(Lunturnya) Islam Pemaaf

(Lunturnya) Islam Pemaaf

- in Suara Kita
181
2

Pada hari Minggu lusa (30/6/2019), memperlihatkan sebuah video seorang perempuan membawa anjing ke masjid. Tidak butuh lama, video itu kemudian tersebar dan menjadi viral di sosial media. Ragam komentar dilontarkan saat melihat video setelah tersebar, ada yang marah karena tidak menaruh sesuatu pada tempatnya; ada juga yang mempertanyakan latar belakang kenapa perempuan tersebut marah dan membawa anjing ke dalam Masjid.

Setelah viral dan banyak asumsi yang beredar, kemudian beberapa pihak berwajib membenarkan apa yang terjadi dan meluruskan kepada perempuan tersebut marah dan membawa anjing ke dalam masjid. Dari pihak berwajib, bahwa perempuan tersebut marah lantar suaminya menikah kembali dan dinikahkan di dalam masjid. Karena hal tersebut, akhirnya wanita tersebut depresi dan marahnya tidak dapat dikontrol untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Sehari kemudian, beberapa pihak melaporkan perempuan tersebut kepada pihak perwajib, dianggap mengusik dan meresahkan orang lain saat dalam menjalankan ibadah. Laporan tersebut dibuat lantaran perbuatan yang dilakukan dianggap berdampak pada keutuhan NKRI.

///

Awal mula Islam lahir dengan rasa kasih dan keadilan. Di mana Islam selalu menyebarkan ajaran-ajarnya mengenai rasa kasih sayang dan keadilan. Oleh karaena itu, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Islam yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Islam mewajibkan umatnya untuk menghargai manusia dan kemanusiaannya. Islam yang bisa adaptasi di segala ruang dan waktu. Islam yang memiliki kebenaran secara doktrin dan ilmiah.

Baca juga : Dari Media Sosial untuk Rekonsiliasi Kebangsaan

Islam yang mencakup semua elemen kehidupan masyarakat, beberapa tahun ini memiliki kecenderungan mengarah sebuah politik “praktis”. Mereka menganggap bahwa Islam merupakan sebuah hukum negara. Hukum yang harus ditaati siapa saja dan mereka yang tidak menaati akan mendapatkan hukuman. Pola berpikir demikian akan membentuk muslim yang mudah mengafirkan atau emosional yang berbeda dengan mereka.

Lambat laun, pola pikir yang keras dalam diri seorang muslim, akan menjadi budaya dan membentuk wajah yang berbeda sebagaimana cita-cita awal kehadiran agama Islam; mengubah karakter manusia. Islam akhirnya dikenal dengan agama yang keras. Agama yang tidak bis dikompromikan dengan ruang dan waktu. Tidak heran Islam kemudian mendapat julukan baru sebagai agama penuh dengan kekerasan.

Banyak contoh memperlihatkan agama Islam agama yang menyukai perdamaian. Kita lihat bagaimana Islam memaafkan musuh musuhnya telah ditunjukkan dengan indah oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ketika Rasul dengan pasukannya memasuki kota Makkah ,para musuh musuhnya ketakutan luar biasa.

Para musuhnya ,Kafir Quraisy ketakutan luarbiasa karena dalam pikiran mereka Rasulullah dan pasukannya akan melakukan pembalasan.Bukankah mereka ini lah dahulu yang mengolok olok ,melempar Rasulullah dengan batu.Karena dengan kekejaman mereka jualah yang membuat Rasul hijrah ke kota Yatsrib yang kemudian berobah nama menjadi Madinatul Munawwaroh.

Tetapi sungguh para Kafir Quraisy itu salah duga. Muhammad SAW dengan pasukannya memasuki kota Makkah tanpa dendam .Rasul datang dengan penuh kedamaian. Rasul juga telah memaafkan musuh musuhnya. Dengan semangat seperti inilah kita harus memaafkan Sukmawati yang telah teledor membaca sebuah puisi yang melukai ummat Islam.

///

Melihat kasus yang baru viral dan cita-cita Islam, setidaknya apa yang dilakukan oleh wanita yang membawa anjing harus menjadi permasalahan keluarga atau antar tentang saja. Apa yang dilakukan wanita memang salah, tetapi kesalahan tersebut tidak melulu menjadi masalahan pidana. Terlebih melihat ajaran Islam yang kasih dan pemaaf.

Orang yang memiliki jiwa pemaaf, secara lebih ia juga akan memiliki jiwa yang sabar dan ikhlas. Satu sifat terpuji bisa membawa pada sifat terpuji lainnya. Itulah yang nantinya akan membentuk suatu karakter sebagai seorang muslim yang tak hanya pandai namun muslim yang mempunyai pribadi seperti para Rasul dan sahabatnya.

Kata dari seorang Mujahid, dikutip dalam buku karangan A. Fuadi tentang sifat pemaaf bahwa “memberi maaf adalah sedekah” (Mujahid).

Facebook Comments