Langkah Cegah Narasi Segregasi: Kenali, Hindari, dan Program Optimalisasi

Langkah Cegah Narasi Segregasi: Kenali, Hindari, dan Program Optimalisasi

- in Suara Kita
161
0
Langkah Cegah Narasi Segregasi: Kenali, Hindari, dan Program Optimalisasi

Ustaz Abdul Somad (UAS) beberapa hari lalu mengalami pencekalan saat melakukan migrasi ke Singapura. Terdapat banyak komentar terkait peristiwa ini, namun yang perlu diperhatikan adalah indikator negara lain melabelkan seorang penceramah agama sebagai sosok yang membawa dampak negatif.

Dikutip dari Republika.co.id, Kementerian Dalam Negeri Singapura memberikan pernyataan yang jelas atas penolakan Ustaz Abdul Somad (UAS). “Somad dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat yang cenderung multiras dan multiagama Singapura,” tulis Kementerian Dalam Negeri Singapura dalam pernyataan resmi Selasa (17/5/2022).

Kemudian Kementerian Dalam Negeri Singapura juga memberikan beberapa contoh ceramah yang dikategorikan ekstremis dan segregasi. Misalnya beberapa komentar Ustaz Abdul Somad (UAS) yang dianggap merendahkan komunitas agama lain, seperti pernyataan Ustaz Abdul Somad (UAS) kepada pemeluk agama Kristen dengan mengatakan bahwa salib sebagai tempat tinggal jin (roh/setan). Ustaz Abdul Somad (UAS) juga mengantakan bahwa bom bunuh diri menjadi sah apabila dipandang dari konteks konflik Israel-Palestina.

Memang gaya dakwah Ustaz Abdul Somad (UAS) lebih menggebu-gebu, lurus, tidak berkompromi, dan ada beberapa pernyataan yang mendeskritkan penganut agama lain. Sikap yang terbilang kaku pada Ustaz Abdul Somad (UAS) cenderung memunculkan masalah apabila dikaitkan dengan sikap toleransi di tengah masyarakat. Dan ini berbeda jauh dengan ceramah yang dibawakan oleh ulama lain seperti Quraish Syihab, yang terlihat lebih toleran, berkompromi, dan memberikan ruang kepada mereka yang berbeda.

Lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimana sebenarnya pelabelan ustaz yang membawa narasi ekstremis dan segregasi di Indonesia? Menurut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terdapat 5 indikator untuk melabelkan seorang penceramah membawa narasi ekstremis dan segregasi.

(1) mengajarkan kepada khalayak umum tentang ajaran anti-Pancasila dan pro-ideologi khilafah. (2) Mengajarkan paham takfiri dengan menuduh pihak lain sebagai kafir karena berbeda pemahaman ataupun berbeda agama. (3) Menanamkan jiwa antipemimpin dengan cara membenci dan membangun rasa tidak percaya kepda pemerintah. Hal ini dapat dilakukan dengan bentuk yang bermacam-macam, seperti penyebaran fitnah, berita hoaks, ataupun ujaran kebencian. (4) bersikap eksklusif pada perubahan dengan menonjolkan sikap intoleransi pada keragaman tersebut. (5) bersikap anti-budaya dan anti-kearifan lokal.

Apabila ditelisik secara teliti, kelima indikator tersebut sebenarnya sama dengan apa yang diterapkan di Singapura. Akan tetapi, dalam penerapannya, ada beberapa kelemahan dan kendala, sehingga narasi ekstremis dan segregasi masih nyaring terdengar di Nusantara, bahkan sampai di negara tetangga. Oleh karena itu, untuk mencegah narasi segregasi dan ekstremis semakin melebar di Indonesia diperlukan beberapa langkah yang tegas. Jangan sampai ulama-ulama yang berasal dari Indonesia dikenal sebagai ulama yang membawa dampak negatif dan menyebarkan narasi segregasi.  

Hal utama yang harus diperhatikan adalah langkah optimalisasi di semua kebijakan, baik bersangkutan dengan program ataupun jerat hukum terhadap penceramah ekstremis. Program-program yang dibuat oleh pemerintah sebenarnya sudah bagus dan selaras dengan program Islam rahmatan lil alamin. Begitupun dengan hukum yang dibuat, mungkin kita akan menemukan banyak hukum yang mengarah pada hukuman berat kepada siapapun yang melakukan tindakan penyebaran narasi ekstremis.

Oleh karena itu, optimalisasi menjadi langkah yang signifikan untuk memaksimalkan semua hal yang telah dilakukan oleh pemerintah. Jangan sampai apa yang sudah dibuat, disusun, dan dijalankan tidak berdampak apa-apa. Sehingga narasi-narasi ekstremis masih menyebar dan tumbuh kembali bibit radikal yang mengancam kedaulatan Indonesia.

Tentu bukan suatu perkara yang mudah untuk memaksimalkan apa yang telah dibuat. Dibutuhkan kerja keras dan kerjasama semua pihak untuk bersama-sama terlibat dalam proses pencegahan narasi segregasi dan ektremis. Nilai gotong royong yang diusung oleh pendahulu, dapat dijadikan langkah strategis untuk menjalankan semua program. Kekuatan Indonesia ada pada nilai kebersamaannya untuk menjalankan suatu program. Karena dengan bersatu, Indonesia bisa tumbuh, dan dengan bersatu narasi ekstremis dan segregasi bisa runtuh.

Facebook Comments