Mahasiswa Radikal dan Urgensi Peta Jalan Rumah Moderasi Beragama di Kampus

Mahasiswa Radikal dan Urgensi Peta Jalan Rumah Moderasi Beragama di Kampus

- in Suara Kita
186
0
Mahasiswa Radikal dan Urgensi Peta Jalan Rumah Moderasi Beragama di Kampus

Dalam sepekan terakhir, dua isu besar terkiat radikalisme dan terorisme mewarnai ruang publik kita. Pertama, ditangkapnya mahasiswa Universitas Brawijaya Malang berinisial IA oleh Densus 88 Anti-Teror. IA diketahui merupakan anggota jaringan ISIS yang cukup militan. Ia aktif menggalang dana sampai merencakan amaliyah (aksi teror) yang menyasar kepolosian dan masyarakat umum.

Kedua, viralnya video konvoi khilafah di sejumlah wilayah, mulai dari Brebes, Tegal, hingga Jakarta Timur. Kali ini, sponsor aksi konvoi khilafah itu bukanlah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atau Front Pembela Islam (FPI), melainkan organisasi yang nisbi baru bagi telinga masyarakat, yakni Khilafatul Muslimin. Dalam video yang viral di medsos, sejumlah orang beratribut hijau-hijau, membawa bendera tauhid, dan memamerkan poster-poster propaganda khilafahisme.

Dua peristiwa itu memvalidasi asumsi bahwa penyebaran paham dan gerakan radikal-terorisme sudah sedemikian akut. Hari ini, nyaris tidak ada lagi kelompok masyarakat yang steril dari potensi paparan radikalisme-terorisme. Mulai dari kalangan ekonomi lemah dan tidak berpendidikan tinggi hingga kelompok mapan dan intelektual semua menjadi sasaran propaganda kelompok radikal. Aksi pawai Khilafatul Muslimin jelas merupakan kampanye khladah yang menyasar kelompok kelas bawah. Sedangkan keterlibatan IA dalam gerakan ISIS jelas merupakan bentuk infiltrasi terorisme di kalangan kelas menengah-berpendidikan tinggi.

Kelas Menengah dan Kerentanan Terhadap Radikalisme

Tidak bermaksud bias kelas, namun infiltrasi radikalisme-terorisme di kalangan kelas menengah berpendidikan tinggi ini patut disikapi lebih serius. Mengingat, kelompok kelas menengah terdidik merupakan salah satu pilar penting dalam struktur masyarakat sipil. Bisa dibilang, kelompok kelas menengah merupakan lokomotif yang menarik gerbong peradaban sebuah bangsa. Tentu bisa dibayagkan efek negatifnya jika kelompok kelas menengah terdidik itu justru menjadi agen-agen yang menyebarkan ideologi radikal-ekstrem.

Disinilah program mendirikan Rumah Moderasi Beragama di kampus yang diinisiasi oleh Kementerian Agama menjadi relevan dan urgen. Program Rumah Moderasi Beragama di kampus ialah ikhtiar penting untuk membentengi civitas akademika dari pengaruh ideologi keagamaan transnasional yang memiliki kecenderungan anti-Pancasila dan anti-NKRI. Moderasi beragama menjadi elemen yang penting lantaran itulah salah satu senjata melawan paham radikal-ekstrem. Jika radikalisme dan ekstremisme diibaratkan sebagai racun, maka moderasi ialah penawarnya.

Hanya saja memang, harus diakui bahwa gagasan Rumah Moderasi Beragama di kampus ini kerapkali masih sebatas pada tahapan konseptual-wacana, belum menyentuh aksi-aksi nyata. Sejumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memang telah membentuk satuan tugas yang menggawangi pendirian Rumah Moderasi Beragama. Sejumlah kampus Islam negeri pun beramai-ramai me-launching Rumah Moderasi Beragama. Namun, tampaknya belum ada strategi yang jelas ihwal bagaimana membumikan prinsip moderasi beragama di kalangan civitas akademika.

Disinilah pentingnya peta jalan alias road map Rumah Moderasi Beragama di kampus. Peta jalan itu berfungsi sebagai semacam penuntun arah agar agenda moderasi beragama di kampus berjalan di atas jalur yang benar. Setidaknya ada tiga hal yang bisa dijadikan sebagai semacam peta jalan Rumah Moderasi Beragama di kampus.

Tiga Peta Jalan Moderasi Beragama di Kampus

Pertama, harus ada upaya konkret untuk melakukan deteksi dini radikalisme di kalangan civitas akademika. Rumah moderasi beragama bentukan kampus harus menjadi unit untuk menangkal potensi radikalisme di kampus, mulai dari mengenali gejala awal intoleransi dan munculnya gejala konservatisme dan ekstremisme beragama. Rumah moderasi beragama idealnya menjadi lembaga screening radikalisme-terorisme di kampus.

Kedua, harus ada tindakan nyata untuk membumikan prinsip Pancasila di kalangan civitas akademika. Saat ini, harus diakui bahwa Pancasila semakin kehilangan pamornya, termasuk di lingkungan kampus. Penetrasi ideologi keagamaan transnasionalisme yang mengampanyekan khilafah, negara Islam, dan sejenisnya menyumbang andil besar pada lunturnya pengalaman nilai Pancasila. Di titik ini, rumah moderasi beragama di kampus harus menjadi inisiator sekaligus inspirator penguatan nilai Pancasila.

Ketiga, dan ini yang paling penting, sesuai namanya, rumah moderasi beragama harus menjadi lokomotif bagi upaya mengembangkan kehidupan beragama yang inklusif, toleran, pluralis dan sesuai dengan prinsip dasar kebangsaan dan kemanusiaan. Ini artinya, kampus harus menjadi role model alias percontohan bagi masyarakat umum ihwal bagaimana mengelola kebinekaan dalam paradigm harmoni persatuan.

Dengan mewujudkan rumah moderasi beragama di kampus-kampus, kita patut optimis ekosistem perguruan tinggi yang adaptif pada nilai Pancasila akan terwujud. Efek lanjutannya, ialah kampus akan memiliki benteng imunitas untuk melawan virus-virus ideologi asing ant-NKRI dalam berbagai wujudnya. Mulai dari khilafahisme, daulahisme dan ideologi sejenis yang menghalalkan teror dan kekerasan demi mewujudkan kepentingan pragmatisnya.

Facebook Comments