Kurban: Ketika Ego Ditumbangkan dan Kepedulian Ditumbuhkan

Kurban: Ketika Ego Ditumbangkan dan Kepedulian Ditumbuhkan

- in Suara Kita
137
2

Hari Raya Idul Adha menjadi salah satu momentum penting bagi seluruh umat Muslim, bahkan seluruh umat manusia. Ibadah kurban tak sekadar rutinitas tahunan tentang menyembelih hewan ternak dan membagikannya. Dalam ibadah kurban, terpancar pesan dan spirit keimanan, ketakwaan, refleksi dan evaluasi diri, hingga kepedulian pada sesama.

Melalui ibadah kurban, seorang muslim belajar menguatkan ketakwaan kepada Allah Swt, lewat menyembelih hewan ternak. Seperti dilakukan Nabi Ibrahim, ketika dengan penuh ketakwaan, keikhlasan, dan kepatuhan total kepada Allah, hendak mengorbankan anaknya, Ismail, untuk melaksanakan perintah-Nya. Ujian berat tersebut bisa dilalui Nabi Ibrahim. Kepatuhan total berbuah manis ketika Allah Swt mengganti Ismail dengan hewan ternak  untuk dikorbankan.

Semangat ketaatan dan kepatuhan total Nabi Ibrahim tersebut lalu abadi lewat momentum ibadah kurban di Hari Raya Idul Adha yang dirayakan miliaran umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Kisah Nabi Ibrahim menjadi contoh, sekaligus motivasi bagi setiap Muslim untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Peningkatan ketakwaan tersebut menjadi esensi ibadah Kurban. Seperti kata “kurban” yang diambil dari kata qaraba-yaqrabu-qurbanan, yang artinya pendekatan atau mendekatkan diri kepada Allah Swt, dengan berkurban, seorang muslim diharapkan semakin dekat kepada Allah Swt (Suprianto: 2019).

Baca juga : Qurban: Menyembelih Ego Individualis untuk Mencapai Ridho Allah SWT

Ibadah kurban sebagai cara seorang muslim meningkatkan ketakwaan (mendekatkan diri pada Allah Swt), dengan sendirinya membuat ibadah tersebut tak dinilai berdasarkan besar kecil atau sedikit banyaknya hewan kurban yang dikorbankan seorang muslim. Tingkat ketakwaan-lah yang menjadi parameternya. Seperti firman Allah Swt: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (Al Hajj: 37).

 Tumbangkan ego

Narasi dalam Ibadah Kurban tak berhenti pada upaya peningkatan ketakwaan. Ketika hewan-hewan ternak dipotong kemudian dibagi-bagikan, dari sana terpancar makna, pesan, dan narasi panjang tentang upaya umat Muslim untuk membebaskan diri dari belenggu keegoisan, sifat-sifat rakus, individualis, bahkan sifat-sifat radikal.

Di tengah kehidupan modern atau era global yang semakin banyak mendorong orang berlaku egois, individualis, materialis, bahkan memaksakan kehendak dan bertindak radikal dan intoleran, ibadah kurban menghadirkan renungan mendalam tentang bagaimana kita bisa berusaha melepaskan diri dari jerat sikap-sikap negatif tersebut. Lewat menyembelih hewan kurban, yang kemudian dibagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan, kita belajar menekan atau menumbangkan segala sikap ke-diri-an kita, kemudian mengembangkan kepedulian kepada sesama dengan berbagi.

Jika kita perhatikan, berbagai persoalan sosial hari ini, seperti maraknya kejahatan, kriminalitas, terkikisnya moralitas, hingga maraknya pertengkaran, intoleransi, hingga kekerasan pada sesama, semua itu seringkali bermula dari individu yang tak sanggup mengalahkan sikap-sikap ke-diri-an yang bercokol dalam dirinya. Sikap egois, mementingkan atau mengutamakan diri sendiri ketimbang sesama ini, kerap menjerumuskan orang dalam laku-laku negatif, membuat orang gampang menerabas batas-batas etika, nilai-nilai moral, juga agama. Dari sana, menyeruak sikap-sikap negatif yang melukai kemanusiaan dan mencemari peradaban. Banyak orang gampang bertindak kriminal, berkata kasar, saling mencaci, melukai perasaan, bahkan melakukan tindakan kekerasan dan radikalisme.

Fenomena yang marak terjadi di masyarakat hari ini tersebut memerlukan refleksi. Kita mesti sama-sama evaluasi diri. Di momentum hari raya kurban ini, kita bisa menjadikannya sebagai ajang menumbangkan segala sifat kedirian atau keegoisan tersebut.

Dari empati, tumbuh peduli, lalu saling menghargai

 Sifat kedirian, atau sifat-sifat yang muncul semata karena dorongan nafsu diri mesti bisa ditumbangkan, karena merupakan sumber-sumber munculnya pertengkaran dan ketidakharmonisan sosial. Di sinilah, ibadah kurban adalah momentum untuk menumbangkan sifat-sifat negatif tersebut.

Faturrahman Ghufron (2016:72) menjelaskan, secara metaforis, hewan yang disembelih pada Idul Kurban mengajak kita melepaskan diri dari sifat “kebinatangan”; simbol ketidakberadaban yang membunuh sistem kepedulian. Dengan demikian, secara esensial, berkurban saat Idul Adha adalah momentum untuk menumbuhkan kepedulian. Ketika kita sanggup melepaskan diri dari segala keegoisan diri, maka terbukalah pintu kepedulian kita pada sesama. Egoisme dilepaskan, kepedulian ditumbuhkan.

Simbol kepedulian kepada sesama tersebut, dalam ibadah kurban, adalah dengan membagi-bagikan daging kurban kepada fakir miskin atau saudara kita yang berhak dan membutuhkannya. Lewat laku membagi-bagikan daging kurban, seseorang akan belajar berempati dan bersimpati dengan sesama. Sebab, seseorang akan tersadar bahwa ada begitu banyak orang yang masih sulit untuk sekadar bisa makan daging.

Ketika empati dan simpati tumbuh dan bersemi dalam hati seseorang, dengan sendirinya ini akan membuat seseorang semakin peka (tenggang rasa) dan peduli dengan sesama. Pada gilirannya, mentalitas peduli dan tenggang rasa tersebut akan berbuah menjadi sifat dan sikap positif yang menjadi fondasi terciptanya keharmonisan dan kedamaian di masyarakat. Seperti berseminya sikap saling menghormati, menghargai, toleransi, dan kasih sayang kepada sesama. Wallahu a’lam…

Facebook Comments