Krisis Akhlak Mulia; Krisis Keimanan dan Kemanusiaan

Krisis Akhlak Mulia; Krisis Keimanan dan Kemanusiaan

- in Suara Kita
768
0
Krisis Akhlak Mulia; Krisis Keimanan dan Kemanusiaan

Dalam kitab Nadhratu al Na’im fi Makarimi Akhlaqi al Rasuli al Karim, mengutip pendapat Fairuzabadi dalam karyanya Bashair dzawi al Tamyiz, “Agama seluruhnya adalah akhlak. Semakin mulia akhlak seseorang semakin sempurna agamanya. Akhlak mulia terangkum dalam empat poin; sabar, menebarkan kebaikan, ketegasan dan adil. Empat hal ini satu sama lain memiliki keterkaitan tak terpisahkan dalam membentuk akhlak terpuji. Sabar, misalnya, mendidik seseorang tidak pemarah, ia menjadi pemaaf dan selalu menebarkan kasih sayang dan kebaikan. Satu pendapat menyatakan, sumber dari empat pilar akhlak mulia tersebut adalah sikap moderat.

Ibnu Miskawih dalam kitabnya Tahdzib al Akhlak berpendapat, akhlak adalah suara hati yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu tanpa dipikirkan terlebih dahulu dan tanpa perencanaan. Pada sebagian orang, akhlak menjadi tabiat yang telah lekat dalam dirinya. Akan tetapi, bagi sebagian orang akhlak harus dilatih secara kontinu dan usaha yang sungguh-sungguh.

Menurut Abul Hasan Bashri al Mawardi dalam karyanya Tashil al Nadhar wa Ta’jil al Dhafri, akhlak merupakan naluri terpendam yang bisa diupayakan dan dilatih dengan paksa. Menurut al Jurjani dalam Ta’rifaat li al Jurjani, akhlak adalah dorongan hati yang kuat untuk melakukan sesuatu tanpa pikir panjang atau spontanitas. Kalau efeknya baik disebut akhlak mulia. Sebaliknya manakala dorongan hati itu menyebabkan perbuatan buruk disebut akhlak tercela.

Penting menyampaikan definisi akhlak menurut para ulama dan cendikiawan supaya memahami apa itu akhlak mulia. Karena, telah masyhur bahwa diutusnya Nabi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Wajar kalau kemudian Fairuzabadi menyebut bahwa akhlak dan agama berkelindan dan tidak terpisahkan. Akhlak menjadi indikator keagamaan seseorang. Baik akhlaknya, baik pula agamanya. Pun, jelek akhlaknya pasti buruk pengamalannya terhadap ajaran-ajaran agama Islam.

Akhlak dalam Konteks Kebangsaan

Kalau semua orang memiliki akhlak mulia, maka di dunia tidak akan pernah terjadi kekacauan, kekerasan, penghinaan, dan pertikaian. Dalam konteks bernegara akhlak mulia menjadi faktor utama tegaknya sebuah negara yang kuat dan berdaulat. Semua penduduk saling menghormati, mengasihi, mengayomi, dan saling menolong. Seperti negara Madinah bersama Nabi dan para sahabatnya.

Problem utama sebuah bangsa bukan karena kurangnya sumber daya manusia. Masalah utama suatu bangsa karena rusaknya akhlak masyarakatnya. Akhlak yang jelek pasti akan menimbulkan kekacauan dan ketakutan. Satu contoh nyata di Indonesia adalah terorisme yang menebar ketakutan dan kekhawatiran. Bahkan, tidak hanya disintegrasi bangsa yang terancam, agama Islam sendiri menjadi korbannya karena selalu dijadikan alat tunggangan.

Maju mundurnya negara, kuat lemahnya, tidak ditentukan oleh sumber daya manusia dan sumber daya alamnya, namun oleh kualitas akhlak terpuji masyarakatnya. Kalau kualitas akhlak penduduknya baik, demoralisasi tidak akan meraja lela, nilai-nilai kebaikan tersebar, hidup nyaman dan hak-hak seseorang tidak akan terinjak-injak. Tidak akan terjadi persekusi terhadap kelompok minoritas, tidak akan ada cacian dan makian yang berseliweran, tidak akan ada terorisme, dan segala tindakan kejahatan yang pasti akan melemahkan suatu bangsa.

Untuk itu, patut direnungkan komentar para ulama di atas supaya tidak terjadi krisis akhlak mulia yang pasti akan menyebabkan krisis keimanan, juga krisis kemanusiaan. Apabila hal ini terjadi jangan berharap kita akan diakui Tuhan sebagai hamba-Nya karena telah gagal menjalankan tugas di bumi sebagai khalifah-Nya. Tugas manusia adalah untuk memakmurkan bumi. Tugas itu tidak mungkin tercapai kalau kita memiliki akhlak yang buruk.

Sebagai penutup, Allah telah menitahkan kepada kita semua untuk meneguhkan nilai-nilai akhlak mulai, rendah hati dan tidak angkuh (QS. A’raf: 146). Pesan ini benar-benar mengisyaratkan larangan terhadap caci mencaci sesama anak bangsa yang berpotensi menimbulkan keributan dan perpecahan. Mengguratkan pesan tidak seharusnya keangkuhan dimiliki oleh umat Islam dengan menyalahkan praktek ibadah sesama muslim yang berbeda madhab. Umat Islam sejatinya bersikap rendah hati dan tidak sombong. Apabila semua penganut agama Islam menampilkan akhlak terpuji tersebut, betapa senangnya Nabi karena misi utamanya untuk menyempurnakan akhlak terealisasi.

Facebook Comments