Malcolm X, Haji dan Inklusivisme Islam

Malcolm X, Haji dan Inklusivisme Islam

- in Suara Kita
114
0
Malcolm X, Haji dan Inklusivisme Islam

Siapa tidak mengenal Malcolm X? Boleh jadi tidak ada. Ia bukanlah sekedar nama biasa. Ia adalah legenda. Lebih dari separuh hidupnya ia habiskan untuk memperjuangkan hak asasi manusia.

Dalam autobiografi yang ditulisnya bersama Alex Haley berjudul The Autobiography of Malcolm X, ia mengaku terlahir dengan nama Malcolm Litte. Keluarganya merupakan keturunan Afro-Amerika. Sejak kecil ia menyaksikan sendiri penindasan dan ketidakadilan pemerintah Amerika Serikat terhadap kelompok kulit hitam. Hal itulah yang menumbuhkan kebencian mendalam terhadap kulit putih.

Perjalanan hidup akhirnya membuatnya bertemu dengan Islam dan bergabung dengan organisasi Nation of Islam (NOI). Melalui organisasi itu pula Malcolm X gencar menyuarakan kesetaraan hak dan penghapusan diskriminasi berdasar ras dan warna kulit. Dalam setiap pidatonya, ia menyerukan supremasi kaum kulit hitam dan mengecam kelompok kulit putih sebagai setan.

Namun, karena berseberangan pendapat dengan pemimpin NOI, Elijah Muhamad yang juga idola Malcolm sejak muda, ia pun keluar dari organisasi tersebut dan mendeklarasikan organisasi bentukannya sendiri, yakni Organization of Afro-American Unity (OAAU). Peristiwa itu terjadi pada tahun 1964.

Di tahun yang sama, Malcolm X berkesempatan menunaikan ibadah haji sekaligus bertemu para tokoh muslim di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Perjalanan haji ini kemudian menjadi semacam titik balik yang mengubah paradigmanya tentang rasialisme dan perjuangan hak asasi manusia secara keseluruhan.

Titik Balik

Perjalanan ibadah haji Malclom X bukan perjalanan haji biasa. Selain menunaikan rukun Islam ke-lima tersebut, ia juga menggunakan kesempatan itu untuk bertemu dengan banyak tokoh Islam dari berbagai negara.

Antara lain, dengan Pangeran Faisal dari Arab Saudi yang mengundangnya secara khusus sebagai tamu negara. Selain itu, ia bertemu dengan pemimpin dari sejumlah negara, yakni Kwame Nkrumah dari Ghana, Gamal Abdul Nasser yang kala itu menjabat Presiden Mesir dan pemimpin revolusioner Aljazair Ben Bella.

Baca Juga : Memilih Haji Sebagai Jalan Jihad

Malcom X juga menghadiri berbagai forum, antara lain Organisasi Persatuan Afrika dan menjadi pembicara di Universitas Ibadan di Nigeria. Perjalanan ibadah haji dan pertemuannya dengan banyak orang itu lantas  mengubah pandangannya.

Sebelum menunaikan ibadah haji, Malcolm X dikenal sebagai tokoh yang berada di barisan paling depan menentang politik pembedaan warna kulit yang diterapkan di negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat.

Dalam panggung-panggung terbuka ia dengan lantang mengecam politik rasialisme yang dipraktikkan pemerintah AS. Meski diintimidasi, diancam bahkan mengalami percobaan pembunuhan berkali-kali, Malcolm X tetap setia dengan pendiriannya.

Uniknya, cara pandang Malcolm dalam melawan rasialisme memiliki logika yang nyaris sama dengan mereka yang berpandangan rasis. Bagi kelompok kulit putih, diskriminasi ras adalah hal yang niscaya karena mereka menganggap kelompok kulit hitam sebagai ras manusia rendah, bodoh dan tidak beradab.

Sebaliknya, kelompok kulit putih adalah ras manusia unggul, cerdas beradab dan diciptakan Tuhan untuk menguasai dunia. Malcolm X melawan rasialisme tersebut dengan logika yang sama, yakni melabeli kelompok kulit putih sebagai setan dan menyerukan supremasi kulit hitam kepada warga keturunan Afro-Amerika.

Pandangan ini seketika luntur manakala ia melakukan ibadah haji. Di Mekkah dan Madinah, ia menyaksikan lautan manusia dari segala macam asal-usul; negara, warna kulit, ras dan lain sebagainya berkumpul sebagai satu “ummat”.

