KH. Agus Salim, NII dan 3 Inspirasi Pencegahan Gerakan Anti Pancasila

KH. Agus Salim, NII dan 3 Inspirasi Pencegahan Gerakan Anti Pancasila

- in Suara Kita
233
0
KH. Agus Salim, NII dan 3 Inspirasi Pencegahan Gerakan Anti Pancasila

Peristiwa ribuan masyarakat berbaiat ke NII yang terjadi di beberapa daerah menyadarkan kepada kita semua bahwa NII tidak pernah mati sekalipun tokohnya dieksekusi mati. Selain itu juga memberikan penjelasan bahwa masih banyak masyarakat yang terbuai dengan ‘iming-iming’ NII.

Krisis keteladanan tokoh juga terlihat begitu kentara dalam fenomena tersebut. Dalam posisi inilah, generasi muda harus dicerahkan dengan pemahaman wawasan kebangsaan yang komprehensif.

Hal tersebut dimaksudkan agar generasi muda tidak gampang terpapar ideologi yang anti Pancasila dan NKRI. Juga sebagai upaya yang massif untuk menyadarkan kepada generasi muda saat ini bahwa mereka harus belajar dan meneladani tokoh bangsa.

Dalam rentetan sejarah panjang Indonesia, terdapat begitu banyak tokoh yang harus digali pemikirannya dan dijadikan inspirasi bagi generasi saat ini. Dalam bingkai ini, kiranya sangat penting segenap bangsa ini, terutama generasi muda, belajar pada tokoh agama, ulama muktabar seperti KH. Agus Salim. Beliau bisa menjadi inspirasi dalam kehidupan di saat ini; bagaimana memadukan dan menyeimbangkan agama dan kehidupan bernegara.

KH. Agus Salim merupakan pahlawan nasional, tokoh kemerdekaan dan diplomat ulung. Jasanya atas kemerdekaan Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Banyak sisi yang bisa dikupas dari sosok “The Grand Old Man” itu.

Pria kelahiran 8 Oktober 1884 itu mempunyai pemikiran progresif tentang kebangsaan dan kenegaraan yang luar bisa. Sudah semestinya para generasi saat ini, terutama yang sedang mencari sebuah idola, menyelami pemikirannya.

Lebih-lebih di tengah tawaran ideologi yang marak seperti saat ini dan di tengah kondisi banyak kalangan dan oknum tertentu yang mendadak bak ‘pahlawan’ dengan gemar memproduksi narasi heroik tetapi misinya sungguh bejat, yakni memecah-belah masyarakat dan sejenisnya.

KH. Agus Salim adalah sosok yang mampu dijadikan rujukan dan idola para generasi muda saat ini. Tidak hanya dalam bidang kenegaraan, tetapi juga hal prinsipil lain, yakni beragama. Bahwa KH. Agus Salim merupakan sosok muslim taat sekaligus nasionalis sejati.

Beliau mampu menyatukan dan menyelaraskan nilai-nilai agama dengan dialektika kenegaraan. Dalam bahasa Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi, KH. Agus Salim mampu ‘menikahkan’ Islam dan nasionalisme.

Sehingga nasionalisme KH. Agus Salim adalah untuk menentang konsep nasionalisme sekuler, dan kemudian mengusung nasionalisme religius. Sehingga, konsep inilah yang kemudian menjadi pondasi segenap umat Islam Indonesia untuk menerima Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa.

Polemik Dasar Negara Indonesia

 Diskursus hubungan atau posisi agama dan negara sejatinya bukanlah persoalan baru. Bahkan sejak awal kemerdekaan Indonesia, tema hubungan agama dan negara sudah mencuat dan memicu perdebatan yang cukup pelik.

Bahkan, KH. Agus Salim terlibat langsung polemik itu dengan mendiang Soekarno. Bagi KH. Agus Salim, nasionalisme harus dikaitkan dengan Islam. Kala itu, KH. Agus Salim yang sudah melang-lang buana di dunia internasional, sudah mengenal Pan-Islamisme (persatuan Islam).

Namun, KH. Agus Salim lebih menekankan pada aspek politis dari Pan-Islamisme yang digagas oleh Jamaludin al-Afghani pada akhir abad ke-19 Masehi. Bagi pria asal Sumatera Barat itu, Pan Islamisme tidak harus berbentuk khilafah, tetapi juga bisa melalui pendekatan emosional sebagai pemersatu dunia Islam (Ulil Chasanah 2020).

