Literasi Digital Anti Radikalisme Di kalangan Generasi Muda

Literasi Digital Anti Radikalisme Di kalangan Generasi Muda

- in Suara Kita
413
1

Di penghujung Ramadhan lalu aksis teror mengguncang ketenangan warga Indonesia yang akan menyambut Idul Fitri. Khususnya di Kartasua, Kota Solo seorang pemuda melancarkan aksi bom bunuh diri di pertigaan dekat Pos Pengamanan Polisi. Memang tidak ada korban nyawa dalam peristiwa ini hanya pelaku yang kritis dan mengalami luka-luka. Namun, sekali lagi bangsa kita yang terluka, karena masih belum tuntas penumpasan tindakan terorisme di Indonesia. Bahkan akhir-akhir ini banyak dari mereka (pelaku) adalah generasi muda.

Generasi muda adalah aset berharga untuk masa depan bangsa. Nasib suatu bangsa berada ditangan pemudanya. Sehingga dapat dipastikan rusaknya suatu bangsa, sebab hancurnya kondisi pemudanya. Sebagaimana dalam sebuah maqolah menyebutkan bahwa “Syubbanul yaum, rijalul ghad. (Pemuda hari ini adalah pemimpin dimasa depan). Hal ini sangat dipahami oleh kelompok teroris, yang dengan gencarnya merekrut anggota dari kalangan generasi muda suatu bangsa untuk merusak masa depan bangsa mereka. Sangat memprihatinkan dibeberapa negara keterlibatan anak muda dalam jaringan dan aksi terorisme cukup tinggi. Tanpa terkecuali di Indonesia, yang hal ini sangat berdampak bagi keutuhan dan kedamaian bangsa.

Berkaca pada aksi teror di akhir Ramadhan lalu, diketahui pelaku adalah seorang pemuda berusia 22 tahu dengan inisial RA, ia terpapar paham radikal ISIS dan merakit bom dengan berguru pada internet saja. Sudah banyak sekali catatan aksi teror sebelumnya yang juga dilakukan oleh pemuda. Mulai dari Bom Bali I-II, Bom Hotel JW Marriot I-II, dan Bom Gereja di Medan (2016), semua pelaku dari kejahatan ini masih berusia 18 hingga 20 tahunan, bahkan beberapa dari mereka baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA).

Baca juga : Membudayakan Berpikir Kritis Di Era Post-Truth

Mengapa harus pemuda? Itulah hal yang memang diincar oleh kelompok terorisme termasuk ISIS. Selain untuk mempermudah untuk merusak suatu bangsa. Merekrut pemuda untuk terlibat dalam jaringan terorisme sangatlah mudah. Terdapat lima faktor utama yang menyebabkan mudahnya seorang pemuda terlibat menjadi teroris, yakni: Mereka sedang mencari identitas, mereka membutuhkan perasaan kebersamaan, mereka ingin memperbaiki apa yang dianggap sebagai ketidakadilan, mereka sedang mencari sensasi dan kegagahan, serta mereka menaruh simpati besar pada kelompok radikal-teroris melalui internet (Tim Penulis PMD, 2017: 51-53).

Faktor terbesar yang menjadi tantangan bersama, adalah faktor kelima. Tidak dapat di pungkiri internet adalah media paling tepat dan efektif untuk memasivkan pergerakan kelompok terorisme dalam menyebarkan paham-paham radikal. Menurut Bruce Hoffman, saat ini kelompok teroris telah mempunyai website sendiri dengan berbagai macam bahasa, berbagai konten, dan berbagai strategi untuk melakukan doktrinasi, rekruitmen, dan pelatihan merakit bom secara online (Tim Penulis PMD, 2017: 55).

Kondisi ini sangat miris, mengingat kalangan anak muda menghabiskan waktu mereka berselancar di dunia maya. Sehingga sangatlah tepat jika kelompok teroris memilih media online untuk menyebarkan paham radikal dan terorisme. Yang jadi permasalah adalah bukan kemudian mencari solusi untuk menjauhkan media online dari kalangan muda. Akan tetapi bagaimana kemudian mengubah cara pandang dan pola pikir untuk melakukan upaya prefentif menangkal paham-paham radikal tersebut di dunia maya.

Hal yang dapat dilakukan adalah dengan menumbuhkan pola berfikir kritis (critical thinking) di kalangan generasi muda. Bagaimana kemudian membentuk mindset  mereka agar kreatif dan inovatif dalam memanfaatkaan media sosial. Salah satunya adalah dengan melakukan optimalisasi dalam bidang literasi digital, untuk menyiarkan paham-paham anti radikal dan perdamaian melalui media online.

Literasi digital dianggap perlu melihat kondisi kita saat ini sangat kalah jauh dengan perkembangan literasi dan konten media yang disebarkan oleh kalangan terorisme dan penganut paham radikal. Dengan adanya upaya untuk mengoptimalisasikan peranan media sosial dan media internet lainnya untuk menebarkan gerakan anti paham radikal, setidaknya diharpakan mampu mengurangi tingkat keterlibatan pemuda dalam jaringan terorisme.

Jika kalangan kelompok teroris saja merekrut anggota untuk gerakan jahat mereka. Tidaklah salah jika kemudian kita menggerakkan generasi muda secara massive untuk menarasikan perdamaian dan konten-konten anti radikal melalui media online. Karena ketika konten-konten yang disebarkan berasal dari generasi muda tentunya akan sangat mudah untuk disasarkan kepada pemuda lainnya agar mereka tidak terpapar konten negatif.

Gerakan literasi digital harus dikemas dalam tampilan yang menarik dan sesuai dengan minat generasi muda saat ini. Salah satunya dengan terus mempublikasikan konten-konten anti radikal di media sosial. Selain itu juga dapat dilakukan diskusi online melalui grup whatsapp maupun telegram untuk membahas bahaya dari paham radikal. Dua kegiatan tersebut merupakan contoh kecil gerakan literasi digital yang dapat dilakukan untuk menangkal pengaruh paham-paham radikal dan terorisme. Masih banyak hal kreatif lainnya yang bisa diupayakan untuk terus mengoptimalakan gerakan literasi digital ini

Optimalisasi literasi digital diharapakan mampu mengurangi angka keterlibatan generasi muda dalam kelompok terorisme. Sekaligus menambah wadah bagi generasi muda untuk mengapresiasikan masa muda mereka dengan turut andil menyuarakan perdamaian dan paham anti radikal di masyarakat media melalui gerakan literasi digital yang terus dioptimalkan.

Wallhu ‘allam.

Facebook Comments