Khilafatul Muslimin dan Kegagalan Memahami Pancasila

Khilafatul Muslimin dan Kegagalan Memahami Pancasila

- in Suara Kita
227
0
Khilafatul Muslimin dan Kegagalan Memahami Pancasila

Belakangan ini publik kita disuguhi tontonan aksi pawai kelompok Khilafatul Muslimin dengan segala atribut dan propaganda khilafahnya. Hal ini sungguh memprihatinkan dan meresahkan. Telah dimaklum bersama, kelompok-kelompok pengusung khilafah memiliki satu tujuan yang sama meskipun ritmenya berbeda, yaitu penegakan negara dengan bentuk kekhilafahan dan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi khilafah.

Meskipun pawai Khilafatul Muslimin saat ini terlihat tidak memberi efek serius, kalau tidak segera dituntaskan akan menimbulkan dampak-dampak lainnya. Kelompok pengasong khilafah yang lain akan mendapat angin segar serta akan muncul kembali ke permukaan publik. Kalau sudah begitu akan menimbulkan dampak-dampak buruk bagi bangsa ini. Ideologi Pancasila dan Kebhinekaan terancam, kokohnya persatuan akan rapuh, dan yang jelas kedamaian akan runtuh bersam runtuhnya negara ini.

Sebagai warga negara yang baik tentu tidak ingin hal itu terjadi. Untuk itu masyarakat dan pemerintah harus bersinergi melakukan upaya-upaya untuk membuang jauh ideologi khilafah yang sebenarnya memang sudah tidak laku di negara-negara belahan dunia. Apalagi di Indonesia yang multikultural. Lagi pula, Pancasila telah menjadi konsensus umat Islam Indonesia di awal kemerdekaan sebagai ideologi negara dan sama sekali tidak bertentangan dengan agama Islam.

Pancasila tidak hanya sebagai ideologi dan falsafah negara, tetapi juga sebagai pandangan hidup dan menjadi perekat kebhinekaan. Maka, pertanyaannya, apakah sesuatu yang baik akan diganti dengan yang lain, padahal belum tentu lebih baik bahkan terbukti menjadi biang kerok porak-porandanya suatu negara?

Kalau Indonesia tidak ingin mengalami nasib serupa seperti negara-negara Timur Tengah yang menjadi tumbal khilafah, dibutuhkan ketegasan negara dengan dukungan total dari masyarakat. Dengan perhitungan kerugian dan kengerian yang akan menimpa Indonesia, pemerintah harus bertindak tegas. Regulasi pelarangan ideologi anti Pancasila harus dijalankan tanpa ragu.

Tapi ironi kerap kali terjadi di negara ini. Ada trend semua yang dilakukan pemerintah semua salah. Membuikan penceramah radikal dibilang diskriminasi terhadap ulama, kontra narasi terhadap radikalisme agama dianggap islamophobia, terorisme sengaja dibuat, dll. Pemerintah tidak ada benarnya.

Menguatkan Regulasi Pelarangan Ideologi yang Bertentangan dengan Ideologi Pancasila

Semangat pemerintah untuk terus melakukan regulasi hukum pengharaman ideologi anti Pancasila hidup di Indonesia harus dilakukan lebih semangat dan lebih tegas. Pemerintah harus memulihkan kembali kepercayaan masyarakat dengan tindakan dan sanksi tegas terhadap kelompok yang mengusung ideologi anti Pancasila.

Rakyat Indonesia merindukan kembali adanya regulasi hukum pelarangan ideologi anti Pancasila seperti Perppu nomor 2 Tahun 2017, tentang pembubaran ormas-ormas yang anti Pancasila. Ikhtiar seperti ini menjadi indikator ketegasan dan keseriusan pemerintah untuk memberantas sel penyebaran paham anti Pancasila. Meskipun paham ideologinya tidak serta Merta bubar, namun dengan dibubarkannya ormas-ormas tersebut minimal membatasi ruang geraknya. Karena sudah dibubarkan, kalau masih ada aktivitas dengan atribut ormas terlarang tersebut lebih mudah untuk menegur dan memberikan sanksi.

