Lailatul Qadardan Meraih Fitrah Kemanusiaan

Lailatul Qadardan Meraih Fitrah Kemanusiaan

- in Suara Kita
250
2
Lailatul Qadardan Meraih Fitrah Kemanusiaan

10 hari terakhir di bulan suci Ramadhan menjadi hari-hari yang sangat istimewa. Menanti Lailatul qadar menjadi perbincangan yang cukup menarik di kalangan umat muslim. Orang-orang berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan i’tikaf, shalat tasbih hingga berbagai macam ibadah dilaksanakan di masjid.

Setiap umat muslim menginginkan mendapatkan keutamaan dari Lailatul qadar dengan berbagai ritual. Lailatul qadar sudah lazim dikenal sebagai malam beribu bulan. Keberkahan yang dinanti-nanti diupayakan agar nilai ibadah yang dilaksanakan oleh seseorang berlipat ganda. Dikatakan sebagai malam seribu bulan, berlandaskan ayat dalam Al-Qur’an, yaitu surat al-Qadr ayat 1-5. “Sesungguhnya kami telah menurukannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Di dalam beberapa literatur, keutamaan Lailatul qadar sangat luar biasa, salah satunya sebagai petunjuk manusia untuk memperjelas dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Pemahaman yang mashur diketahui oleh masyarakat awam, bahwa keutamaan yang diperoleh dari malam itu adalah berlipat gandanya pahala yang dihasilkan oleh seorang mukmin. Tidak heran apabila banyak masyarakat yang berbondong-bondong untuk menunaikan ibadah malam hingga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kualitas hidup.

Meraih Fitrah Kemanusiaan

Bagi penulis tafsir Al-Misbah, Prof. Muhammad QuraishShihab dalam bukunya “Membumikan Al-Qur’an (1999)” menjelaskan banyak hal terutama tentang makna “qadar”. Prof. Quraish menjelaskan tiga arti pada kata tersebut. Pertama adalah qadar, yang berarti penetapan atau pengaturan sehingga dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia.

Baca juga : Meraih Ampunan di Malam Lailatul Qadar

Sehingga Al-Qur’an turun pada malam kemuliaan itu. Kitab suci tersebut diturunkan sebagai upaya pegangan hidup manusia. Ayat-ayat yang terkandung dalam kitab yang dijadikan rujukan pedoman hidup manusia itu, untuk mengajak manusia kepada agama yang benar.

Kedua,  Prof. Quraish memaknai qadar sebagai kemuliaan. Berarti malam yang mulia tiada bandingannya. Kemuliaan pada malam itu dikarenakan terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an serta menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Ketiga, qadar berarti sempit. Prof. Quraish memaknai malam yang sempit karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, sepertihalnya ditegaskan dalam Surat Al-Qadar. Turunnya para malaikat untuk mengatur segala urusan.

“Menanti” malam yang mulia tersebut, layaknya kita sembari memperbaiki kualitas diri dan kualitas spiritualitas seorang hambar. Beribadah yang tulus, tanpa mengharapkan pujian dari kerabat atau orang lainnya. 10 hari terakhir menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas diri seseorang, baik sebagai makhluk individu yang bertanggung jawab atas perbuatan dan ucapannya dihadapan Allah Swt., serta kualitas diri seseorang di dalam kelompok yang terdapat norma, etika dan nilai-nilai agama.

Kemuliaan Lailatul qadar juga berbanding lurus dengan kemuliaan saat-saat diturunkannya Al-Qur’an. Sebagaimana dijelaskan Syekh Abdul Halim Mahmud, makna turunnya Al-Qur’an adalah turunnya risalah yang penuh kasih sayang secara menyeluruh dan tidak pandang bulu. Kasih sayang menyeluruh mempunyai arti kasih sayang terhadap setiap alam. Semua makhluk hidup mendapatkan rahmat dari Allah Swt.

Dalam rangka menyambut malam Lailatul qadar dan kemenangan dalam bulan suci Ramadhan, layaknya kita harus kembali seperti fitrah manusia diciptakan di bumi ini. Fitrah manusia sebagai khalifah, menjaga alam, menjaga persaudaraan, memperbaiki akhlak, perbuatan dan segala ucapan yang keluar. Hari-hari terakhir dalam bulan suci Ramadhan selayaknya kita harus introspeksi diri untuk memperbaiki kualitas diri sebagaimana fitrah kita diciptakan di dunia ini.

Facebook Comments