Kurban untuk Menghargai Nyawa Manusia

Kurban untuk Menghargai Nyawa Manusia

- in Suara Kita
217
2

Secara historis, pelaksanaan ibadah kurban dimulai sejak perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih puteranya yang bernama Ismail. Namun demikian, Allah SWT juga mengajarkan kepada umat manusia akan pentingnya nyawa manusia. Meski Allah SWT telah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, saat Nabi Ibrahim telah siap melaksanakannya, Allah SWT justru “mencabut” perintah tersebut dan mengganti pengorbanan Nabi Ibrahim dengan hewan kurban dari surga.

Kisah penarikan ulang perintah Allah SWT dalam penyembelihan Ismail ini sangat erat kaitannya dengan harga diri manusia. Jangan sampai manusia menghilangkan nyawa manusia lain tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam peristiwa kurban Nabi Ibrahim yang dinilai bukan penyembelihan terhadap Ismail-nya, namun keimanan Nabi Ibrahim yang diwujudkan dengan pengorbanan yang luar biasa.

Bagaimana mungkin, seorang ayah tega menyembelih anak laki-lakinya sendiri. Padahal anak tersebut lahir dari pengharapan yang cukup lama. Setelah anak memperlihatkan kelucuan dan kecerdikan yang menyenangkan orang tua, justru Allah SWT mengujinya agar menyembelih.

Baca juga : Idul Kurban: Mengorbankan Naluri Kekerasan dan Mengobarkan Kasih Sayang

Hanya saja, menjadi persoalan tersendiri di akhir zaman di mana nyawa manusia sering kali menjadi bulan-bulanan sebagian kelompok (yang mengaku) muslim yang mengklaim dirinya berjihad. Tanpa alasan yang jelas, terdapat polisi yang sedang bertugas mengamankan ketertiban lalu lintas di pos-posnya dilempar bom. Di tempat lain terdapat orang yang meledakkan diri dengan bom di tempat-tempat umum serta hotel. Harapannya, dengan dirinya meledakkan diri dengan bom, maka akan banyak orang yang meninggal dunia pula.

Yang mengherankan atas peristiwa bunuh diri dan penghilangan nyawa manusia ini diyakini sebagai bentuk jihad fi sabilillah. Mereka seakan tidak pernah membaca firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29).

Para pelaku kekerasan yang dengan mudahnya membunuh diri sendiri dan orang lain dengan mengatasnamakan agama semacam ini rata-rata dari kalangan pemuda yang awalnya belum memiliki pondasi agama yang kuat. Rata-rata dari mereka adalah anak-anak cerdas yang semenjak kecil belum banyak mengenyam Pendidikan agama.

Namun demikian di masa remajanya, ia merasa perlu belajar agama sehingga menjadi manusia yang shalih di hadapan Tuhan. Hanya saja, karena mereka mendapatkan “guru” yang mengajak untuk melakukan tindak kekerasan, dengan semangat ingin menjadi muslim sejati, ia pun mengikuti segala perintah guru tersebut.

Bermula dari sinilah, umat muslim, terutama para generasi mudanya mesti menyadari bahwa agama Islam sangat menghargai nyawa manusia. Melalui perlaksanaan Hari Raya Idul Adha, di mana Allah SWT mengganti nyawa Ismail dengan nyawa domba menunjukkan bahwa hari besar ini juga menjadi pengingat bahwa setiap muslim mesti menebar kasih sayang dan menjaga nyawa sesama. Bahkan dengan mengurbankan hewan juga berarti melangsungkan kehidupan manusia karena daging kurban akan dikonsumsi manusia.

 Selain itu, umat muslim mesti waspada terhadap aliran kekerasan yang sewaktu-waktu bisa merekrut anggota baru dari diri dan keluarga kita masing-masing. Mari kita rawat diri dan keluarga dari virus kekerasan dengan terus mengaji agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

 

Wallahu a’lam.

Facebook Comments