Kiai dan Tradisi Rekonsiliasi

Kiai dan Tradisi Rekonsiliasi

- in Suara Kita
261
2
Kiai dan Tradisi Rekonsiliasi

Dalam tradisi umat Islam, kiai merupakan sosok yang mendapatkan tempat istimewa. Hampir semua pendapatnya, dijadikan rujukan dalam berbagai permasalahan agama maupun sosial kemasyarakatan. Meskipun metode satu arah yang kerap digunakan, namun pesan yang disampaikan kiai tetap dipatuhi dan berdampak besar terhadap masayarakat. Karena itu, sebagian besar organisasi Islam kerap menempatkan sosok kiai sebagai lembaga tertinggi.

Menurut Geertz (1981), kiai dapat dilihat sebagai “makelar budaya” (cultural broker). Dalam analisisnya ia menemukan bahwa kiai berperan sebagai alat penyaring arus informasi yang masuk ke dalam lingkungan kaum santri, menularkan apa yang dianggapnya berguna dan membuang apa yang dianggapnya merusak bagi mereka. Lebih dari itu, Horikoshi seorang peneliti peranan almarhum Ajengan Yusuf Tojiri di Pesantren Cipari, Garut mengemukakan bahwa kiai tidak hanya berperan pasif sebagai broker saja. Menurutnya, kiai berperan aktif dalam melakukan seleksi atas nilai-nilai dan sikap-sikap positiif yang seharusnya dikembangkan oleh masyarakat.

Selain itu, kiai juga mempunyai legitimasi atas pilihan-pilihan yang mungkin yang paling mungkin dilakukan oleh masyarakat. Dalam konteks demikian, kiai ikut serta merumuskan skala prioritas sendiri atas perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dalam masyarakat.

Baca juga : Perempuan dan Rekonsiliasi Media Sosial

 Masyarakat sendiri menganggap sosok kiai sebagai pewaris para Nabi. Tingginya ilmu yang dimiliki seorang kiai, membuatnya dilantik oleh masyarakat menjadi pewaris para Nabi. Sehingga estafet kepemimpinan yang dipegang oleh Nabi, kini beralih ke tangan kiai. Tidak heran masyarakat selalu bertanya mengenai suatu permasalahan kepada seorang kiai. Karena hanya dirinyalah di lingkungan itu yang dipandang sebagai sumber rujukan.

 Ketinggian ilmu serta perilaku baik yang memunculkan kharisma tersendiri bagi seorang kiai. Semakin tinggi kharisma kiai, maka semakin tinggi juga pengaruhnya bagi masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat tradisional menjadikan kiai sebagai aktor utama perubahan sosial.

Untuk mengendalikan masa usai putusan MK, diperlukan kejeniusan seorang kiai. Pemikiran moderat dan kharismatik dari seorang kiai dapat memicu perdamaian negeri. Pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi sudah sangat bagus menyikapi putusan MK ini. Dengan jiwa negarawan, mereka menerima putusan yang telah ditentukan oleh MK.  Namun, sebagai penguat pesan perdamaian ini, sosok kiai sangat dibutuhkan. Umat Islam yang dipandang sebagai mayoritas dan mempunyai pengaruh besar harus dikendalikan oleh kiai.

Seorang kiai dapat memainkan peran penting dalam proses rekonsiliasi. Mengajak masyarakat berfikir bagaimana persatuan dapat berdampak lebih besar daripada mempertahankan kekuasaan seseorang. Dengan jiwa kharismatik yang melekat pada dirinya, masayarakat akan mudah sekali mengikutinya dan mematuhi setiap petuah yang disampaikannya. Hal ini akan semakin mudah dengan dukungan teknologi sekarang ini. Seorang kiai tidak perlu bersusah payah berkeliling untuk menyebarkan petuahnya. Cukup memajang petuahnya di sosial media, otomatis semua orang dapat melihat dan mendengarkan petuah yang disampaikannya.

Untuk mengakhiri tulisan ini, dapatlah kita merenungkan salah satu ayat Al-Qur’an berikut ini: “Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Q.S. al-Baqarah: 213).

Kiranya ayat ini mengingatkan kepada kita bahwa manusia itu diikat dalam tali persaudaraan. Manusia berasal dari diri yang satu, kemudian berkembang biak dan menempati bumi Allah ini. Artinya, apabila kita menyakiti orang lain, sejatinya kita telah menyakiti diri sendiri.

Ketika berbagai macam pandangan telah diikat menjadi satu kesatuan. Maka kewajiban yang harus kita jalankan adalah menjaga persatuan. Dalam perspektif ini, hendaklah seseorang menjadi pelaku perdamaian, bukan pihak yang didamaikan apalagi menjadi provokator. Dengan begitu, semua orang akan sadar bahwa keberadaannya di dunia ini sebagai pencipta dan penebar kedamaian.

Facebook Comments