KKB bukan Sekedar Separatisme, Tetapi Kejahatan Kemanusian

KKB bukan Sekedar Separatisme, Tetapi Kejahatan Kemanusian

- in Suara Kita
889
0
KKB bukan Sekedar Separatisme, Tetapi Kejahatan Kemanusian

Apa yang menggelayuti suasana pikiran kita di saat mengantar peti janazah anak, suami, istri, keluarga atau teman ke pemakaman untuk tempat peristirahatan terakhir mereka? Sedih dan merasa kehilangan tentunya. Takdir menghendaki untuk berpisah. Apalagi kalau kematian orang terkasih kita karena sebab yang tak manusiawi. Korban separatisme misalnya. Kesedihan dan pilu tentu berlipat-lipat. Seperti penyerangan dan pembunuhan sadis Nakes yang bertugas di salah satu puskesmas di Distrik Kiwirok oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua.

Aksi kekerasan dengan motif seperti ini seringkali terjadi di Papua. Bahkan pernah terjadi aksi penyanderaan helikopter yang akan membawa seorang ibu hamil yang sedang sakit. Dengan ragam alasan, seperti memisahkan diri untuk merdeka, kelompok-kelompok separatis terus-menerus melakukan aksi-aksi tak berperikemanusiaan dan banyak menghilangkan nyawa. Hal ini tentu saja mengancam stabilitas dan keamanan bangsa. Di tempat bercokolnya separatis seperti KKB, keamanan menjadi hal yang sangat mahal. Sebab, semua sendi dan elemen bangsa tidak steril dari ancaman kekerasan. Lebih-lebih bila separatisme telah naik level menjadi terorisme yang mengancam persatuan dan kesatuan negara.

Tindakan KKB menjadi semakin liar, tidak hanya TNI Polri yang jadi sasaran, tetapi juga masyarakat. Apabila dicermati secara teliti, KKB dan sejenisnya bukan berjuang untuk mempertahankan sebuah  ideologi, namun lebih pada kepentingan politis. Sebab, kalau memang untuk upaya merdeka atau memisahkan diri dari NKRI karena merasa kebijakan negara kurang berpihak, tentu tak sampai membunuh masyarakat sipil. Tujuan politisnya lebih dominan. Ada aktor yang menjadi otak KKB dengan tujuan demi kekuasaan atau lebih jauh untuk meruntuhkan Indonesia.

Masalah kekerasan yang selalu berulang di Papua, menurut saya, bukan karena faktor sejarah integrasi Papua ke Indonesia. Pengalaman masa lalu dan kontruksi rekam jejak sejarah tidak dipersoalkan oleh mayoritas masyarakat Papua. Bagi mereka, kedamaian dan kemajuan lebih penting dari pada mengorek kenangan silam. Apalagi sistem demokrasi yang terbangun baik, dimana Indonesia memberikan ruang kebebasan untuk berpendapat dan penyampaian aspirasi dengan sangat terbuka. Langkah-langkah dialog penyelesaian masalah pintunya dibuka lebar. Tentunya dengan mekanisme perwakilan sesuai mekanisme. Artinya, tidak ada upaya atau rekayasa dari negara untuk menganeksasi rakyat Papua.

Upaya Apa yang Mesti Dilakukan?

Kalau belajar dari perjalanan panjang sejak integrasi Papua ke Indonesia, untuk penyelesaian masalah separatisme Papua yang tensinya sudah meningkat menjadi terorisme harus mengedepankan upaya dialog dengan masyarakat Papua secara umum. Menyampaikan kepada mereka pentingnya menjaga persaudaraan kebangsaan untuk tatanan yang lebih maju. Dan, memberikan pengertian bahwa kelompok KKB merupakan aktivitas yang menodai sendi-sendi kemanusiaan.

Selain itu, penyadaran terhadap kelompok KKB harus juga diupayakan. Tetapi, apabila bersikukuh maka tidak ada jalan lain kecuali menumpas mereka supaya tidak mengganggu stabilitas keamanan di Papua. Pendekatan militer tetap diperlukan untuk menjaga kondisi keamanan. Karena bagaimanapun rakyat membutuhkan perlindungan dari negara melihat kebrutalan KKB akhir-akhir ini.

Pendekatan dialog sangat diperlukan dengan melibatkan berbagai unsur. Seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat. Dari kenyataan banyaknya anggota KKB yang insaf bergabung kembali dengan NKRI semakin mempertebal keyakinan bahwa KKB tidak didukung sebagian besar masyarakat Papua. Apa yang mereka perjuangkan bukan konsensus seluruh masyarakat Papua. Namun itu tadi, hanya alat kelompok tertentu dengan tujuan politik tertentu.

Dengan demikian sangkaan bahwa rakyat Papua identik dengan prilaku buruk, seperti suka berjudi, minum-minuman keras, selalu bikin gaduh dan akhlak tercela yang lain seperti disangkakan selama ini tidak beralasan. Manusia pasti ada yang baik dan ada pula yang jahat. Tentu tidak sedikit mereka yang masih memiliki hati nurani yang jernih. Tidak menyukai intimidasi, kekerasan, pembunuhan, dan terorisme selayaknya manusia pada umumnya. Stereotip ini bisa menempel kepada semua mamusia yang hidup dalam lingkungan tertentu.

Maka, mengajak semisal Egianus Kogoya salah satu pemimpin KKB dalam sebuah perundingan sangat perlu. Siapa tahu bisa insyaf. Ia akan mudah diajak kerjasama untuk mewujudkan Papua yang damai. Bagaimanapun, masyarakat Papua adalah manusia seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. Tawaran-tawaran solusi damai untuk mengakhiri konflik Papua akan segera direspon dengan baik oleh mayoritas masyarakat Papua. Sebab tidak ada manusia yang tidak suka hidup dalam damai dan aman.

Kasus-kasus yang mengarah ke separatisme, rasisme dan terorisme di Papua menjadi penanda bagi kita semua, bahwa ada upaya yang dilakukan secara massif untuk meretakkan kebhinnekaan Indonesia yang selama ini berjalan baik. Karena itu, KKB yang telah menjelma menjadi kelompok teroris adalah musuh kemanusiaan. Maka, musuh seluruh rakyat Indonesia.

Facebook Comments