Konsep Ukhuwah dan Tenun Kebangsaan Ala Nabi di Madinah

Konsep Ukhuwah dan Tenun Kebangsaan Ala Nabi di Madinah

- in Suara Kita
872
0
Konsep Ukhuwah dan Tenun Kebangsaan Ala Nabi di Madinah

Prototipe ukhuwah yang dibangun baginda Nabi di Madinah dengan masyarakatnya yang plural mestinya menjadi referensi yang paling kuat bagi umat Islam dalam konteks merajut persaudaraan sebangsa. Beliau, tidak hanya sukses merekatkan ukhuwah Islamiyah antara muslim pendatang dari Makkah (Muhajirin) dengan muslim pribumi di Madinah (Anshar), tapi juga sukses membingkai persaudaraan kebangsaan antar masyarakat Madinah yang plural; agama, klan, dan kebudayaan.

Kesuksesan Nabi mendesain Negara Madinah sebagai sebuah negara yang aman, damai, harmoni dan tentram bukan sesuatu yang kebetulan, tapi karena konsep bernegara yang dibangun oleh beliau. Kedewasaan umat Islam dalam menyikapi perbedaan adalah kunci utama. Sebab, saat itu, umat Islam kuat dan berkuasa. Kalau mau, mudah saja menekan, mengintimidasi, dan mengancam non muslim untuk menganut agama Islam.

Kalau begitu, apa sebenarnya yang diajarkan Nabi kepada sahabat-sahabatnya ketika itu sehingga mereka berhasil menciptakan ukhuwah dan komunitas ummah dalam satu tarikan nafas persaudaraan kebangsaan yang kuat?

Relasi antar penduduk Madinah yang heterogen bisa berjalan harmoni karena Nabi berhasil mengimplementasikan prinsip-prinsip persamaan dan penghormatan kepada manusia. Secara resmi, relasi antar manusia tersebut dituangkan dalam kesepakatan bersama dalam satu keputusan bersama yang dikenal dengan Piagam Madinah. Semua penduduk Madinah wajib menghormati dan menaati piagam ini, tanpa kecuali.

Pada intinya, Piagam Madinah memiliki tujuan pokok menciptakan kedamaian, persaudaraan dan kehidupan yang harmonis. Hal ini tampak dari kalimat pembuka yang berbunyi, “Sesungguhnya mereka (penduduk Madinah) merupakan satu komunitas (umat) dari komunitas manusia (yang lain)”.

Penegasan ini adalah usaha Nabi untuk menjelaskan kepada seluruh penduduk Madinah bahwa mereka telah menjadi satu umat dalam ikatan negara Madinah. Dengan demikian, harus bersatu dan saling tolong menolong dalam kebaikan.

Kemudian, Nabi menegaskan pentingnya ukhuwah (persaudaraan). Khusus kepada penganut agama Islam beliau menekankan ikatan persaudaraan yang disebut ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan satu agama dan keyakinan. Bahwa semua umat Islam dari suku, dan latar belakang apapun secara hakiki adalah bersaudara.

Berikutnya Nabi menekankan pentingnya prinsip tolong menolong dan saling melindungi. Panduduk Madinah dari suku, agama dan kelompok manapun harus bahu membahu untuk mempertahankan Madinah sebagai tanah air dalam menghadapi musuh.

Tuangan berikutnya dalam Piagam Madinah adalah tidak boleh melakukan penganiayaan terhadap kelompok manapun. Secara bersama-sama wajib melindungi yang teraniaya, tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras dan lainnya. Masing-masing harus mengingatkan yang lain apabila melakukan kesalahan, saling kontrol untuk kebaikan bersama.

Satu lagi, Nabi meletakkan prinsip kebebasan beragama, mengatur mekanisme hubungan antar pemeluk agama dan tidak ada perlakuan khusus bagi pemeluk agama tertentu. Antar pemeluk agama harus bergandengan dan berangkulan, bersama-sama berusaha untuk mencari titik temu untuk kepentingan bersama dan untuk keutuhan, kemajuan dan kehidupan yang harmonis dalam negara Madinah.

Sejatinya, konsep ummah dan ukhuwah yang telah dirumuskan Nabi layak, bahkan wajib, untuk diadopsi oleh masyarakat muslim saat ini, dimanapun berada. Terutama di Indonesia yang majemuk kalau Indonesia ingin tetap utuh, maju, tentram dan harmonis.

Hal ini tidak sulit karena Indonesia punya Pancasila yang substansinya mirip dengan Piagam Madinah. Di dalam Pancasila telah diatur relasi Muslim dan non muslim supaya bisa hidup berdampingan secara damai. Semuanya adalah saudara sebangsa yang harus bersama-sama melawan ketidak adilan, pengkhianatan, kejahatan dan permusuhan demi menjaga NKRI agar tetap damai, tentram, dan harmonis.

Persaudaraan sebangsa yang ditenun oleh Nabi dalam Piagam Madinah, seperti juga pada Pancasila, pada akhirnya akan menciptakan kedamaian-kedamaian yang hadir dalam sendi-sendi umat beragama. Dengan demikian, kalau ada muslim, padahal telah mengikrarkan dirinya dalam dua kalimat syahadat mengakui Nabi sebagai rasul, tapi masih menciptakan keresahan, kekacauan, tidak menghormati non muslim, dan melakukan persekusi terhadap kelompok penganut agama dan keyakinan yang lain, lalu siapa panutannya?

Facebook Comments