Kuatkan Kerukunan Rekatkan Persaudaraan dan Gempur Ideologi Radikal KKB!

Kuatkan Kerukunan Rekatkan Persaudaraan dan Gempur Ideologi Radikal KKB!

- in Suara Kita
1130
0
Kuatkan Kerukunan Rekatkan Persaudaraan dan Gempur Ideologi Radikal KKB!

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua memang layak disebut sebagai teroris, musuh bersama. Sebab, selain menggunakan senjata dan jelas telah menumpas banyak nyawa, mereka juga anti Pancasila.

KKB merupakan potret nyata duri bagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia. Oleh sebab itu, keberadaan teroris seperti KKB Papua tidak boleh berlangsung lama. Sebab, hal itu hanya akan menambah sengsara dan mengancam keutuhan bangsa Indonesia.

Perlu diketahui bersama bahwa Indonesia merupakan negara paling majemuk dalam segala hal. Betapa tidak. Menurut hasil satelit LAPAN pada 2002 silam, setidaknya ada 18.000 pulau. Dari jumlah itu, ada 6.000 pulau yang berpenghuni, dengan berbagai macam kelompok etnis, ras, golongan, agama dan bahasa yang berbeda pula. Bahasa misalnnya, di Indonesia terdapat 746 bahasa daerah yang tersebar di 1.128 macam suku-bangsa.

Data di atas bukanlah manipulasi demi kepentingan tertentu, melainkan adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa diingkari dan dihindari. Barangkali kenyataan ini yang mengilhami para pemimpin gerakan pasca kemerdekaan untuk merumuskan suatu wadah yang bisa menyatukan ribuan pulau dan suku-bangsa. Wadah tersebut bernama Indonesia.

Beberapa kajian menjelaskan bahwa penyatuan dalam wadah sebuah bangsa itu terbentuk karena kesamaan nasib. Hal demikian sebagaimana diungkapkan oleh Otto Beur. Senada dengan pendapat ini, Ben Anderson juga mengemukakan sebuah terori, bahwa Indonesia bisa bersatu padu karena dilandaskan pada kesamaan imajinasi untuk memiliki sebuah rumah bersama yang damai, bebas dari penjajahan.

4 Pilar Negara

Setelah kemerdekaan berhasil diperoleh oleh bangsa Indonesia, para pendiri bangsa ini meletakkan pilar-pilar negara untuk menguatkan kerukunan, persatuan dan persaudaraan. Para faunding father’s paham betul akan kondisi Indonesia yang plural dan majemuk. Sehingga, pilar negara yang dirumuskan pun terasa selalu relevan dan dibutuhkan oleh Indonesia yang lebih baik.

Fenomena KKB Papua harus menjadi bahan renungan bersama bahwa penguatan pilar negara wajib dimiliki oleh segenap bangsa Indonesia supaya mempunyai kesadaran bersama untuk membangun bangsa ini dengan penuh kebijaksanaan, bukan dengan cara kekerasan.

 Oleh karena itu, berikut beberapa pilar negara yang harus dipahami dan diamalkan agar masyarakat Indonesia tidak menaruh simpati terhadap KKB yang berlindung di balik kebebasan dan ketimpangan.

Pertama, bhinneka tunggal ika. Inialah tiang dalam menjaga persatuan. Istilah Bhinneka Tunggal Ika berasal daru buku Kakawin Sutasoma besutan Empu Tantular. Secara mudahnya, arti pilar pertama ini adalah “berbeda-beda, tetap satu tujuan”. Semua beragama, namun hakikatnya satu jua.

Jika doktrin Bhinneka Tunggal Ika diterapkan secara benar dan proporsional dalam kehidupan berbangsa, maka tak ada pertikaian atas nama agama, etnis, suku dan budaya. Karena, betapapun latar belakang yang berbeda, namun sejatinya kita sama; sama-sama bangsa Indonesia; sama-sama memiliki cita-cita mensejahterakan bangsa Indonesia. Jangankan rasis dan intoleransi, radikalisme sekalipun bisa diatasi dengan menerapkan doktrin ini.

Kedua, Pancasila. Sejarah perumusan Pancasila sangat panjang dan alot. Namun, proses yang kemudian melahirkan Pancasila yang kita kenal hari ini merupakan kebijaksanaan dari para pendiri bangsa dan bentuk final dari ideologi bangsa Indonesia. Pancasila terbukti yang paling tepat bagi bangsa Indonesia.

Tak ayal jika wakil-wakil umat Islam pada saat perumusan Pancasila menerima dihapus tujuh butir kata dalam sila pertama versi ‘Piagam Jakarta’. Dengan Pancasila, terjamin prinsip kebebasan beragama dan juga terjamin adanya keterbukaan bagi partisipasi seluruh anggota masyarakat. Hingga saat ini, prinsip dasar itu mampu menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

Ketiga, UUD 1945. Nilai kemajemukan harus dijunjung tinggi. Oleh karena itu, diperlukan sebuah formulasi untuk mendukung hal tersebut. Lahirlah UUD 1945 sebagai aturan dasar kehidupan bernegara di Indonesia yang menjamin keadilan bersama di mata hukum (equality be fore the lawa).

Namun perlu diingat. Betapun idealnya konstitusi untuk mengatur kehidupan bersama dan dalam menjunjung tinggi kemajemukan, jika nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat cenderung ke arah sebaliknya, maka konstitusi itu akan menjadi domuken yang tak ada nilainya sama sekali.

Oleh sebab itu, pilar ketiga ini harus diseimbangkan dengan pilar pertama dan kedua. Dengan kata lain, aktualisasi Bhinneka Tunggal Ika dan nilai-nilai Pancasila selalu diperlukan untuk menjaga moral bangsa tetap pada koridor yang semestinya (tidak melenceng).

Keempat, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pilar keempat ini sangat urgen karena bisa memantik jiwa nasionalisme. Nasionalisme ini tidak hanya sekedar melahirkan solidaritas sosial, melainkan juga mampu menumbuhkan sikap rasa saling memiliki bangsa Indonesia. Sikap seperti ini diperlukan dalam rangka membangun Indonesia.

H. M Nafsar (2020: 202) mengatakan bahwa banyak alasan mengapa NKRI itu menjadi harga mati, salah satunya karena “Berkat Rahmat Allah dan Cita-cita Bangsa”, sebagaimana tercatat dalam pembukaan UUD 1945 alinea 3. Jadi, NKRI harga mati itu merupakan satu paket yang meliputi Pancasila, UUD 1956 dan Bhinneka Tunggal Ika. Maka, apabila mengubah NKRI, itu sama halnya dengan mengingkari Berkat Rahmat Allah dan mencederai Indonesia.

Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku-bangsa, agama, budaya dan bahasa harus dimaknai sebagai anugerah yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, anugerah tersebut harus dirawat agar bisa menjadi kekuatan dahsyat untuk menangkal semua gangguan atau ancaman yang ingin memecah belah persatuan bangsa, sepeti KKB Papua.

Facebook Comments