hadis yang telah dibungkus dengan cita rasa khilafah sehingga orang awam mudah terprovokasi. Ketiga, Komunisme. Walaupun ideologi ini merupakan produk ‘gagal’ atau pernah berjaya di masa keemasannya, yang mana ideologi komunis telah banyak ditinggalkan oleh pengagumnya, tetapi memasang kewaspadaan itu suatu keharusan agar tidak kecolongan. Keempat, Fanatisme SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). Sensitifitas SARA harus dijaga agar NKRI tetap lestari. Tutuplah ruang rapat-rapat dari ideologi-ideologi yang menentang Pancasila agar tidak memiliki celah sedikitpun untuk memecahbelahkan NKRI.

Negara Indonesia selalu memperingati hari kesaktian pancasila pada 1 Oktober. Kesaktian Pancasila dibuktikan dengan mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesaktian pancasila merupakan roh penguat dari berbagai terpaan-terpaan yang ada, salahsatunya terpaan radikalisme.

Sebagai penguat pemersatu bangsa, seharusnya dijaga, dirawat, dilestarikan dan dipertaahankan agar tidak melemah atau berkurang kekuatannya. Selain itu, nilai-nilai Pancasila perlu diestafetkan dari generasi ke generasi melalui bidang pendidikan. Namun biasanya para pelajar hanya menghafalkan sila pancasila tanpa memahami nilai-nilainya.

Di Negara Indonesia rawan mendapatkan terpaan radikalisme. Radikalisme memiliki pemahaman yang menginginkan pembaharuan sosial dan politik dengan bersikap ekstrem atau dengan cara kekerasan. Terpaan radikalisme dapat ditanggulangi dengan program deradikalisasi yang merupakan program Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Program ini bertujuan untuk menetralisir pemikiran-pemikiran radikalisme yang ada pada para teroris sehingga mereka bisa kembali menjadi masyarakat biasa seperti yang lainnya.

Radikalisme diibaratkan sebagai bom waktu, yang mana kapan saja dan di mana saja bisa meledak. Ledakannya dapat mengguncang atau mengancam keutuhan NKRI atau Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itulah para bangsa Indonesia harus mempertahankan Pancasila sebagai tameng melawan radikalisme.

Maraknya radikalisme di tanah air, pemerintah berupaya membuat kebijakan dan mempersiapkan payung hukum untuk memantau Warga Negara Indonesia (WNI ). Tidak semua paham radikalisme dilakukan dengan cara kekerasan, melainkan ada juga dengan cara menyusup yang berkedok pada agama. Sebagai WNI, harus memiliki tujuan yang sama dan bekerjasama dalam memberantas paham radikalisme demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dengan itulah, kesaktian pancasila harus kita pertahankan sebagai pedoman dalam hidup berbangsa dan bernegara. Dengan adanya pedoman, membuat hidup lebih tertata dan terarah. Selain itu, yang paling penting tidak mudah diombang-ambingkan oleh terpaan-terpaan radikalisme. Karena saat ini yang bahaya adalah paham radikalisme telah berjelajah di dunia maya dengan menyebarkan hoax. Masyarakat awam akan mudah terprovokasi jika tidak mempunyai pedoman dalam berbangsa dan bernegara.

Facebook Comments