Kurban dan Etos Redistribusi Kekayaan

Kurban dan Etos Redistribusi Kekayaan

- in Suara Kita
130
1
Kurban dan Etos Redistribusi Kekayaan

Salah satu ibadah mulia di bulan Dzulhijjah ialah menyembelih hewan kurban. Ibadah  kurban adalah semacam reduplikasi sejarah atas peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim dan anak  kesayanganya, Ismail.

Kala itu, Allah menguji ketaatan Nabi Ibrahim dengan memintanya untuk menyembelih sang anak. Meski melalui pergulatan panjang, Nabi Ibrahim pun akhirnya menyembelih sang putera. Namun, di detik-detik terakhir atas Maha Kuasa Allah, Ismail ditukar dengan seekor domba.

Dalam al Quran, perintah berkurban termaktub dalam Surat, al Kautsar (108) ayat: 1-2 yang berbunyi “Telah kami tebarkan nikmat yang banyak kepadamu, maka dirikanlah salat dan berkurbanlah”.

Kurban adalah ibadah yang memiliki dimensi ganda, yakni teologis dan sosiologis. Secara teologis, kurban adalah  manifestasi dari sikap keikhlasan dalam mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan secara sosiologis, kurban merupakan satu bentuk kepedulian sosial terhadap kaum lemah. Melalui ibadah kurban, dimungkinkan terjadinya apa yang dalam teori sosial-ekonomi disebut sebagai redistribusi kekayaan.

Micheal Schneider (2004) dalam bukunya berjudul The Distribution of Wealth mengartikan redistribusi kekayaan sebagai terjadinya perpindahan atau penyebaran aset dan kekayaan dari satu pihak ke pihak lain. Redistribusi kekayaan menjadi isu yang penting terutama dalam konteks kondisi sosial-ekonomi yang masih diwarnai disparitas alias ketimpangan.

Dalam konteks Indonesia, wacana distribusi kekayaan  idealnya mendapat porsi lebih untuk dihabas, mengingat masih tingginga angka kesenjangan ekonomi masyarakatnya. Menurut data Bank Dunia (World Bank), Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami peningkatan kesenjangan ekonomi paling parah  di dunia selama beberapa dekade terakhir.

Baca Juga : Qurban: Menyembelih Ego Individualis untuk Mencapai Ridho Allah SWT

Dalam catatan Bank Dunia, pada awal 1990-an Indeks Rasio Gini (skala untuk mengukur tingkat kesenjangan ekonomi) Indonesia berada di angka 30. Data termutakhir yang dikeluarkan oleh Bank Dunia yakni pada tahun 2017, mencatat Indeks Rasio Gini Indonesia naik signifikan di angka 40. Tingginya ketimpangan ekonomi Indonesia itu juga dikonfirmasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam amatan BPS, kesenjangan ekonomi di Indonesia mulai merangkak naik pada awal 1990-an dan berlanjut hingga sekarang.

Dawam Rahardjo dalam bukunya Nalar Ekonomi Politik Indonesia menyebut bahwa salah satu faktor yang melatari tingginya angka kesenjangan ekonomi itu ialah model pembangunan Indonesia yang lebih berorientasi pada paham developmentalisme. Pembangunan bercorak developmentalisme diperkenalkan oleh negara-negara maju Barat (Eropa dan Amerika Serikat) kepada negara-negara dunia ketiga atau negara miskin dan berkembang (sebagian ASIA dan Afrika) pasca Perang Dunia II. Corak pembangunan inilah yang diadopsi dan dipraktikkan Indonesia, terutama sejak pemerintahan Orde Baru.

Pembangunan model developmentalisme dicirikan dengan orientasi dan fokus pembangunan yang menyasar pada aspek makro ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diukur dengan presentase dan angka-angka yang acapkali manipulatif dan tidak merepresentasikan kondisi di lapangan. Mekanisme ekonomi diserahkan sepenuhnya pada kendali pasar bebas. Selain itu, pembangunan ekonomi menyasar pada industri-industri massal berskala gigantis.

Developmentalisme yang merupakan anak kandung sistem ekonomi liberalisme-kapitalisme menyisakan sejumlah residu persoalan. Salah satunya ialah terciptanya kesenjangan sosial-ekonomi akibat menumpuknya modal di satu golongan saja. Kaum berpunya (the have) yang memiliki modal dan alat produksi berada di puncak tertinggi struktur ekonomi. Sementara kaum tidak berpunya (the have not) yang terdiri atas kaum pekerja dan buruh berada di posisi paling bawah dari struktur ekonomi.

