Lebaran; Kembali Ke Fitrah Manusia yang Anti-Kekerasan

Lebaran; Kembali Ke Fitrah Manusia yang Anti-Kekerasan

- in Suara Kita
187
0

Gema takbir bertalu-talu dari seantero penjuru. Menandari berakhirnya bulan suci Ramadan. Sekaligus menengarai datangnya Idul Fitri. Ramadan dan Idul Fitri merupakan ritus sekaligus siklus tahunan dalam kehidupan keagamaan kita. Ramadan bisa dikatakan sebagai semacam stasiun pemberhentian, tempat kita melakukan transit sebelum kita melanjutkan perjalanan panjang yang entah kapan akan berakhir.

Namun, di saat yang sama di belahan dunia lain drama kekerasan masih saja terjadi. Dua hari berturut-turut jelang Idul Fitri rentetan bom meledak di Afganistan. Berita terbaru menyebut ledakan bom itu didalangi oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria). Puluhan orang yang tengah melaksanakan jamaah sholat Jumat tewas. Ratusan lainnya mengalami luka-luka. Kekerasan, kapan pun dan dimana pun terjadi pantas kita kutuk. Namun, kekerasan di momen Ramadan dan Idul Fitri tentu sudah di luar batas nalar. Apalagi jika kekerasan itu diatasnamakan kepentingan membela agama. Peristiwa brutal itu jelas menodai kesucian Ramadan sekaligus merusak kebahagiaan muslim dalam menyambut Idul Fitri.

Ramadan ialah ruang jeda untuk kita merefleksikan kembali apa yang telah kita capai di bulan-bulan sebelumnya. Ramadan juga menjadi ruang kita untuk menyegarkan sekaligus mengisi ulang spiritualitas kita yang boleh jadi mengalami degradasi kualitas akibat ketatnya tuntutan kehidupan. Seperti kita tahu, hidup di era modern dengan segala tantangannya kerap membuat kita lalai pada fitrah kemanusiaan kita.

Hasrat akan kekuasaan pada ranah ekonomi maupun politik kerap mendorong kita berperilaku agresif. Merasa diri paling benar sembari menyalahkan orang lain. Tidak jarang pula kita melakukan kekerasan, baik verbal maupun fisik demi mengokohkan superioritas kita di hadapan orang lain. Tidak bisa dimungkiri bahwa kehendak untuk bertindak agresif bahkan destruktif itu dimiliki oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Puasa Ramadan mengajarkan manusia bahwa tindakan agresif dan destruktif itu bertentangan dengan fitrah kemanusiaan.

Sehebat apa pun, sepintar apa pun dan seberkuasa apa pun kita, manusia pada dasarnya tetaplah hamba Allah yang wajib mengabdi kepadanya. Tidak ada alasan dan pembenaran apa pun atas tindakan manusia yang merasa diri lebih baik dan superior ketimbang orang lain. Ketika berpuasa, semua manusia tampak sama di mata Allah; sama-sama lapar dan tidak berdaya. Di titik ini, puasa mengajarkan kita pada prinip dan nilai humanisme (kemanusiaan) dan egalitarianisme (kesetaraan).

Idul Fitri Sebagai Modal Kultural Melakoni Rekonsiliasi Sosial

Momen Idul Fitri kian meneguhkan karakter Islam yang humanis-egaliter. Di hari Idul Fitri, semua umat muslim merasakan kegembiraan yang sama. Dalam konteks Indonesia, wajah Islam yang humanis-egaliter itu juga mewujud pada tradisi halal bi halal, dan silaturahmi yang kental dengan nuansa persaudaraan. Semua umat muslim saling maaf-memaafkan. Dari sisi sosiologis, halal bi halal ialah simbol rekonsiliasi sosial dimana kesalahan di masa lalu lebur dalam sikap saling mengikhlaskan.

Rekonsiliasi sosial merupakan mekanisme paling manjur dalam menyelesaikan konflik. Dimana pihak-pihak yang bertikai atau berseteru saling merendahkan diri, mengakui kesalahan, dan berkomitmen untuk menjalin perdamaian. Simbolisasi yang demikian ini relevan dengan kondisi kebangsaan yang belakangan ini riuh oleh narasi perpecahan, permusuhan, bahkan kekerasan.

Idul Fitri dengan segala simbolisasinya mulai dari silaturahmi dan halal bi halal kiranya bisa menjadi sarana untuk meredam kultur kebencian dan kekerasan yang belakangan ini menghantui relasi kebangsaan kita. Idul Fitri harus menjadi momentum untuk menggalang silaturahmi dan halal bi halal kebangsaan. Indahnya Idul Fitri idealnya bisa dijadikan sebagai modal kultural untuk kembali ke fitrah manusia yang anti-kekerasan.

Harapannya, pasca Ramadan ini kita kembali ke kehidupan normal tanpa memendam kebencian dan kekerasan terhadap liyan. Hari-hari pasca Ramadan harus kita isi dengan spirit harmoni dan toleransi antar-sesama anak bangsa. Kemenangan di hari suci harus diwujudkan dengan semangat memberantas kultur kekerasan hingga ke akarnya.

Maka dari itu, di tengah euforia dan gegap gempita perayaan Idul Fitri ini mari sisakan sedikit ruang dalam jiwa kita untuk sekadar berkontemplasi. Pastikan di dalam jiwa kita tidak tersisa lagi hasrat untuk membenci apalagi bertindak kekerasan terhadap liyan. Momen Idul Fitri kiranya bisa mengembalikan kita pada fitrah kita yang anti-kebencian dan kekerasan. Semoga.

Facebook Comments