Tak ayal jika berkat pemikiran progresifnya, KH. Agus Salim merupakan satu-satunya tokoh pergerakan kemerdekaan yang dapat memberi contoh kepada para mahasiswa di Universitas Cornell, AS.

Kembali pada pembahasan tentang polemik dasar negara Indonesia yang hubungannga dengan konsep nasionalisme. Perlu diketahui bahwa nasionalisme menurut Agus Salim harus dikaitkan dengan Islam, sehingga dalam titik ini, beliau berbeda dengan pandangan Soekarno, yang pemikirannya lebih sekuler.

Diskursus Relasi Agama dan Negara

Ulil Chasanah (2020) kemudian mengurai bahwa polemik hubungan negara dan agama antara KH. Agus Salim dan Ir. Soekarno memiliki makna historis yang sangat penting:

Pertama, secara subtansia, polemik tersebut mewakili perbedaan pandangan dua golongan terkemuka di Indonesia, yaitu golongan nasionalis religius dan nasionalis sekuler.

Kedua, mencerminkan pertarungan dua ideologis kedua golongan yang tak terujukkan sekitar tahun 1920 sampai akhir 1930. Bahwa pada kurun waktu itu, perdebatan menghangatkan ruang publik; apakah agama harus disatukan atau dipisahkan dari politik dan lainnya.

Pada tahap selanjutnya, KH. Agus Salim dengan tegas menolak usulan kelompok Islam yang menyatakan bahwa Indonesia harus berlandaskan syariat Islam. Menurut Agus Salim, usulan kelompok Islam itu sama artinya mematahkan kmpromi yang telah dibuat oleh golongan nasionalis dengan golongan Islam.

Kemudian, KH. Agus Salim meyakinkan kepada seluruh golongan kala itu bahwa penganut selain Islam dapat menjalankan agama sesuai dengan kepercayaan mereka dan tidak perlu merasa khawatir atas mayoritas Islam.

Soekarno yang pada saat sidang BPUPKI itu sebagai pimpinan, kemudian menyatakan atas kesepakatan itu sebagai jalan tengah yang sudah dicapai dengan susah-payah, dan jangan lagi diutak-atik (Mujar, 2006).

Teladan dan Idola Generasi Muda Saat Ini

Dari pemikiran KH. Agus Salim tentang nasionalisme, agama dan negara tersebut dapat ditarik sebuah inspirasi yang bisa diambil oleh generasi saat ini. Terutama di tengah kondisi bangsa yang sudah ‘tercemar’ oleh virus radikal, teroris dan intoleransi.

Pertama, bersikap moderat. KH. Agus Salim telah meletakkan dasar-dasar sikap moderat dalam konteks kehidpuan berbangsa dan bernegara. Gagasan nasionalisme religus tersebut mampu menjadi jalan tengah dan puncaknya menjadi kesepakatan pihak yang mulanya saling berlawanan.

Itulah sikap moderat yang harus diteladani dan menjadi inspirasi generasi muda saat ini. Sikap moderat bukan berarti melemahkan tindakan, tetapi sepakai upaya untuk menjunjung tinggi perdamaian. Sikap ini sangat dibutuhkan di konteks Indonesia yang plural.

Kedua, bahwa menjadi muslim taat sekaligus nasionalis sejati itu sangat mungkin. Bahkan tidak hanya mungkin, tetapi merupakan sesuatu yang bisa diraih dan harus diterapkan oleh segenap muslim.

Generasi muda saat ini yang masih mempersoalkan nasionalisme, perlu belajar lebih dalam tentang ajaran Islam. Lautan pemikiran KH. Agus Salim tentang nasionalisme bisa menjadi rujukan. Sebab, beliau adalah tokoh besar bangsa, yang keislamannya sangat kental dan mendalam, tetapi beliau juga seorang nasionalis sejati.

Ketiga, nilai-nilai agama dan nilai-nilai kebangsaan tidak perlu dipertentangkan. Karena keduanya bisa saling membangun kepercayaan. Sebab, pada titik tertentu, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu kedamaian dan kesejahteraan bagi warga atau pemeluknya.

Ketiga inspirasi dan nilai-nilai dari KH. Agus Salim di atas perlu melekat dalam diri generasi muda saat ini. Nilai-nilai tersebut harus menghiasi langit-langit republik ini. Sehingga, bisa dijadikan sebagai inspirasi dalam berjuang melawan intoleransi, radikalisme-terorisme dan ideologi anti Pancasila untuk Indonesia yang damai.

Facebook Comments