Kontra Radikalisme ala Citayam

Kontra Radikalisme ala Citayam

- in Suara Kita
256
0
Kontra Radikalisme ala Citayam

Dua tahun lebih warga Indonesia hidup bersama pandemi Covid-19, diawali dengan pembatasan interaksi yang sangat ketat hingga kelonggaran perlahan menuju normal seperti saat-saat ini. Dampak pembatasan yang paling terasa adalah sulitnya perjumpaan dan aktivitas fisik antar orang, semua diam di rumah dan hiburan yang paling mungkin adalah lewat internet.

Pada 2021, pelanggan Netflix sempat mencapai 200 juta dan Diseny+ 213 juta. Hal ini menjadi salah satu penanda bahwa jutaan orang yang semula berinteraksi langsung berpindah ke internet untuk berinteraksi dan mencari hiburan. Layanan over the top (OTT) seperti Netflix, Disney+, Viu, IFLIX, Catchplay, Hooq, dan Goplay umumnya hanya dinikmati kalangan menengah atas yang memiliki kemampuan membayar biaya berlangganan. Sedangkan bagi warga umumnya sebatas mencari hiburan non-berbayar seperti Youtube, TikTok, Instagram, dan sejenisnya.

Meski sudah ada upaya penangkalan penyebaran radikalisme melalui internet oleh pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, konten-konten bersifat SARA (Suku, Ras, Agama, dan Antar Golongan) yang mengarah pada provokasi dan perpecahan masih banyak beredar di jagat maya. Pengguna internet usia remaja menjadi sasaran empuk doktrinasi paham khilafah dan radikalisme. Pemanfaatan internet sebagai cara menyebarkan paham radikal menyasar remaja yang pada usia psikologis masih pada tahap mencari jati diri dan pengakuan. Melalui konten-konten radikalisme, anak-anak remaja ditawari model baru untuk menjadi “berbeda” dan diakui oleh kalangan remaja.  

Intelektualitas atau kecerdasan remaja yang masing terbatas dimanfaatkan kelompok radikal agar ikut arus radikalisme. Anak-anak remaja belum memiliki daya kritis dan analisis yang tajam untuk membaca tanda-tanda pendekatan yang dikerjakan oleh kelompok radikalisme. Anak-anak remaja masih terbatas untuk membuat panggung ekspresi diri yang positif dan aman.

Untuk itu pameran gaya seperti “Citayam Fashion Week” merupakan salah satu alternatif remaja urban untuk tampil dengan cara yang positif. Mereka bisa tampil apa adanya dengan keterbatasan budget untuk bergaya, mereka juga menjadi simbol bahwa kota dengan moderenitasnya adalah milik bersama, bukan hanya milik warga kota.

Pemanfaatan kawasan Sudirman Central Business District yang dkenal sebagai pusat bisnis menjadi latar peragaan busana apa adanya anak-anak “SCBD” alias Sudirman, Citayam, Bojonggede, Depok menjadi pertanda kebutuhan eksistensi remaja, entah dia dari pinggiran atau pusat kota. Upaya-upaya mencari jatidiri, pengakuan, dan eksistensi ini perlu dihargai dengan cara yang tepat. Tidak dengan mengusir karena ketertiban umum yang terganggu dengan suasana yang semrawut dan banyak sampah, tetapi bertemu di tengah antara kepentingan umum dan hak remaja untuk berkreasi.

Konten anak-anak Citayam SCB Dini pun menjadi perbincangan hangat di jagat maya, ada yang mendukung ada juga yang mencaci kampungan. Dalam hal ini, internet juga boleh dipakai oleh siapa saja, termasuk remaja Citayam SCBD. Konten Citayam SCBD jauh lebih baik daripada jagat maya dimasuki konten radikalisme. Dalam konteks media sosial dan Citayam SCBD, kita juga perlu bertemu di tengah. Perlu ada edukasi tambahan untuk para remaja Citayam SCBD agar mereka memiliki kesadaran yang sama untuk menjaga kebersihan dan ketertiban umum.

Sebagai warga yang lebih dewasa, kita tidak bisa asal larang fenomena semacam Citayam SCBD. Kita perlu membaca fenomena tersebut dan memanfaatkannya untuk hal yang lebih baik, termasuk memanfaatkan konten Citayam SCBD untuk memenuhi jagat maya dan melawan radikalisme.

Facebook Comments