Kurban; Mengusung Semangat Ta’awun dan Tasamuh, Melunturkan Sifat Hewaniyah

Kurban; Mengusung Semangat Ta’awun dan Tasamuh, Melunturkan Sifat Hewaniyah

- in Suara Kita
135
0
Kurban; Mengusung Semangat Ta’awun dan Tasamuh, Melunturkan Sifat Hewaniyah

Pada hakikatnya, kurban pemaknaannya tidak hanya berhenti pada menyembelih hewan kurban dan dagingnya disedekahkan kepada fakir miskin. Secara filosofis kurban bisa berdimensi luas. Pengorbanan adalah sebagai sebuah konsekuensi logis dari keyakinan yang diperjuangkan untuk mencapai kesalehan, baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial. Hal ini tampak dari kesanggupan Nabi Ibrahim as yang menyembelih anaknya sendiri Ismail.

Dari sini dapat dikatakan berkurban jangan cuma dianggap sebagai ritual dan formalitas semata. Kerelaan berkurban mesti dimaknai sebagai laku prihatin, sebagai kesediaan mengorbankan rupa-rupa ego demi kepentingan yang besar dan mulia. Salah satunya yaitu menyembelih semua ego dalam diri manusia sampai dengan keserakahan yang ada dalam diri. Agar kembali pada sifat yang Ta’awun dan Tasamuh.

Secara harfiah Ta’awun memiliki makna perbuatan tolong-menolong antar sesama manusia sebagai perwujudan ketergantungan antara sesama manusia. Sedangkan Tasamuh berarti sama-sama berlaku baik, saling berbuat baik (Toleran dan tenggang rasa). Secara istilah tasamuh adalah suatu sikap yang senantiasa saling menghargai antar sesama manusia. Dari situ Ta’awun dan Tasamuh menjadi suatu landasan untuk menuai akhlak terpuji dalam pergaulan hidup, yang bisa melahirkan rasa saling menghargai antar sesama manusia.

Dalam konteks sekarang ini, saling menghargai ini tidak hanya ditunjukkan kepada sesama muslim semata, melain kepada semua manusia. Karena menghormati di sini mencakup makna yang luas, seperti misalnya mengedepankan sikap menasihati dalam kebaikan, tolong menolong, sampai dengan mengedepankan akhlak yang menyenangkan bagi orang lain. Sebagaimana yang terdapat dalam tasamuh yang menekankan kebaikan kepada mereka yang berbeda keyakinan. Dengan kata lain dalam momen sekarang ini, spirit kurban harusnya menjadi jalan untuk membangun solidaritas kemanusiaan. Seperti misalnya, berbagi daging kepada siapa saja tanpa memandang dari kiblat mana agama mereka berangkat. Sebab, apabila mereka berbeda dalam pandangan agama, mereka adalah saudara sesama manusia.

Menolong adalah kesediaan memberikan bantuan. Secara sadar, orang mulai memberi bantuan itu dari gerak hatinya. Kemudian bantuan itu diberikan dalam bentuk apa saja yang memang diperlukan orang yang mau ditolong. Baik dalam bentuk  ucapan,  perbuatan, ide, ataupun barang. Tentu dari sini seharusnya secara sadar kita paham, bahwa menjembatani kurban sebagai mediasi untuk menyuarakan kemanusiaan sangatlah relevan. Karena dengan mengamalkan sifat Ta’wun dan Tasamuh manusia akan bisa membunuh sifat hewaniyah yang dalam dirinya. Sifat egois, serakah, sampai dengan kebencian akan luntur dengan sendirinya.

Sejalan dengan diungkapkan Gus Mus yang menekankan, pengorbanan tidak hanya menyembelih kurban. Pengorbanan adalah atau mestinya merupakan pentulan dari kecintaan dan kebaktian itu, dari pengorbanan, bisa diukur seberapa dalam kecintaan dan seberapa agung kebaktian seseorang. Kita bisa saja mengaku cinta atau mengabdi kepada pujaan kita. Kita bisa saja menyatakan hal yang mulia demi Tuhan, demi tanah air, demi rakyat, demi siapa atau apapun yang kita cintai. Namun, tanpa kesediaan kita berkorban untuknya, pertanyaan itu tidak ada artinya.

Gus Mus dalam esai ya Berkorban Tak Sekedar Berkorban kembali memberikan sebuah risalah bagaimana pentingnya ketulusan hati, keikhlasan, dan tentunya dalam keadaan sadar untuk berbuat kebaikan. Ungkapan ini kembali menekankan bagaimana Ta’awun dan Tasawuh sangat dianjurkan kepada setiap manusia. Sebab, selain mengabdi kepada Tuhan, tugas manusia ialah mengabdi kepada diri sendiri, yaitu berbuat baik kepada orang lain. Setiap kebaikan yang kita berikan kepada orang lain, pasti aka melahirkan kebaikan untuk Tuhan. Sebab, sebaik-baiknya manusia ialah mereka yang bisa berguna bagi manusia lainya.

Facebook Comments