Ketika Mantan Pelaku dan Korban Terorisme Berbicara Usulan Pembubaran Lembaga Anti Teror

Ketika Mantan Pelaku dan Korban Terorisme Berbicara Usulan Pembubaran Lembaga Anti Teror

- in Suara Kita
550
0
Ketika Mantan Pelaku dan Korban Terorisme Berbicara Usulan Pembubaran Lembaga Anti Teror

Dalam memperingati 19 tahun peristiwa Bom Bali ada petikan wawancara korban tindak pidana terorisme, Suyanto, ketika ditanya ihwal pembubaran Densus 88 sebagaimana diusulkan oleh seorang politisi senior kenamaan kontroversialnya, Fadli Zon. Seperti ini petikan tanggapannya :

“Para korban teroris semua menyatakan tidak setuju. Itu (yang mengusulkan) saya kira orang yang nggak waras kalau mengusulkan Densus 88 bubar. Saya catat, itu orang-orang yang nggak waras! Orang-orang yang terafiliasi dengan radikalisme,” (detik, 12/10/21).

Tanggapan lugas dan tegas ini menyiratkan ketidaksepakatan dengan usulan yang memang sengaja ingin menghebohkan itu apalagi dibingkai dengan narasi islamofobia. Apalagi dianggap terorisme hanya rekayasa yang nyata telah menimbulkan banyak korban. Sungguh sebuah statemen politik walaupun ingin menarik simpati politik dengan narasi islamofobia tetapi tidak memiliki empati yang dalam terhadap para korban.

Wajar, ketika korban aksi teror menegaskan dengan kata-kata usulan dari orang “nggak waras”. Pernyataan ini adalah hasil dari tanggapan dengan emosi tinggi yang 19 tahun pun mereka tidak bisa melupakan kekejaman terorisme. Memaafkan pelaku memang dilakukan, tetapi mengkerdilkan aksi terorisme atau sengaja membubarkan lembaga anti teror dengan tuduhan islamofobia adalah usulan yang “nggak waras”. Bahkan usulan pembubaran lembaga anti teror sama halnya dengan usulan orang yang terafiliasi dengan radikalisme.

Hampir senada dengan pernyataan di atas. Mantan narapidana terorisme, Khairul Gazali, menyatakan penolakan usulan tersebut. Tidak hanya narasi bubarkan Densus 88, tetapi sebelumnya ada narasi yang hampir sama tentang petisi pembubaran BNPT. Kedua narasi itu memiliki nada sama. Bedanya satu usulan dari anggota Dewan yang terhormat dan satu lagi dari eks teroris.

Atas kejadian tersebut, Ghazali menganggap usulan itu tidak perlu ditanggapi terlalu besar karena akan semakin meluas. Dan yang perlu dikhawatirkan kelompok radikal teroris yang ada seolah mendapatkan angin segar dari usulan itu. Mereka akan mendapatkan kepercayaan diri bahwa ada dukungan dari masyarakat. Apalagi pasca kemenangan Taliban di Afganistan, menurut Ghazali, tumbuh kepercayaan dari sel kelompok ini untuk bangkit kembali.

Menarik dari dua respon ini untuk dijadikan satu pelajaran. Terorisme memang telah menjadi penyakit dan virus membahayakan di negeri ini. Keberadaannya tetap menunggu momentum ketika kondisi negara tidak stabil. Banyak contoh negara Timur Tengah yang hancur lebur dengan ulah kelompok pemecahbelah ini.

Dunia memang telah berubah seperti ucapan Fadli Zon. Namun, ingat modus dan model propaganda terorisme juga berubah. Dunia memang berubah. Dan strategi kelompok terus beradaptasi dengan perubahan itu. Kecanggihan digital kelompok teror terus meningkat. Dan kecanggihan infiltrasi kelompok ini sudah bisa menyasar tidak hanya di kalangan masyarakat bahkan hingga ke aparat negara. Tidak hanya masyarakat, membentengi para aparat negara dari virus radikal itu sangat penting.

Kelompok radikal akan menemukan momentum baik kejadian luar negeri sebagai amunisi kekuatan dan semangat baru ataupun statemen yang seolah mendukung gerakan mereka. Framing isu dan opini adalah kecerdasan kelompok radikal ini. Ketika seseorang tokoh melemparkan isu yang seolah mendukung mereka, hentakan propaganda demi propaganda akan terus digaungkan seakan-akan ada dukungan masyarakat.

Namun, tentu masyarakat sudah cukup cerdas dan sudah bisa melihat dan merekam kekejaman kelompok teror yang tanpa nurani. Masyarakat sudah bisa menilai mana usulan yang tidak waras, mana usulan yang hanya memiliki kepentingan politis elektoral, dan mana usulan yang hanya membesarkan kepala kelompok radikal. Dan terakhir masyarakat bisa melihat mana seseorang itu sudah teracuni virus ideologi radikal.

Facebook Comments