Mainstreaming Identitas Ummatan Wasathan Berbasis Komunitas di Media Sosial

Mainstreaming Identitas Ummatan Wasathan Berbasis Komunitas di Media Sosial

- in Suara Kita
147
1
Mainstreaming Identitas Ummatan Wasathan Berbasis Komunitas di Media Sosial

Khaled Abou el-Fadl dalam The Great Theft: Wrestling from The Extremists, mendeskripsikan moderatisme adalah suatu paham yang mengambil jalan tengah, yaitu paham yang tidak ekstrem kanan dan tidak pula ekstrem kiri. Istilah moderat mempunyai akar yang kuat dalam khazanah Islam, yang merupakan karakter normatif dari mayoritas muslim di seantero dunia. Kalangan muslim Indonesia di antaranya merupakan salah satu bagian dari kelompok yang mengusung moderatisme.

Paham moderat ini dikenal dalam Al Quran sebagai karakter ummatan wasathan, yaitu umat yang moderat, yang mengambil jalan tengah. Allah SWT berfirman dalam Al Quran surah Al Baqarah [2]: 143,

وَكَذَالِكَ جَعَلْنَـكُمْ اُمَّةً وَسَطًا لِتَكُوْنُواْ شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا..

 Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…..

Ayat ini yang kemudian menjadi rujukan hidup berbangsa dan beragama. Agama dan bangsa memiliki kolerasi yang tidak dapat terpisahkan. Keutuhan suatu bangsa salah satunya dapat ditentukan oleh seberapa kuat pondasi agama bangsa tersebut. Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia, menerapkan Islam yang moderat. Bukti adanya moderasi Islam di Indonesia adalah umat Islam menerima Pancasila sebagai dasar negara dengan memandang esensi nilai agama Islam yang terkandung di dalamnya, bukan agama secara tekstual.

Melihat saat ini kita (Bangsa Indonesia) tengah memasuki puncak dari bonus demografi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, bonus demografi di Indonesia diprediksi terjadi antara tahun 2020 hingga 2030. Begitu memasuki tahun 2020, persentase penduduk usia produktif akan mencapai 70 persen dan non produktif 30 persen. Persentase semakin ideal begitu memasuki masa puncak antara tahun 2028 sampai 2030. Kondisi ini dapat menjadi peluang sekaligus boomerang bagi bangsa kita sendiri.

Baca juga : Islam Damai, Dunia Maya dan Masa Depan Perdamaian Dunia

Bonus demografi ini dibenturkan dengan massivenya pergerakan generasi saat ini di dunia maya di mana gerakan penggunaan dunia maya tidak dapat sepenuhnya dikontrol untuk hal positif. Mengingat penggunanya yang hampir seluruh lapisan masyarakat. Mirisnya justru dari sinilah timbul berbagai konflik sosial-keagamaan. Baik yang menyangkut perbedaan paham, perbedaan suku, bahkan perbedaan agama bermuara dari konflik antar komentar di media sosial. Ya, tidak dapat dipungkiri identitas bangsa yang ummatan wasathan pudar hanya karena boomingnya ujaran kebencian di dunia maya.

Untuk itu perlu adanya upaya mengaktualisasikan identitas bangsa yang ummatan wasathan dengan mengubah dua permasalahan tadi (Demografi dan Media Sosial) sebagai solusi. Menjadi cerdas, adalah dengan mampu menumbuhkan kerangka berfikir yang mampu mencari solusi bahkan dari permasalahan itu sendiri. Sehingga, mampu membentuk pribadi yang memiliki kerangka berfikir kritis dan paham akan  identitas bangsa mereka sendiri.

Puncak dari bonus demografi adalah pada kondisi produktif generasi millenial. Generasi ini cenderung memiliki keinginan untuk membentuk komunitas dengan golongan-golongan yang memiliki hoby yang sama. Hal ini kemudian dapat diarahkan untuk membentuk komunitas yang mau menyuarakan pesan damai dan menjadi konten kreator di media sosial. Komunitas dipilih karena basis nilai kekeluargaanya yang cukup kental sehingga mudah untuk saling berkolaborasi dalam melakukan banyak hal.

Dewasa ini komunitas semakin menjamur di berbagai daerah, tinggal bagaimana kemudian memframing mereka untuk paham akan identitas bangsa yang moderat dan toleran. Sehingga dalam mengembangkan komunitas yang mereka miliki mengedepankan nilai-nilai dari ummatan wasathan  yakni tawassuth (moderat), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleran), dan ‘adalah (keadilan).

Ketika suatu komunitas sudah memiliki basis gerakan yang sesuai dengan identitas bangsa. Tanpa harus dikomando, secara otomatis gerakan mereka juga akan massive di media sosial. Mengapa demikian? Hal ini secara tidak langsung kembali pada sifat generasi saat ini yang ingin eksis dan diknal banyak orang. Inilah yang kemudian memicu gerakan komunitas juga akan berpengaruh besar di media sosial.

Mengubah permasalah menjadi suatu solusi tak ubahnya seperti membalikkan dua sisi mata uang. Tinggal bagaimana kita bersama-sama ingin melihat  sisi yang mana. Karena setiap masalah hadir untuk ditemukan solusinya. Begitupun permasalahan bangsa kita yang mulai kehilangan identitasnya sebab terlalu banyak konflik di dunia maya dan generasi muda yang cenderung acuh pada bangsanya. Gerakan-gerakan berbasis nilai-nilai identitas bangsa melalui komunitas adalah salah satu dari sekian banyak solusi permasalahan tadi. Tinggal bagaimana kita semua warga Indonesia mau saling berkolaborasi untuk kembali menegakkan moderasi dan toleransi

Wallahu’Allam

Facebook Comments