Lima Musuh Yang Mengancam Kesaktian Pancasila

Lima Musuh Yang Mengancam Kesaktian Pancasila

- in Suara Kita
767
0
Lima Musuh Yang Mengancam Kesaktian Pancasila

Tanggal 1Oktober dikenal sebagai Hari Kesaktian Pancasila mestinya menjadi momentum yang tepat untuk meneguhkan jiwa-jiwa Pancasila. Sejarah telah mencatat keberhasilan Pancasila sebagai ideologi yang mampu menyatukan Bangsa dalam menghadapi pemberontakan G30 S. Kini, di lembar sejarah yang berbeda, kesaktian Pancasila kembali diuji. Bukan lagi oleh ideologi komunisme, melainkan oleh sejumlah persoalan.

Jika dipetakan, setidaknya ada lima tantangan terberat Pancasila di era kiwari. Pertama, tantangan terkait maraknya aksi intoleransi dan radikalisme bahkan ekstremisme atas nama agama. Fenomena ini jelas merupakan tantangan bagi sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam perspektif Pancasila, konsep ketuhanan dan keagamaan idealnya bertumpu pada sikap toleran, inklusif dan moderat. Radikalisme dan ekstremisme sudah sepatutnya tidak mendapatkan tempat di bumi NKRI.

Kedua, tantangan berupa maraknya tindakan-tindakan yang melanggar hak asasi manusia (HAM). Hal ini bertentangan dengan sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Pasca Reformasi, kasus pelanggaran HAM paling banyak justru dilakukan oleh aktor non-negara (non-actor state) alias masyarakat sipil. Paling banyak ialah pelanggaran terhadap kebebasan beragama bagi kaum minoritas. Hal ini sebenarnya masih ada kaitannya dengan problem ihwal radikalisme dan ekstremisme seperti disebut di atas.

Ketiga, tantangan terkait potensi disintegrasi (perpecahan) bangsa yang bertentangan dengan sila ketiga, Persatuan Indonesia. Potensi perpecahan bangsa itu mewujud ke dalam banyak bentuk. Salah satu yang paling vulgar ialah munculnya gerakan separatisme berbasis primordialisme. Misalnya seperti yang terjadi di Papua belakangan ini. Separatisme berbasis primordialisme pada dasarnya sama berbahayanya dengan radikalisme-ekstremisme berbasis agama.

Keempat, tantangan berupa praktik politik kotor seperti politik identitas dan politik transaksional yang memunggungi semangat sila keempat, “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan”. Seperti kita lihat, pasca Reformasi arah demokrasi kita kian menjauh dari nilai Pancasila dan mengarah pada liberalisme.

Kelima, tantangan terkait masih lebarnya jurang kesenjangan ekonomi dan sosial. Kondisi ini tentu tidak sesuai dengan sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.  Harus diakui bahwa di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi yang terus naik dalam dua dekade ini, ada problem kesejangan sosial dan ekonomi yang sampai saat ini belum sepenuhnya teratasi.

Dari kelima tantangan itu, harus diakui bahwa problem terkait merebaknya ideologi radikal-ekstrem yang bertendensi anti-NKRI dan Pancasila merupakan tantangan alias musuh terberat. Bagaimana tidak? Para pengusung ide Radikalisme dan ekstremisme agama secara jelas dan terbuka menyatakan bahwa NKRI dan Pancasila ialah representasi thagut, kafir dan tidak sesuai dengan Islam.

Radikalisme-Ekstremisme Sama Bahayanya dengan Komunisme

Tidak hanya berhenti sampai di situ, para pengusung radikalisme-ekstremisme berbasis agama itu juga mengajak masyarakat terutama simpatisannya untuk mendongkel Pancasila dan menggantikannya dengan ideologi Islam. Jika disikapi secara permisif, bukan tidak mungkin kaum radikal-ekstrem kanan ini akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kaum komunis di era 1960-an, yakni menggalang kekuatan untuk makar; melawan pemerintahan yang sah. Gejala-gejala itu sebenarnya sudah tampak sejak beberapa tahun belakangan ini.

Kaum radikal-ekstrem giat mempropagandakan ideologinya secara masif ke seluruh lapisan masyarakat. Mereka juga menyusup ke setiap  lini organ kemasyarakatan hingga ke lembaga pemerintah. Di saat yang sama, mereka juga menggalang kekuatan untuk mendeskreditkan pemerintah melalui beragam hoaks dan narasi provokasi. Cara dan strategi ini mirip layaknya kaum komunis di masa lalu ketika ingin merobohkan NKRI.

Di tengah segala ancaman itu, terutama terkait radikalisme-ekstremisme berbasis agama, tidak ada jalan lain kecuali meneguhkan kesaktian Pancasila. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meneguhkan kesaktian Pancasila. Salah satunya melalui pendidikan. Saat ini kita membutuhkan desain pendidikan nasional yang efektif mendorong munculnya individu-individu Pancasilais. Yakni individu yang menjiwai setia sila dalam Pancasila.  

Penanaman nilai Pancasila, utamanya di kalangan generasi muda ialah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Apalagi di era digital ini, dimana anak muda akan bersentuhan dengan segala ideologi asing yang tersaji di dunia maya. Jika tidak dibententi dengan prinsip Pancasila sejak dini, ada kemungkinan mereka akan kehilangan jati-dirinya sebagai manusia Indonesia.

Terakhir, namun tidak kalah pentingnya ialah kita harus membenahi sektor ekonomi dan sosial kita. Ke depan, kita berharap kesenjangan ekonomi dan sosial bisa dipangkas ke titik paling minimal. Desain pembangunan dengan demikian harus bergeser orientasinya dari mengejar pertumbuhan vertikal menjadi menjadi horisontal. Yakni menciptakan pemerataan kesejahteraan.

Facebook Comments