Kurban: Menyembelih Ego, Menegakkan Kemanusiaan

Kurban: Menyembelih Ego, Menegakkan Kemanusiaan

- in Suara Kita
308
1
Kurban: Menyembelih Ego, Menegakkan Kemanusiaan

Tanggal 10 Dzulhijjah dalam setiap tahunnya terdapat sebuah perintah ibadah Qurban. Pelaksanaannya dengan cara menyembelih binatang baik kambing, domba atau sapi dan unta atau kerbau. Kegiatan ini dilakukan selama empat hari yakni tanggal 10-13 Dzulhijah atau tepatnya pada saat setelah Shalat Iedul Adha dan Hari Tasyrik. Keempat hari tersebut masuk dalam hari raya dan dilarang melakankan puasa di dalamnya. Qurban  yang diajarkan Nabi Muhammad saw. baru dimulai tahun 2 H. Dengan demikian, Qurban sebagai ibadah menjadi bagian dari perayaan hari Iedul adha atau haji.

Perintah untuk berkorban dalam rangka Iedul Adha adalah bagian dari peringatan peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim a.s. Hal tersebut terkait erat bagian dari pengorbanan yang sesungguhnya. Ibrahim a.s. seorang Nabi yang termasuk terpilih dikenal dengan ulul azmi yang merupakan bapak monoteisme. Beliau sangat menantikan buah hati yaitu anak. Bahkan dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa kekayaan Ibrahim a.s. yang luar biasa itu menjadikan nazar atas hal pengorbanan atas anak. Padahal pada ketika bernazar belum ada anaknya Ismail a.s. Dengan demikian, peristiwa inilah menguji atas sosok Nabi  Ibrahim a.s. sehingga tersapat perintah kurban.

Kenyataan di atas juga ditemukan ragam Qurban sebelumnya. Hal tersebut setidaknya pada masa Nabi Adam a.s. di mana kedua putera beliau Qabil dan Habil diperintahkan berqurban dalam memperebutkan Iqlima. Hal inilah sejarah pertama ummat manusia dalam menentukan calon isteri di mana awalnya kehidupan manusia berasal dari Hawa dan Adam yang memiliki anak-anak yang kembar.

Setidaknya terdapat 40 anak melalui 20 kali persalinan Ibu Hawa. Kisah tersebut dapat dilihat dalam Q.S. al-Maidah (5): 27. Kemudian Allah swt. menerima Qurbannya Qabil yang pada waktu itu seorang petani dan mengorbankan satu karung gandum dan Habil seorang perternak yang mengorbankan seekor kambing. Allah swt. menerima kurbannya Qabil daripada Habil. Dengan demikian, Qurban harus memilki dimensi keikhlasan dan ketulusan sejati.

Kurban adalah bagian dari mendekatkan diri kepada Allah swt. atas segala nikmat yang diberikan Allah swt. Bentuk mendekatkan tersebut adalah dengan shalat dan menyembelih hewan qurban. Hal teresebut sebagaimana dalam Q.S. al-Kausar (108): 1-2. Sehingga Qurban sebagai sebuah bentuk ketulusan kepada Allah swt. yang dinilai adalah ketaqwaannya bukan daging hasil qurban.

Baca Juga : Kurban: Ketika Ego Ditumbangkan dan Kepedulian Ditumbuhkan

Daging qurban ini dibagikan ke mereka yang membutuhkan yaitu fakir miskin dengan membunuh keangkuhan pribadi menuju kebersamaan sesama manusia. Allah swt. tidak mengambil apapun kecuali ketaqwan atau ketundukan ummat manusia. Kenyataan ini tergambar dalam Q.S. al-Hajj (22): 37.  Dengan demikian, orang yang beriman harus melaksanakan kurban sebagai bentuk bersyukur atas segala nikmatnya.

Berkurban ini harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Mereka yang tidak pernah melakukan kurban oleh Nabi Muhammad saw. tidak diperbolehkan untuk mendekat pada tempat shalat. Artinya, mereka yang beragama Islam harus peduli sesama manusia. Kepedulian ini akan dapat mengantarkan kepada derajat kemanusiaan yang tinggi. Sehingga mereka yang tidak mampu mempedulikan saudaranya, maka sebaiknya tidak mendekat ke tempat shalat. Hadis tersebut memperkuat  Q.S. al-Maun (107): 1-3. yang menyatakan beragama dan berdusta.

Mereka ini tidak mampu mengorbankan harta bendanya untuk keperluan sosial yaitu pemberian makan kepada anak yatim. Seorang yang beriman harus berbuah manis dengan kepentingan sosial  atau masyarakat. Dengan demikian, melalui korban inilah menjadikan pemeluk agama Islam akan peduli dengan sesama dan pada akhirnya Islam tidak mungkin terjadi kemiskinan jika kepedulian sesama  selalu meningkat.

Pengorbanan dalam ajaran Islam tidak saja terjadi pada iedul Adha. Islam dalam ajarannya selalu mengkaitkan iman dan amal sholeh. Termasuk dalam kegiatan Puasa Ramadhan dengan adanya zakat fitrah. Hal lain adalah dalam konsep zakat adalah agar kekayaan tidak hanya terkonsentrasi pada mereka yang kaya. Beragam konsep tersebut menjadikan ummat Islam seharusnya lebih peduli terhadap sesama yang membutuhkan. Sehingga adanya korelasi keimanan dengan ibadah sosial. Dengan demikian, korban sebagai bentuk ajaran Islam yang sejati yakni beriman dan beramal shaleh.

Simbol mengalirkan darah binatang di atas dalam berkuqurban adalah membunuh ego pribadi. Penyakit inilah yang sering menjadi perusak seseorang dalam relasi kehidupan kemanusiaannya. Pribadi manusia menjadi unggul satu dengan yang lainnya dengan lahirnya kesombongan, keserakahan, rakus, iri, dengki, tidak senang melihat kesuksesan yang lain serta beragam jenis sifat lainnya.

Hal tersebut juga terbukti keegoan antara Habil dan Qabil serta Ibrahim sehingga, Alalh swt. menjadikan seekor binatang sebagai penggantinya. Sehingga dalam menampilkan citra diri yang baik harus menghindarkan hal-hal negatif yang menjadikan dimensi kemanusiaan ditegakkan dan kebersamaan di antara ummat manusia. Bukankah ummat manusia itu sama tidak ada perbedaan satu dengan lainya kecuali ketaqwannya. Melalui taqwa inilah salah satu dimensi keegoan itu ditaruhkan untuk peduli sesama  dengan membangun relasi perdamaian di muka bumi ini. Dengan demikian, setidaknya tragedi bunuh membunuh di antar anak Adam Qabil dan Habil tidak kembali terjadi.

Facebook Comments