Konten Kreatif sebagai Wahana Merajut Perdamaian Digital

Konten Kreatif sebagai Wahana Merajut Perdamaian Digital

- in Suara Kita
534
2
Konten Kreatif sebagai Wahana Merajut Perdamaian Digital

Perkembangan tekonologi informasi telah banyak mempengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat. Termasuk soal urusan persahabatan. Bahkan tidak jarang diantara kita harus bermusuhan dengan teman sejawat karib dikarenakan berbeda pendapat hingga saling bully di media sosial.  Memang harus diakui dampak kampanye politik 2019 sangat besar berpengaruh terhadap pembelahan sosial.

Tidak salah bila dikatakan kampanye politik 2019 sebagai kampanye terburuk dalam historiografi politik Indonesia. Sebab dalam kampanye politik 2019 pengunaan hoax kian kentara dan terang-terangan. Hal itu dibuktikan dengan pengunaan teknik firehose of falsehood (semburan hoax). Jika ditelisik pengunaan teknik firehose of falsehood telah terbukti membuat pembelahan diaras publik semakin mengental. Bahkan, pasca pemilu 2019 pembelahan sosial itu masih terus berlanjut yang dikhawatirkan akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.

Selain itu pengunaan firehose of falsehood sangat berbahaya bagi masa depan literasi di Indonesia. Sebab, teknik ini akan terus berupaya membuat publik tidak lagi mempercayai media mainstrem. Bila kita belajar dari pemilu di Amerika Serikat 2016 teknik firehose of falsehood bisa bergerak cepat menyebar dikarenakan masyarakat Amerika Serikat saat itu lebih mempercayai media sosial ketimbang media mainstream. Bahkan, banyak propaganda yang menuduh bahwa media mainstream sebagai bagian dari fakenews. Ketidakpercayaan terhadap berita mainstream ini yang dipergunakan untuk memperkuat isu-isu hoaks yang disebarkan secara liar dan berantai baik melalui sosial media hingga aplikasi pesan seperti Whatsapp.

Beruntung tidak semua negara di dunia bisa dikalahkan dengan teknik firehose of falsehood. Menurut studi Ahmad Mukhlis Firdaus (2019) Prancis menjadi salah satu yang berhasil meredamnya dikarenakan; Pertama, masih tingginya tingkat literasi membaca di masyarakat Prancis. Sebab, literasi membaca akan sangat mempengaruhi tingkat seseorang terpapar hoaks. Kedua, masyarakat Prancis lebih mempercayai pemberitaan dari media mainstream seperti situs www.jalan.com ketimbang media sosial. Hal itu disebabkan, masyarakat Prancis paham betul bahwa media mainstrem sangat terikat pada kode etik jurnalistik. Kode etik inilah yang akan membatasi media mainstrem dalam menyebarkan hoax.

Baca juga : Dakwah Online: E-Learning Membanguan Karakter Generasi Digital

Bagaimana di Indonesia? Penerapan teknik firehose of falsehood cukup berhasil membuat masyarakat mempercayai hoax. Akan tetapi, kita sedikit berbangga karena Indonesia menjadi salah satu negara yang berhasil menghadapi firehose of falsehood dengan baik, meski tingkat literasi kita sangat rendah. Salah satu penyebab mengapa di Indonesia semburan dusta mengalami kegagalan, dikarenakan banyak warganet yang menjadi relawan digital dengan berupaya melakukan konfirmasi. Hingga membangun narasi tandingan terhadap berbagai hoax yang beredar.

Salah satu langkah yang diambil cukup unik yakni dengan menyajikan konten tandingan dengan disisipi humor terhadap hoax tersebut. Dengan kata lain, konten hoax yang tersebar kemudian di parafrase menjadi konten humor. Dengan begitu publik yang menerima hoax, seolah-olah sedang mendapatkan guyonan (humoris) dan segera sadar bila informasi itu adalah hoax. Artinya konten humoris tentu akan membuat kedua pendukung lebih cepat berdamai di ranah digital. Sebab konten kreatif yang humoris akan membuat pembaca akan lebih mengedepankan emosi jenaka ketimbang emosi kebencian. Jadi perlu diingat bahwa ditengah situasi kita sedang menerima hoax, diperlukan daya kreativitas agar informasi hoax tidak menyulut emosional. Dengan demikian untuk merajut perdamaian digital diperlukan banyak konten kreatif yang humoris di media sosial.

Singkat kata, ada serpihan yang bisa kita jadikan evaluasi dari gelaran kampanye politik 2019 terutama dalam upaya merajut perdamaian di ranah digital. Yakni perlu upaya mendorong para warganet yang memiliki daya kreativitas untuk turut serta memproduksi konten humoris yang belandaskan Pancasila. Dengan demikian, konten yang berlandaskan kegembiraan tentu akan semakin mempererat persatuan antar anak bangsa dan dipercaya meredam upaya pecah belah hanya karena hoaks.

Facebook Comments