Ketika Banser Menjaga Gereja: Bukan Bentuk Meyakini Akidah, Tetapi Toleransi Umat Beragama

Ketika Banser Menjaga Gereja: Bukan Bentuk Meyakini Akidah, Tetapi Toleransi Umat Beragama

- in Suara Kita
637
0
Ketika Banser Menjaga Gereja: Bukan Bentuk Meyakini Akidah, Tetapi Toleransi Umat Beragama

Di setiap akhir tahun, tepatnya pada tanggal 25 Desember, Banser selalu menjadi sorotan dan diperbincangkan. Pasalnya, karena mereka bersama aparat keamanan ikut menjaga dan mengamankan gereja dalam perayaan natal. Kritik tak henti mengalir di setiap momen tersebut. Kecaman, pengharaman dan tuduhan menggadaikan agama dilabelkan pada Banser. Padahal, ada dua kutub pendapat yang berbeda yang disampaikan oleh para ulama tentang hukum muslim ikut menjaga gereja.

Apa yang dilakukan Banser sejatinya berangkat dari kesadaran pluralisme mereka. Bagi mereka, menghormati dan menghargai keyakinan agama lain, sama sekali berbeda dengan meyakini akidah atau kebenaran agama tersebut. Prilaku ini muncul sebab adanya kesadaran mengakui perbedaan sebagai kenyataan tak terbantahkan dan kerukunan serta kedamaian adalah impian dan harapan.

Satu hal yang tidak disadari oleh sebagian masyarakat Indonesia, bahwa integrasi nasional belum rampung dan tuntas. Kebhinekaan Indonesia masih harus terus dijaga, dirawat dan diberdayakan. Kasus-kasus intoleransi yang intensitasnya masih sangat tinggi di Indonesia menunjukkan adanya ancaman besar terhadap integrasi bangsa dengan masyarakatnya yang plural.

Dalil Keabsahan Muslim Menjaga Gereja

Seperti telah dikatakan, para ulama berbeda pendapat tentang hukum muslim menjaga gereja, ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Kalau ada dua pendapat seperti ini, umat Islam boleh memilih salah satunya untuk diikuti dan tidak boleh menuduh sesat pada mereka yang ikut pendapat sebaliknya. Hal ini karena keduanya memiliki hujjah yang sama-sama kuat. Dan, yang paling bijak adalah memilih pendapat yang maslahatnya lebih besar.

Dalam konteks kebangsaan, apa yang dilakukan Banser menjadi teladan bagi umat Islam Indonesia menuju terciptanya integrasi bangsa di tengah realita Indonesia yang plural. Apalagi, media sosial seringkali dipenuhi tajamnya ekspresi perbedaan. Hal ini merupakan ancaman serius terhadap persatuan dan beresiko tinggi terciptanya intoleransi dan krisis kemanusiaan. Lebih jauh lagi, kalau dibiarkan bangsa ini terancam bubar. Dari sini bisa diketahui, Banser ikut menjaga dan mengamankan natal menyimpan maslahat kebangsaan yang sangat besar.

Kalau ingin lebih jelas tentang bolehnya muslim menjaga gereja bisa kita baca dalam kitab al Kasyful Bayan karya Abu Ishaq al Tsa’labi. Dalam kitab ini, mengutip perkataan Hasan Bashri, tempat ibadah ahli dzimmah (Yahudi dan Nasrani) dilindungi kerusakannya oleh orang mukmin. Keputusan hukum ini berdasar pada al Qur’an (al Hajj: 40).

Ibnu Jauzi dalam karyanya Ahkamu Ahlid Dzimmah menjelaskan bahwa Allah menitahkan kepada umat Islam untuk menjaga tempat ibadah yang diakui oleh syara’. Allah senang terhadap orang yang melindungi tempat ibadah agama lain tersebut, meskipun Allah membenci tempat ibadah tersebut. Lebih jelas lagi bisa dibaca dalam “Risalah Himayatul Kanais fil Islam (menjaga gereja dalam Islam) yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Mesir.

Belajar Kerukunan Umat Beragama dari Mesir

Pasca terjadinya tragedi kemanusiaan dibomnya salah satu gereja di Mesir tahun 2016 M silam, pemerintah Mesir mengutuk kekejaman yang dilakukan atas nama agama Islam tersebut karena dapat menciderai kerukunan antar umat beragama yang telah berjalan baik.

Supaya tragedi kemanusiaan seperti itu tidak berulang, dan untuk menyadarkan umat Islam supaya tidak terjebak oleh doktrin sesat yang menyimpan jauh dari ajaran Islam, pemerintah Mesir kemudian menerbitkan “Risalah Himayatul Kanais fil Islam (menjaga gereja dalam Islam).

Satu yang penting dari risalah ini adalah kebolehan umat Islam untuk ikut serta menjaga gereja dari ancaman dan teror. Pada muqaddimah, Menteri Agama Mesir, Muhammad Mukhtar Jumu’ah Mabruk memberikan sekapur sirih kata sambutan. Isinya, penting menampilkan wajah Islam yang toleran dan beradab. Semua masalah yang terjadi, terutama masalah keagamaan harus diselesaikan dengan cara yang bijak, bukan dengan kekerasan. Harapannya, untuk mengokohkan dasar-dasar atau prinsip kewarganegaraan secara komprehensif tanpa diskriminasi. Harus dijelaskan sejelas-jelasnya dasar-dasar otentik fikih tentang hidup bersama secara damai antar elemen bangsa tanpa membedakan; agama, ras, bahasa dan sebagainya.

Himayatul Kanais fil Islam yang menampilkan argumen bolehnya muslim ikut menjaga gereja ini ditulis oleh  Muhammad Salim Abi ‘Ashi, Abdullah al Najjar, Muhammad Jabali, Muhammad Nabi Ghanayim, Abdul Halim Mansur dan Majdi ‘Asyur serta ditahqiq oleh Syauqi ‘Allam, Mufti negara Mesir.

Membaca risalah ini akan membuka cakrawala berpikir kita tentang prinsip-prinsip universal dan keluasan ajaran Islam. Berbeda agama dan keyakinan tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Menjaga gereja seperti dilakukan Banser bukan meyakini akidah agama lain, melainkan toleransi dan kerukunan umat beragama.

Facebook Comments