Local Genius Ritual “Adang Sega”

Local Genius Ritual “Adang Sega”

- in Suara Kita
492
0
Local Genius Ritual “Adang Sega”

Terbukti, Keraton Kasultanan Yogyakarta, istana Kasunanan Surakarta, serta Pura Mangkunegaran sebagai penjaga tradisi budaya dipadati masyarakat lintas kelas kala malam Sura. Mereka hendak menyaksikan upacara tradisional warisan Sultan Agung itu. Cerita akulturasi Islam dengan budaya Jawa masih memesona publik. Di situ, tersimpan fakta apik yang luput kita tangkap dan dipelajari maknanya. Selain ritual Sura, contoh paling gampang adalah tradisi Garebeg Mulud yang dihelat Keraton Kasunanan Surakarta.

Upacara klasik warisan kerajaan Islam Demak itu digelar secara kolosal dan melibatkan banyak pihak, terlebih bila jatuh pada tahun Dal. Menurut sejarawan perempuan pertama Indonesia, Darsiti Soeratman, istilah garebeg ditautkan dengan saat Sinuwun mengenakan busana kebesaran miyos (keluar) dari kedhaton menuju Sitihinggil. Raja bergelar Sayidin Panatagama Kafilatullah itu ginarebeg. Artinya, ia diiringkan ratusan orang yang terdiri atas abdi dalem, prajurit, para putra, sentana dalem, serta undangan. Buahnya, suara prosesi menjadi gemuruh dan meriah. Semua yang hadir dalam upacara itu mengenakan pakaian kebesaran. Kostum yang dikenakan dalam upacara agung ini disebut grebegan.

Sekeping fakta terselip dalam prosesi Grebegan Mulud Dal, yakni aktivitas raja dan permaisuri “adang sega” alias menanak nasi pada malam garebeg. Usai ritual menanak nasi ini diyakini sudah menua. Merujuk tradisi lisan, Paku Buwono VII tatkala menahkodai istana tertua pewaris Dinasti Mataram Islam pada 1830-1858 itu, ritual unik tersebut telah dijalankan. Hanya saja, Sinuwun dan permaisuri hadir sendiri di dapur Gandarasan baru dimulai sewaktu PB X memegang tampuk kekuasaan tahun 1893-1939. Raja yang ditemploki gelar “kaisar Jawa” dan diakui rakyat sebagai raja terkaya ini memang cenderung senang bermain simbol lantaran kekuatan politiknya menyusut gara-gara ditelikung pemerintah kolonial Belanda.

Raja merangsek ke dapur Gandarasan yang letak di luar istana, persisnya di kompleks Baluwarti, sisi selatan tembok keraton. Pawon yang penuh abu dan langes tersebut khusus dipakai juru masak (koki kerajaan) mengolah makanan (cadong) para prajurit serta sesaji untuk syarat upacara tradisional. Dalam tradisi “adang sega”, dikenal dandang kiai Dudha yang digunakan PB X menanak nasi. Lalu, pakaian yang dikenakan disebut Kyai Antrakusuma. Selama ini, masih menjadi misteri terkait relasi tradisi raja menanak nasi, Kyai Antrakusuma, dan Kiai Dudha.

Baca Juga : Jihad Literasi untuk Kedaulatan NKRI

Baiklah, dalam tulisan ini, saya hendak menguak maknanya. Terkisah, Keraton Kasunanan merupakan kerajaan agraris. Secara geografis, keraton yang berdiri tahun 1745 ini terletak di pedalaman. Maka, maklum jika kental dengan nuansa kebudayaan petani ketimbang kehidupan bahari. Dalam lingkungan masyarakat petani pedesaan, dijumpai folklor Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan yang hingga detik ini masih bisa kita dengar lewat penuturan sesepuh di tanah Jawa.

Diceritakan, hidup seorang jejaka dari desa Tarub, Tuban, Jawa Timur yang bernama Jaka Tarub. Tatkala berburu burung di hutan, bola mata pria ini menabrak tujuh bidadari yang tengah mandi di telaga. Keisengan pemuda itu muncul. Disembunyikanlah baju Antrakusuma milik salah satu bidadari, yakni Dewi Nawangwulan. Akibatnya, dewi berparas ayu itu tak bisa balik ke khayangan bersama para saudaranya. Dewi Nawangwulan lantas diperistri Jaka Tarub, dan hidup bahagia. Bidadari ini punya kesaktian, bisa menanak sebulir padi menjadi nasi satu dandang.

Suatu hari, Dewi Nawangwulan terheran lantaran padi yang ada di dalam senik tiada kunjung ludes. Rasa penasaran menyambangi hati sang dewi. Akhirnya, istri Jaka Tarub melanggar pesan suaminya agar jangan mengaduk-aduk padi hingga dasar senik. Berkat keingintahuannya itu, perempuan anggun ini malah menemukan baju Antrakusuma miliknya yang disembunyikan Jaka Tarub di dalam senik yang ditimbuni padi. Pulanglah Nawangwulan ke khayangan meninggalkan Jaka Tarub bersama buah hatinya.

Dicermati dari kacamata sejarah budaya, tersirat raja keturunan trah Mataram Islam itu emoh menghapus atau mengabaikan tradisi tutur itu. Penguasa mengekspresikan dengan ritual menanak nasi dengan dandang Kyai Duda serta memakai baju Antrakusuma. Terselip kearifan bahwa kegiatan menanak nasi bagi orang Jawa dianggap lebih pokok dan rumit ketimbang makan. Pasalnya, adang sega ialah bagian dari proses pertama bagaimana orang Jawa berjuang agar dapat hidup (setelah menanam), sedangkan makan hanyalah proses akhir.

Kian nyata petuah itu dengan kita menyimak Serat Wulangreh anggitan PB IV yang mengatakan, “aja pijer mangan nedra” (jangan selalu makan dan tidur), “sudanen dhahar lan guling” (kurangilah makan dan tidur). Pandangan hidup manusia Jawa klasik tersekam dalam karya itu menuduhkan bahwa makan bukanlah segala-galanya, hanya sak madya (sekadarnya/jangan terlalu kenyang).

Peristiwa raja bersama belahan hatinya menanak nasi saat Garebeg dapat dimaknai sebagai wujud toleransi antara Islam dan Jawa di masa lampau, alih-alih meributkannya. Masyarakat disadarkan pula bahwa nilai-nilai kejawaan yang berasal dari kebudayaan agraris tetap masih dipeluk hangat di dalam tembok keraton penerus Mataram Islam, sekalipun PB X detik itu sohor sebagai raja yang hedon dan glamour.

Dari perspektif kontemporer, ritual raja dan permaisuri berbarengan menanak nasi di dapur boleh diartikan persoalan gender lebur di pawon, tiada lagi kasta. Pasalnya, wanita yang di sini terwakili oleh permaisuri raja tiada lagi diposisikan satu-satunya orang yang melulu berkutat di dapur alias konco wingking. Dalam semangat kebangsaan, perempuan turut berjuang dan melahirkan kusuma bangsa.

Facebook Comments