Konflik Papua dan Sikap Toleransi

Konflik Papua dan Sikap Toleransi

- in Suara Kita
382
3
Konflik Papua dan Sikap Toleransi

Negara ini dibangun atas dasar perbedaan. Menghargai perbedaan merupakan kunci tercitpanya perdamaian. Sejarah mencatat bahwa tegaknya negara ini karena menghargai perbedaan suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA). Tanpa pondasi tersebut, niscaya bangsa ini belum bisa lepas dari jeratan penjajahan. Maka, menjadi sangat ironi apabila perbedaan masih menjadi pemantik api kemarahan dan permusuhan antar sesama anak bangsa.

Baru-baru ini, bangsa Indonesia dihebohkan dengan isu pengusiran mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya. Atas dasar itu, masyarakat Papua terpancing emosinya. Bahkan luapan emosi tersebut diekspresikan dengan sejumlah insiden kerusuhan. Lagi-lagi, sentimen berbasis SARA masih menjadi hantu paling menakutkan di republik ini. Bagaimana tidak, ketika kebebasan beragama, dan berekspresi dijamin oleh Undang-undang, justru ada segelintir orang yang masih memiliki niat keji dengan cara memprovokasi dan bahkan mengucilkan. Padahal, mereka sama-sama bangsa Indonesia, sebangsa dan setanah air.

Tentu saja kita sangat prihatin atas kejadian tersebut. Ternyata sumbu-sumbu kebencian masih menjadi penyakit akut di republik ini. Tokoh bangsa yang selalu menyerukan perdamaian, ternyata hanya sampai di telinga saja. Namun tidak bisa diinternalisasikan melalui laku dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak sampai hati menyaksikan apabila bangsa yang penuh dengan kekayaan suku, ras ini bercerai-berai.

Kita patut mengapresiasi kepala daerah yang menyerukan perdamaian. Gubernur Jawa Timur, Khoffah Indar Parawansa dan Walikota Surabaya menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Cara-cara seperti itu tentu menjadi suri tauladan bagi kita semua, bahwa kita harus menjadi bangsa yang lebar tangan. Artinya, sikap tenggang rasa menjadi hal yang diutamakan ketimbang mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Sebab dengan permintaan maaf, diharapkan mampu meredam emosi. Namun pertanyaaannya sekarang, mengapa warga dengan mudahnya melontarkan kalimat rasis berbasis SARA?

Baca juga : Pancasila: Ijmak Manusia Indonesia

Untuk menjawab hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu dijabarkan. Pertama, hilangnya sikap tenggang rasa di tengah-tengah kerukunan berbangsa dan bernegara. Di tengah corak keberagaman dan multi-religius, ternyata tidak diimbangi oleh sikap tenggang rasa yang tinggi. Sikap tenggang rasa hanya menjadi semboyan tanpa terpateri dengan baik melalui perilaku sehari-hari.

Kedua, gagalnya memahami warisan leluhur kita yang disimbolkan dengan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika”. Justru yang ditonjolkan saat ini di ruang publik adalah sikap keangkuhan dan mengedepankan selera, saya, kamu, dan mereka. Sementara “kita adalah saudara” belum mampu menjadi jalan hidup demi terciptanya kerukunan berbangsa dan bernegara.

Jika para pewaris dan founding father kita masih hidup, tentu saja mereka akan menangis menyaksikan bangsanya sendiri tidak saling menghormati. Apa yang mereka wariskan ternyata belum mampu ditonjolkan dengan baik melalui perilaku dan sikap toleran. Oleh sebab itu, jangan berharap bangsa ini akan menuai kerukunan dan perdamaian apabila masih belum mampu menginternalisasikan makna “Bhinneka Tunggal Ika”.

Pendidikan Toleran

Untuk itu, kekerasan bermotif, ras, suku, agama dan antar golongan harus segera diakhiri. Dialog antar pemuka agama dan kepala suku, serta kepala daerah, dan juga lembaga pendidikan,  harus segera dilakukan agar kekerasan, pengucilan, dan lain sejenisnya tidak lagi terjadi. Para pemuka agama di berbagai lapisan masyarakat harus berperan aktif dan sebagai mediator antar agama. Sedangkan di ranah pendidikan, peran pendidik harus menularkan sikap toleransi. Di lingkungan pendidikan, pendidikan multikultural harus diintegrasikan melalui ajaran keagamaan dan kewarganegaraan.

Selama ini, dikotomi antara ajaran keagamaan dan kewarganegaraan masih menjadi problem. Sehingga, pemahaman toleransi kerap kali berhenti pada pemahaman sesama agama saja. Begitupun dengan pemahaman terkait sikap toleransi antar suku dan ras. Mereka hanya sampai kepada suku dan ras masing-masing. Sementara menghargai perbedaan suku dan ras belum mampu dimantabkan. Padahal, toleransi memiliki makna luas, yaitu menghargai sesama warga negara tanpa melihat dan memandang suku, agama, ras, dan keyakinan. Seyogyanya, pendidikan keagamaan mampu diintegrasikan pada ajaran kewargaan.

Di pihak lain, peran guru sebagai pendidik harus mentransformasikan metode pembelajaran keagamaan secara holistik. Dalam hal ini, pendidik tidak hanya agama yang dianutnya sendiri. Melainkan memperkenalkan agama lain. Guru perlu memberikan arahan, diskusi, tukar pendapat dengan penganut agama lain. Dengan begitu, anak didik ditanami pendidikan multikultural dan toleransi antar agama sejak dari bangku sekolah.

Facebook Comments