Hal ini akan menguatkan solidaritas nasional yang memberi inspirasi kepada masyarakat akan pentingnya menjaga Pancasila sebagai ideologi yang telah terbukti mampu merekatkan kebhinekaan. Supaya masyarakat menyadari pentingnya keterlibatan dalam publik untuk bergotong-royong merealisasikan kebijakan pemerintah. Sehingga tidak ada lagi penyangkalan terhadap kebijakan negara karena nyata memang untuk kepentingan bangsa dan negara.

Sebagai masyarakat Indonesia yang baik, harus sadar Indonesia telah memiliki Pancasila sebagai falsafah hidup dan ideologi bangsa. Indonesia tidak butuh ideologi lain, seperti ideologi khilafah. Tidak ada ruang kosong bagi ideologi selain Pancasila di Indonesia. Pancasila adalah ejawantah dari keinginan para pendiri bangsa agar Indonesia tetap ada selama-lamanya.

Seluruh lapisan masyarakat, apapun agamanya, suku, etnis dan golongan manapun, harus mendukung kebijakan pemerintah menangkal ideologi anti Pancasila. Dan, sama-sama berikhtiar untuk menjaga dan merawat bangsa Indonesia.

Kesalahan Pendukung Khilafah Menilai Pancasila

Pancasila lahir dari rahim bumi pertiwi. Ia ada dan menjadi falsafah hidup masyarakat Nusantara sejak dulu. Pancasila memiliki makna yang mendalam tentang karakter dan jati diri bangsa Indonesia. Itu sebabnya, ia dapat merawat kebhinekaan yang menjadi sunnatullah bagi bangsa Indonesia.

Bung Karno pernah berpidato, “aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang dikerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah “.

Lima sila Pancasila sebenarnya adalah karakter dan jati diri bangsa yang luhur. Oleh karena itu, kita semua masyarakat Indonesia harus mengetuk kesadaran masing-masing bagaimana hidup secara Pancasila. Karena itu, dan karena telah terbukti bisa merawat kebhinekaan bangsa Indonesia, untuk apa bersusah-susah melakukan usaha mengganti Pancasila dengan ideologi lain.

Kalau sebagian umat Islam beralasan, “Pancasila bertentangan dengan agama Islam”, maka ada yang keliru dalam memahami agamanya.

Pada tahun 1983, tepatnya di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo digelar Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama se Indonesia. Salah satu hasilnya adalah rumusan hubungan Pancasila dengan Islam yang dituangkan dalam “Deklarasi tentang hubungan Pancasila dengan Islam”.

Kiai Achmad Siddiq salah satu peserta Munas Alim Ulama mengingatkan kepada masyarakat Indonesia, mereka yang beranggapan bahwa menerima Pancasila sebagai asas tunggal berarti telah menggadaikan imam dan menerima asas tunggal Pancasila berarti kafir, sedangkan kalau menerima keduanya berarti musyrik, hal ini sebagai cara berpikir yang keliru.

Artinya, kalau ada kelompok-kelompok kecil Islam yang menolak Pancasila, tindakan tersebut bukan atas dasar agama, tapi menjadikan Islam sebagai ideologi politik untuk meraih kekuasaan.

Pada akhirnya, kita akan bertanya, kalau saat ini masih ada yang berkata Pancasila bertentangan dengan agama Islam, ia layaknya orang mabuk yang berbicara ngawur. Para ulama peserta Munas adalah orang-orang pilihan yang tidak diragukan pemahamannya tentang ilmu agama. Sulit mencari padanannya untuk saat ini. Pengobral khilafah sendiri sangat mungkin tidak sepadan denga ulama-ulama tersebut. Bahkan, pengasong khilafah sendiri bisa jadi tidak memahami arti sebenarnya khilafah itu sendiri.

Facebook Comments