Makna Syawal; Pesan Religius dan Manusia yang Bangkrut

Makna Syawal; Pesan Religius dan Manusia yang Bangkrut

- in Suara Kita
172
0
Makna Syawal; Pesan Religius dan Manusia yang Bangkrut

Secara etimologi “Syawal” berasal dari kata “Syala” yang berarti “irtafa’a” yang dalam bahasa Indonesia bermakna naik atau meningkat. Arti ini merupakan penegasan bahwa capaian di bulan Ramadan harus lebih ditingkatkan di bulan Syawal. Paling tidak, membawa ketakwaan puasa bulan Ramadan di luar bulan Ramadan tanpa mengalami penurunan kuantitas dan kualitas ibadah.

Tidak sepantasnya bulan Syawal dimaknai untuk kembali kepada habitat sebelum Ramadan yang bebas makan, minum dan bersetubuh di siang hari. Akan tetapi, Syawal adalah membawa ketakwaan bulan Ramadan untuk diterapkan di luar bulan Ramadan.

Hal ini paralel dengan pesan Nabi: “Sebaik-baik perbuatan menurut Allah adalah yang didawamkan (istiqamah) meskipun sedikit”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan kepada kita supaya Ramadan meninggalkan komitmen kuat untuk tidak hanya baik, dermawan, senang mengaji, bersih-bersih diri dan bersih-bersih sosial, bersemangat menegakkan kebersamaan, kebenaran dan keadilan pada bulan Ramadan saja, tetapi menjadi jati diri yang muncul dan memberi buah positif kapan dan dimana saja.

Spirit bulan Syawal untuk momentum meningkatkan capaian puasa Ramadan tercermin dalam pesan Nabi.

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengerjakan puasa sunnah enam hari bulan Syawal, ia seperti berpuasa selama setahun penuh”. (HR. Muslim)

Melanjutkan puasa enam hari di bulan Syawal menandakan adanya kesinambungan antara bulan Ramadan dan bulan Syawal. Esensi Ramadan sebagai media latihan praktiknya adalah pasca Ramadan selama sebelas bulan. Tidak berhenti di bulan Ramadan saja.

Ketika di bulan Ramadan diharuskan untuk menjaga lisan dari perkataan buruk; berdusta, menggunjing, berkata kotor, memprovokasi, mencaci, ujaran kebencian dan seterusnya, maka di luar bulan Ramadan seharusnya juga bisa dilakukan bahkan ditingkatkan.

Ketika di bulan Ramadan semangat untuk bersedekah dan berbagi dengan kaum dhuafa, pasca Ramadan mestinya buah ketakwaan tersebut lebih meningkat lagi. Demikian juga larangan untuk menghina, mencemooh, menyalahkan, menuduh kelompok lain kafir dan lain-lain, maka di luar Ramadan lebih ditingkatkan. Sekuat tenaga harus berupaya maksimal untuk tetap menjaga kontinuitas ibadah di luar Ramadan. Peningkatan tersebut dimulai pada bulan Syawal, kemudian bulan-bulan setelahnya sampai bulan Ramadan berikutnya.

Mengaktualisasikan setiap ibadah yang telah dilatih selama puasa Ramadan dalam kehidupan sehari-hari di sepanjang hidup kita, memiliki tujuan final supaya terhindar dari “kebangkrutan beragama”.

Syawal menjadi titik peningkatan Ibadah, bukan awal kebangkrutan

Bulan Syawal, khususnya hari raya Idul Fitri, merupakan momentum untuk merawat tumpukan amal. Tapi, bagi sebagian orang justru menjadi awal kebangkrutan. Yaitu, mereka yang memaknai Syawal hanya sekedar hari makan dan minum, dan bebasnya melakukan semua perbuatan yang dilarang selama Ramadan. Nabi menyebut kelompok ini “muflis” atau orang yang bangkrut.

Suatu ketika beliau bersabda: “Tahukah kalian siapa yang orang yang bangkrut”?

Sahabat-sahabat menjawab: “Menurut kami orang yang bangkrut adalah orang-orang yang tidak punya uang dan harta benda”.

Nabi kemudian berkata: “Sesungguhnya, orang yang bangkrut dari umatku adalah mereka yang pada hari kiamat membawa amal kebaikan shalat, puasa dan zakat. Akan tetapi, mereka dahulu pernah mencaci, menuduh dan mencemarkan nama baik orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Maka, amal baiknya diberikan kepada orang-orang yang didzalimi seluruhnya satu persatu. Ketika amal baiknya habis sebelum seluruh kesalahan tuntas terbayar, maka amal-amal buruk mereka diberikan kepadanya. Setelah itu, mereka yang suka mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain tersebut dilemparkan ke dalam neraka”.

Sekali lagi, Nabi mengingatkan supaya senantiasa menjaga kefitrahan setelah Ramadan. Bulan Syawal menjadi batu pijak untuk merawat dan melestarikan semua amal kebaikan di bulan Ramadan. Merawat kesucian pasca Ramadan berarti menyayangi diri sendiri.

Sebanyak apapun tumpukan pahala puasa, zakat dan shalat akan menjadi habis apabila kita masih senang melakukan kedzaliman, seperti menyakiti hati orang lain, menghujat, memaki, memfitnah, menuduh orang salah karena tidak sama dengan pendapatnya, mengambil hak orang lain, menyakiti, membunuh, dan seterusnya.

Supaya tidak menjadi manusia yang bangkrut dalam pandangan agama, mulai bulan Syawal tahun ini hendaklah menjadi muslim yang memiliki pemikiran, sikap dan tindakan yang mencerminkan perilaku mulia dalam kehidupan sehari-hari. Berbicara dengan suara rendah dan lemah lembut, bertabayun, berhias diri dengan keimanan dan ketakwaan, berukhuwah dan bersilaturahmi, tidak merendahkan sesama, menjauhi prasangka, tidak memberi label buruk pada orang lain, tidak melakukan ghibah (membicarakan keburukan orang lain), tidak tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain), apalagi sampai menjadi teroris.

Facebook Comments