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini bisa digambarkan dalam satu kalimat miris, yakni “yang kaya semakin kaya, dan yang miskin kian miskin”. Kalimat itu tentu bukan asumsi apalagi bualan semata. Data Global Wealth Report 2018 yang dirilis oleh Credit Issues menyuguhkan fakta yang mencengangkan. Yakni bahwa satu persen orang terkaya di Indonesia menguasai 46, 6 persen total kekayaan penduduk dewasa di Tanah Air. Sementara 10 orang terkaya di Indonesia menguasai 75, 3 persen total kekayaan penduduk.

Ketimpangan ekonomi jelas merupakan persoalan besar. Bagi para pemikir kiri (sosialis-marxis) ketimpangan ekonomi kerap dimaknai sebagai kegagalan negara dalam menyejehterakan rakyatnya. Kegagalan inilah yang potensial menjadi pemicu bagi munculnya revolusi sosial-politik. Sedangkan bagi para pemikir liberal, kesenjangan ekonomi adalah ancaman bagi stabilitas sosial lantaran rawan melahirkan tindak kriminalitas serta potensial meruntuhkan kohesi sosial.

Perspektif Islam

Di dalam Islam, kesenjangan ekonomi adalah hal yang tidak bisa ditoleransi. Perkembangan awal Islam di masa Rasulullah identik dengan perjuangan menegakkan keadilan sosial. Muhammad Nawaz (2003) dalam bukunya Islam: Religion of Peace and Justice menyebut bahwa di antara rumpuh agama Abrahamik lainnya, yakni Yahudi dan Kristen, Islamlah yang memiliki ajaran dan komitmen paling kuat tentang keadilan sosial.

Hal itu dapat dilihat dari upaya Islam menghapus praktik ekonomi yang mengabaikan unsur keadilan seperti monopoli perdagangan dan riba. Selain mengenalkan konsep teologis yang relatif baru, yakni tauhid, Islam juga memperkenalkan sistem sosial-ekonomi yang lebih egaliter. Dalam Islam, kelompok lemah yang selalu termarjinalkan oleh sistem sosial selalu mendapat tempat yang istimewa.

Oleh karena itu, nyaris semua ibadah dalam Islam selalu memiliki dimensi ganda, yakni vertikal dan horisontal. Perintah tentang sholat misal, hampir selalu dibarengi dengan perintah zakat. Dimensi horisontal yang kuat juga tampak dalam perintah menyembelih hewan kurban.

Secara harfiah, perintah menyembelih hewan kurban itu dapat dimaknai sebagai bentuk penghambaan pada Allah SWT. Namun dalam pembacaan secara hermeneutis, aktivitas kurban dapat dimaknai sebagai sebuah deklarasi atas komitmen Islam membebaskan umatnya dari ketidakadilan sosial dan ketimpangan ekonomi. Selain zakat, infaq, dan sodaqoh, kurban adalah ibadah dalam Islam yang memiliki etos distribusi kekayaan.

Maka, menjadi hal yang ironis manakala Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, justru mengalami kesenjangan ekonomi yang tinggi. Fenomena ini menandai adanya anomali dari cari beragama kita selama ini. Diakui atau tidak, ada yang salah dengan cara kita berislam selama ini, yakni kecenderungan untuk hanya berorientasi pada kesalehan pribadi dan abai pada kesalehan sosial.

Sebagian besar muslim Indonesia sibuk membentuk citra diri sebagai muslim yang saleh secara kaffah dengan mendandani diri agar tampak lebih rejilius. Hal ini tampak pada maraknya fenomena hijrah di kalangan muslim kelas menengah dan para pesohor dunia hiburan. Sayangnya, fenomena hijrah itu hanya menyentuh aspek permukaan seperti penampilan dan gaya hidup, namun abai pada aspek pemberdayaan sosial. lebih fata lagi, keberhasilan hijrah hanya dinilai dari hal-hal artifisial seperti mengenakan pakaian muslim, memakai produk-produk berlabel halal dan sejenisnya.

Cara berislam yang simbolistik itu pula yang selama ini tampak dalam ibadah kurban yang dilakukan sebagian besar muslim di Indonesia. Saban tahun, jumlah hewan kurban yang disembelih mengalami peningkatan. Namun, peningkatan itu tidak berbanding lurus dengan menurunnya angka kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Kurban telah berakhir menjadi semacam ritual tahunan yang dirayakan nyaris tanpa makna.

Padahal, idealnya kurban mampu menjadi semacam instrumen untuk memangkas tingkat kemiskinan. Dalam cakupan yang lebih luas, kurban juga idealnya mampu menjadi ajang bagi terciptanya distribusi kekayaan dari kaum the have ke kelompok the have not. Dua hal ini akan tercapai jika kita mampu dan mau menafsirkan kurban melampuai kecenderungan nalar simbolistik-artifisial yang selama ini kadung menguasai alam bawah sadar sebagian besar umat muslim Indonesia.

Facebook Comments