Lindungi Anak dari Empat Kerentanan Terserang Radikalisme

Lindungi Anak dari Empat Kerentanan Terserang Radikalisme

- in Suara Kita
262
0
Lindungi Anak dari Empat Kerentanan Terserang Radikalisme

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2019 disebutkan beberapa kriteria individu atau kelompok yang rentan terpapar paham radikal terorisme. setidaknya ada empat kriteria yang dinyatakan : 1) memiliki akses terhadap informasi yang bermuatan paham radikal Terorisme; 2) memiliki hubungan dengan orang/kelompok orang yang diindikasikan memiliki paham radikal Terorisme; 3) memiliki pemahaman kebangsaan yang sempit yang mengarah pada paham radikal Terorisme; dan/atau 4) memiliki kerentanan dari aspek ekonomi, psikologi, dan/atau budaya sehingga mudah dipengaruhi oleh paham radikal Terorisme.

Keempat kriteria ini sejatinya bisa melekat dalam diri siapapun dan dengan latar belakang apapun. Namun, dalam konteks anak beberapa kriteria justru sangat terpenuhi. Jika dikatakan akses terhadap informasi atau konten tentang radikalisme usia anak dini pun saat ini bisa mengakses dengan muda. Di era digital, radikalisme yang bermetamorfosa dari bentuk lama ke bentuk baru dalam sebaran informasi digital memungkinkan siapapun termasuk anak untuk mengakses informasi tersebut.

Kriteria kedua hubungan dengan orang yang memiliki paham radikalisme. Anak-anak tentu tidak bisa membedakan mana individu yang memiliki paham radikal. Hubungan itu bisa terjadi di lingkungan pertemanan atau pun di lingkungan sekolah. Jika teman atau guru melakukan penanaman indoktrinasi dengan cara halus tentu anak-anak juga tidak pernah pula akan menyadari.

Kriteria ketiga tentang pemahaman yang sempit akan dialami semua orang. Namun, pada anak usia dini pemahaman tentang wawasan kebangsaan itu memang belum menjadi unsur penting yang banyak ditanamkan oleh orang tua bahkan guru sekalipun. Padahal, wawasan kebangsaan sejatinya bukan pelajaran formal, tetapi tentang pembentukan karakter dan perilaku.

Keempat, aspek kerentanan psikologi, ekonomi dan budaya kerap menjadikan anak sebagai korban. Anak yang hidup dengan kerentanan psikologis karena prahara di rumah tangga yang melibatkan orang tua atau himpitan ekonomi yang menyebabkan dia terlantar di jalanan akan membuka ruang-ruang kerentanan yang lebar. Siapa yang akan peduli dengan kondisi mereka?

Upaya Melindungi Anak untuk Indonesia Maju

Sejatinya parenting bukan sekedar urusan orang tua dalam keluarga inti, tetapi juga melibatkan seluruh pihak. Sebagai orang tua tentu kita harus mengetahui perubahan sikap yang terjadi pada anak serta harus cepat tanggap jika melihat anak-anak telah menunjukkan gejala-gejala yang di luar sikapnya yang sebelumnya. Di level orang tua yang harus disadari jika anak-anak mulai membenci orang di luar yang berbeda, mulai bersifat keras, dan bahkan tidak mau berteman dengan teman yang dinilai tidak satu golongan dengannya.

Pada kondisi inilah, orang tua harus segera mengenal anaknya dengan baik, supaya dapat melihat perubahan yang terjadi pada si anak. Sikap proaktif orang tua dalam memantau praktik pendidikan secara daring dan secara aktif berdialog dengan anak-anak di rumah merupakan cara terbaik melindungi anak. Untuk menciptakan lingkungan toleran, orang tua dapat melakukan pendekatan serta kerjasama di semua lingkungan sekitar anak.

Bagaimana pun orang tua merupakan lini utama dalam menjaga anak-anak dari praktik-praktik intoleransi. Jika terjadi kesalahan atau indoktrinisasi kepada anak, orang tua hendaknya memberikan pendekatan secara bertahap dan dengan cara halus. Karena jika orang tua memberikan tekanan yang berlebih kepada anak, malah akan membuat anak menjadi merasa tersudutkan. Sikap inilah yang dapat memicu anak untuk mulai merahasiakan informasi apapun yang dia terima dari orang tua.

Apa yang sebenarnya bisa dilakukan untuk menangkal radikalisme sejak dini. Orang tua dan lingkungan anak seperti pertemanan, lingkungan sekolah harus mampu memupuk anak-anak dengan karakter mengasihi, menghargai, dan menerima orang lain apa adanya. Pintu masuk radikalisasi adalah ketidaksukaan dan kebencian terhadap yang berbeda.

Karakter penting yang harus ditanamkan pada anak sejak dini sebagai benteng dari pengaruh paham radikalisme adalah menjadikan anak lebih terbuka terhadap perbedaan dan mempunyai mental yang siap menghadapi perubahan. Penanaman ini tidak perlu diberatkan dengan berbagai teori dan konsep tetapi dengan pembelajaran praktik sehari-hari. Orang tua dan lingkungan sekolah adalah media terbaik untuk mengajarkan praktek keragaman. Selamat Hari Anak Nasional 2022.

Mari lindungi anak kita untuk masa depan bangsa kita.

Facebook Comments