Dalam perjalanan haji itu pula ia bertemu dengan banyak orang berkulit putih yang sama sekali tidak memiliki kebencian terhadap kulit hitam. Hal itulah yang kemudian mengusik nalar bawah sadarnya yang selama ini kadung dikuasai oleh kebencian terhadap kulit putih. Kebencian itu pula yang lantas menjebaknya ke dalam pola pikir over-generalisasi, menganggap semua orang berkulit putih adalah rasialis yang membenci kulit hitam.

Dalam autobiografinya ia menuturkan, ketika seorang sesama jemaah haji menanyakan kepadanya apa kesan yang dirasakan olehnya sebagai muslim berkulit hitam asal Amerika saat menjalankan ibadah haji? Sontak Malcolm menjawab: “Persaudaraan! Orang-orang dari semua ras dan warna kulit, dari seluruh penjuru dunia, berkumpul bersama. Itu membuktikan kepada saya kekuasaan Allah”.

Tidak hanya itu, Malcolm pun menulis surat kepada kawan-kawannya di AS tentang perubahan pandangannya terhadap kulit putih. Intinya, ia sadar bahwa rasialisme bukan tentang warna kulit hitam atau putih. Rasialisme bisa muncul dari kulit putih, namun tidak menutup kemungkinan muncul dari kelompok kulit hitam.

Rasialisme, tulis Malcolm lebih merupakan hasil dari sikap benci dan ketidakmautahuan satu sama lain. Surat itu pun diperbanyak dan disebarluaskan, termasuk oleh media massa AS yang lantas menimbulkan reaksi pro dan kontra.

Inklusif

Titik balik perubahan pandangan Malcolm X tentang rasialisme dan kulit putih lantaran menunaikan ibadah menjadi kisah monumental yang patut dikenang dan diceritakan berulang-ulang. Seseorang yang melakukan ibadah haji memang selayaknya bisa memetik makna dari fenomena sosial yang ia saksikan dan alami di Tanah Suci.

Haji adalah persamuan akbar yang melibatkan jutaan orang dari semua penjuru dunia. Agama dan Tuhan mereka memang sama, namun identitas yang melekat di diri mereka niscaya berbeda. Mereka berbeda jenis kelamin, warna kulit, kebangsaan, afiliasi politik, mazhab, dan lain sebagainya.

Seorang muslim tidak diwajibkan melepas segala identitas tersebut ketika melakukan ibadah haji. Namun, Islam mengajarkan agar umatnya mampu bersikap adil dalam memperlakukan orang lain. Konsep memperlakukan orang lain secara adil inilah yang menjadi dasar bagi pandangan inklusivisme Islam.

Diana L. Eck dalam artikelnya yang  mencerahkan, Is God Listening? Exclusivism, Inclusivism and Pluralism, mendefinisikan inklusivisme sebagai paham yang mengakui bahwa semua entitas manusia di muka bumi ini, terlepas dari identitas jender, agama, ras, ideologi politik memiliki kedudukan yang setara.

Pola pikir inklusivisme mengajak manusia untuk tidak menilai kelompok lain (the others) dengan sikap prasangka dan curiga. Perilaku inklusif akan menghindarkan manusia dari sikap over-generalisasi yang kerap kali berujung pada sikap tidak adil pada liyan.

Semangat inklusivisme inilah belakangan mulai pudar di kalangan muslim di Indonesia. Kontestasi politik yang diwarnai oleh pelintiran kebencian (spin of hate), berita palsu (hoax) dan politik identitas telah membuat masyarakat terpolariasai ke dalam dua kelompok berbeda. Dan, keduanya terhubung dalam satu corak komunikasi yang dipenuhi prasangka dan curiga. Saling ejek dan caci menjadi menu wajib yang tersaji di lini masa media sosial kita saban harinya.

Momentum penyelenggaraan ibadah haji yang bertepatan dengan suasana pasca Pemilihan Presiden 2019 ini idealnya bisa menjadi bahan pelajaran penting bagi kita semua. Mari kita maknai secara mendalam bagaimana jutaan orang berkain putih-putih itu berkumpul di satu tempat dan waktu yang sama.

Di sana pasti ada orang kulit hitam, juga kulit putih. Ada pendukung Jokowi, pula pasti ada pendukung Prabowo. Namun, apa yang mempersatukan mereka? Tidak lain adalah harapan atas ampunan dan keridhaan Allah SWT. Jika Malcolm X bisa mengambil hikmah dari perjalanan haji, lalu mengubah paradigma berpikirnya yang cenderung eksklusif menjadi inklusif, kita pun tentu bisa. Semoga!

Facebook Comments