Kontra-Ideologi Khilafah Adalah Bagian dari Bela Negara, Bukan Kriminalisasi Agama

Kontra-Ideologi Khilafah Adalah Bagian dari Bela Negara, Bukan Kriminalisasi Agama

- in Suara Kita
194
0

Indonesia selain dikenal sebagai negara yang religius, di negeri bhinneka yang majemuk ini, nasionalisme merupakan hal yang sangat penting dijiwai oleh setiap bangsa. Ini menunjukkan bahwa tugas setiap warga negara adalah tak hanya pada tataran aspek spiritual semata, tetapi turut bela negara dan menggelorakan nasionalisme kebangsaan dan menangkal segala bentuk ideologi anti-kebinnekaan seperti khilafah.

Namun, hari ini patut diwaspadai merebaknya ideologi khilafah sebagai contoh teranyar kasus seperti khilafatul muslimin. Mereka mencoreng citra Islam dengan jalan memakai topeng Islam yang sejatinya bukanlah Islam. Manuver mereka sarat dengan doktrin anti-kebhinekaan, politisasi agama, adu domba, propaganda, dan tindakan mengikis rasa nasionalisme serta pemecah belah bangsa. Yang tak habis pikir, mereka dengan entengnya menuduh pihak yang melawannya adalah bentuk kriminalisasi agama.

Padahal, gerakan dan perilakunya para pengasong khilafah selama ini berseberangan dengan Pancasila dan tak sejalan dengan jiwa nasionalisme. Bahkan tak jarang, mereka menggunakan ayat-ayat agama untuk menanamkan benih-benih pemecah belah bangsa untuk mencari lebih banyak kadernya. Oknum penghianat bangsa dan agama model seperti ini tentunya mencoreng citra Islam dan juga nama baik bangsa Indonesia.

Perlu kita pahami, sejarah telah mencatat bahwa negara Islam di Timur Tengah terpecah menjadi beberapa golongan, karena ulah para provokator berhaluan khilafah dan anti-nasionalisme di negaranya. Belum lagi, paham frontalnya yang kerap kali menyemai benih-benih radikalisme. Doktrin ekstremisme yang kerap kali merasa paling suci dan mengkafirkan kelompok lainnya serta bersembunyi di bawah panji khilafah Islam.

Di Indonesia sendiri, banyak manuver adu dombanya berusaha mengikis kokohnya bangunan nasionalisme kebangsaan. Perlu diwaspadai juga, hadirnya para pengasong khilafah yang anti-nasionalisme yang berusaha menyusup ke masjid-masjid atau instansi pendidikan. Karena biasanya mereka ini mempunyai perangkat yang sistemik untuk memecah belah bangsa, mencoreng citra Islam, demi kepentingan kelompoknya dengan mencemari lingkungan yang dianggap bisa menjadi lahan basah penyebaran ideologi khilafah seperti institusi pendidikan.

Sudah saatnya bangsa ini mengamalkan nilai-nilai nasionalisme kebangsaan, Islam Wasathiyah, dan Pancasila. Bangsa ini juga turut andil bersatu untuk mensterilkan ruang agama dari ideologi khilafah. Jika kita buka lembaran sejarah Nusantara, Islam wasathiyah yang selama ini banyak melahirkan para tokoh agama yang tak hanya mampu dalam bidang ilmu agama saja, akan tetapi juga literasi nasionalisme kebangsaan. Islam Wasathiyah adalah sebuah paham Islam moderat yang mengusung Islam ramah dan rahmah serta punya rasa nasionalisme tinggi.

Kenapa Islam begitu mudah masuk ke Indonesia, itu pun karena dakwah yang diusung adalah Islam Wasathiyah yang ramah, lembut, dan anti-kekerasan. Islam Wasathiyah turut menggelorakan nasionalisme kebangsaan dan Pancasila. Lain halnya dengan para pengasong khilafah yang notabene radikal dan cenderung ingin merusak atau memecah-belah bangsa.

Islam wasathiyah telah melahirkan tokoh-tokoh bangsa dan ahli agama yang tak hanya syiar agama semata, tetapi mengajarkan agar cinta tanah air dan kasih terhadap sesama, termasuk pada orang yang berbeda agama sekalipun. Karenanya, wawasan kebangsaan penting juga untuk digalakkan sebagai asupan keimanan dan juga spirit nasionalisme bangsa.

Meminjam bahasa dari Al-Qur’an, Pancasila merupakan kalimatun sama’ atau alat tunggal pemersatu (Nusantara). Pancasila bukan hanya sebagai pernyataan politis saja, tetapi juga juga pernyataan ideologis. Pada pasal 3 Pancasila terselip jelas pesan nasionalisme kebangsaan untuk persatuan Indonesia. Pasal Pancasila tersebut menyatukan berbagai kepentingan serta aliran politik.

Sebagai pernyataan ideologis, pasal Pancasila tersebut menunjukkan nilai-nilai yang terdapat pada banyak kelompok masyarakat, baik agama maupun adat. Namun, kita dituntut untuk memiliki jiwa nasionalisme kebangsaan.

Karenanya, sebagai bangsa ini sudah sepatutnya sadar bahwa tugasnya tak hanya dakwah Islam, akan tetapi juga mendengungkan nasionalisme kebangsaan, menolak segala bentuk narasi segregasi, serta mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila secara nyata adalah bagian dari dakwah yang patut didakwahkan secara masif. Pada intinya upaya melawan ideologi khilafah bukanlah kriminalisasi agama, akan tetapi justru merupakan bentuk bela negara yang harus senantiasa kita giatkan.

Facebook Comments