Konflik dan Roda Sejarah

Konflik dan Roda Sejarah

- in Narasi
233
0
Konflik dan Roda Sejarah

You may say I’m dreamer

But I’m not the only one

I hope some day you’ll join us

And the world will be as one

–John Lennon, Imagine

Barangkali, saya adalah salah seorang yang tak mau mengikuti ajakan sang pangeran kembang, John Lennon, yang menginginkan dunia bersatu serta melenyapkan segala perbedaan dan konflik. Saya pun bukan tipe orang biru yang, sembari nyimeng atau pesta seks, berbusa-busa mengkampanyekan perdamaian dan menyatukan dunia laiknya generasi kembang di dekade 60-70an.

Saya kira terdapat cacat logika pada lirik lagu John Lennon itu: bahwa dunia, atau lebih tepatnya sejarah, dapat menyatu dan berjalan tanpa adanya perbedaan dan konflik. Berkaca pada kisah pewayangan ternyata terdapat kenyataan yang sebaliknya, bahwa justru karena perbedaan dan konflik itulah dunia atau sejarah ada dan berjalan.

Epos Ramayana dan Mahabharata yang menjadi jantung cerita pewayangan adalah dua narası agung tentang konflik. Tanpa konflik itu tak mungkin rasanya berbagai tokoh dan peristiwa di dalamnya hidup dan terjadi. Sejak dari tata artistiknya kisah dan pertunjukan wayang telah mendasarkan diri pada perbedaan dan konflik. Secara teknis, pihak-pihak yang bertikai akan ditata sedemikian rupa di sebelah kanan dan kiri sang dalang. Hal ini menandakan bahwa konflik adalah sebuah raison d’etre pertunjukan wayang.

Dalam disiplin ilmu polemologi, sebuah studi yang mendasari kajian konflik dan perdamaian, diungkapkan bahwa konsep masyarakat ternyata terbangun atas dasar perbedaan dan konflik. Maka dalam kajian konflik dan perdamaian konflik itu bukanlah sebuah persoalan yang harus diselesaikan, namun diolah. Dalam hal ini perspektif Hegelio-Marxian cukup gamblang ketika menautkan konsep masyarakat dan sejarah berdasarkan konflik yang kemudian lebih tenar dengan istilah hukum dialektika.

Sejarah berjalan di atas sebuah proses yang bertingkat dimana sebuah tesa atau negasi akan melahirkan antitesa atau afirmasinya yang kemudian diakhiri oleh sintesa atau rekonsiliasi. Sebuah masyarakat, seperti halnya pertunjukan wayang, hidup dan bergeliat berdasarkan hukum itu. Maka benarlah sebuah anggapan yang menyatakan bahwa ketika sebuah konflik dilenyapkan akan lenyap pula sebuah masyarakat. Sama halnya melenyapkan konflik antara Kurawa dan Pandawa dengan menghindari perang Bharatayudha dimana keseluruhan kehidupan dan identitas mereka mendasarkan diri.

Angan biru sang pangeran kembang, John Lennon, adalah laiknya keyakinan para bocah atau para pecandu magic mushroom tentang langit yang biru dan sama sekali tanpa adanya mendung kelam yang menggantung atau gelap malam yang memampang. Angan biru semacam ini pernah pula mewabah di Indonesia pada tahun 2016 hingga 2019 dimana apa yang pernah saya sebut sebagai gerakan “Islam abstrak” berupaya menghapuskan sedemikian rupa tipologi-tipologi keislaman yang justru merupakan denyut kehidupan Islam di Nusantara (Neo-Khawarij, Habib Rizieq dan Masyarakat Sipil, Heru Harjo Hutomo, https://geotimes.co.id). Celakanya, angan biru yang sebau dengan angan sang pangeran kembang itu justru melahirkan politik identitas yang semakin keras, aksi-aksi intoleransi dan radikalisme serta terorisme.

Konsep harmoni dan penghindaran konflik yang diusung gerakan “Islam abstrak” saat itu ternyata hanyalah konsep harmoni salah kaprah yang menuntut adanya penyeragaman. Sialnya, parameter yang dipakai adalah parameter yang kemudian membuka ruang terhadap intoleransi, radikalisme dan terorisme. Maka, tak salah ketika ada yang menyimpulkan pula bahwa saat itu benar-benar terjadi pembantaian para ahli (the death of experts), atau setidaknya membuat bungkam mereka untuk menjaga kewarasan.

Kearifan-kearifan lokal bangsa Nusantara seperti wayang ternyata tak mewariskan konsep harmoni yang dianggap mesti menghindari atau bahkan melenyapkan konflik. Sebab, ketika konsep harmoni dimaknai seperti halnya angan biru gerakan “Islam abstrak” tersebut kemungkinan yang dapat muncul adalah adanya aspirasi akan tegaknya sistem khilafah yang konon mesti menyatu dan tersatukan. Dengan kata lain, angan biru seperti itu hanya akan memberi ruang pada pelenyapan perbedaan, lokalitas, dan cita rasa yang tentu saja bersifat pribadi. Orang pun hanya akan menjadi manusia anonim yang tanpa diri karena sudah pasti satu-satunya diri yang mesti berlaku adalah diri sang Khalifah, sang Amir, sang Imam atau sang Mursyid.

Dengan demikian, berdasarkan kearifan wayang, ternyata konflik adalah sebuah roda sejarah yang tanpanya kehidupan akan kandheg dan dipenuhi oleh sugesti-sugesti tentang akhir zaman (teologi maut) yang dapat membuat hidup menjadi tak produktif. Perang Bharatayudha dalam pewayangan mestilah terjadi untuk mengetahui yang mana yang terbukti benar dan yang mana yang terbukti salah. Dalam hal ini, disharmoni karena tuntutan keadilan jauh lebih baik daripada harmoni dengan mengorbankan keadilan.

Facebook Comments