Literasi Digital Jauhkan Radikalisme di Media Sosial

Literasi Digital Jauhkan Radikalisme di Media Sosial

- in Suara Kita
129
1

Media sosial telah dimanfaatkan sebagai cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini remaja atau kalangan muda menjadi target propagandanya.

Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara membuat bom secara otodidak.

Baca juga : STOP Radikalisme di Internet!

Adalah remaja RA (22) yang meledakkan diri di pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah (3/6/2019), terpapar paham radikal ISIS yang tersebar di jagat maya dan mencoba untuk membuat bom hanya bermodalkan internet. Pada tahun 2016, adapula seorang remaja berinisial IAH (18) yang pada saat itu baru lulus dari sekolah menengah atas juga hendak meledakkan diri di gereja Katolik Stasu Santo Yosep Medan, Sumatera Utara (28/8/2016). Ia juga mengalami proses self-radicalization dan belajar merakit bom melalui media sosial.

Harus Dibekali

Di era disrupsi informasi seperti sekarang ini, di mana segala hal berubah dengan cepat, warganet harus dibekali dengan kemampuan literasi digital. Menurut Fisher (1993) literasi merupakan kegiatan membaca-berpikir-menulis. Masyarakat yang memiliki tingkat literasi yang rendah merupakan tempat yang sempurna bagi perkembangan ideologi radikalisme. Penelitian The World’s Most Literate Nations (WMLN) tentang tingkat literasi dunia 2016 menempatkan Indonesia pada urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia berada satu tingkat di atas Botswana, negara kecil di Benua Afrika yang berpenduduk 2,1 juta jiwa. Melihat kenyataan tersebut, tak heran apabila banyak di antara kita yang tidak matang dalam memahami agama, dengan mudah terpapar ideologi terorisme dan radikalisme.

Karenanya, sejak anak-anak, pendidikan literasi digital harus digalakkan guna membangun pondasi pendidikan karakter yang selaras dengan perkembangan zaman. Mengingat, kehidupan mereka pasti akan senantiasa bersinggungan dengan jagat digital yang serba online. Literasi digital bisa menjadi sarana tepat dalam upaya menangkal budaya konsumsi informasi secara instan yang menyebabkan banyak masyarakat kita terjebak dalam berita hoaks. Melalui pendidikan literasi digital, tradisi membaca di dunia maya akan terbangun, sehingga mereka mampu memilih informasi tepat, dan membangun informasi yang bersifat membangun, bukan menyulut kemarahan dan kebencian.

Kurniawati dan Baroroh (2012) menyebutkan bahwa literasi digital adalah ketertarikan, sikap dan kemampuan individu dalam menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat dan berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat. Literasi digital memungkinkan para pengguna internet menjadi masyarakat cerdas media dengan cara terbiasa mengumpulkan informasi dan mengelolanya secara efektif.

Melalui pembiasaan mengasah keterampilan literasi digital, mereka juga dapat belajar bagaimana caranya agar memiliki kematangan emosi dan karakter damai sehingga tidak terhasut informasi fitnah berisi ujaran kebencian. Mereka dapat dengan sendirinya mengelola informasi yang didapatkan, namun tidak mentah menerima pengetahuan yang ia dapatkan dari apa saja yang mereka baca. Sehingga, mereka juga bisa membangun pengetahuan baru yang lebih efektif, dan selanjutnya mampu memberikan kontribusi bagi perdamaian dan persatuan bangsa apabila ia turut menyebarkan konten sejuk di media sosial.

Literasi digital juga akan merangsang tumbuhnya sikap kritis sekaligus pemahaman bagaimana perilaku bersatu dan berdamai dalam diri anak-anak, yang tentu saja akan memupuk sikap toleran dan tidak anti-keberagaman yang akan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini karena melalui literasi digital, mereka akan terbiasa menemukan beragam perbedaan pendapat yang mungkin ia temukan dari bacaan yang dibaca. Sehingga, terbangunlah pemahaman bahwa toleransi bermanfaat untuk menyuburkan pengetahuan dan perdamaian, sementara intoleransi menumbuhkan kebencian dan permusuhan. Hal ini karena mereka mampu mengkonstruksi hal baik dan buruk dalam pikiran mereka. Model perilaku seperti ini tentu saja sangat dibutuhkan untuk menghindarkan diri dari ideologi radikal yang merusak kedamaian dan ketentraman NKRI. Wallahu a’lam.

 

Facebook Comments