Manuver Hacker Bjorka: Antara Kejahatan, Terorisme Siber atau Pahlawan?

Manuver Hacker Bjorka: Antara Kejahatan, Terorisme Siber atau Pahlawan?

- in Faktual
237
0
Manuver Hacker Bjorka: Antara Kejahatan, Terorisme Siber atau Pahlawan?

Hacker bernama Bjorka berhasil menjadi buah bibir masyarakat akhir-akhir ini. Beberapa netizen mengelu-elukan bak pahlawan karena membongkar data-data rahasia negara dan pemerintah. Bahkan, kono sang hacker juga berhasil membongkar yang menjadi kasus dalang pembunuhan Munir Said Thalib yag merupakan seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang dibunuh di dalam pesawat pada 7 September 2004. Seorang Pahlawankah?

Tidak berhenti di situ. Semakin dikenal semakin menjadi-jadi. Bjorka juga mengklaim berhasil membobol data rahasia BIN dan milik Presiden Joko Widodo. Ia pun sepertinya mempunyai pemahaman peta politik yang baik dengan mengenal beberapa tokoh hingga pegiat media sosial. Dari Puan Maharani, Erick Thohir hingga Denny Siregar pun disentil dengan ciutan konten politik.

Bukan hanya mengancam dan membongkar data pemerintah Bjorka pun telah berhasil membuka kelemahan keamanan internet di Indonesia. Tercatat data pelanggan Tokopedia berhasil dia retas pada April 2020 yang meliputi user ID, password hash, email, hingga nomor telepon. Pada Juni 2020, aksi keduanya adalah membobol 270,904,989 data pengguna media sosial literatur Wattpad yang berisi Isinya mencakup password, login, nomor kontak, hingga nama asli. Bahkan di hari yang sama ia merilis 26 juta data pelanggan IndiHome yang mencakup nama lengkap, email, gender, Nomor Induk Kependudukan (NIK), IP Adress, hingga situs apa saja yang dikunjungi.

Baru-baru ini sangat mengejutkan dengan mengunggah 1,3 miliar data registrasi SIM card yang diklaim dibobol dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Isinya adalah NIK, nomor telepon, provoider-nya, hingga tanggal registrasi. Bahkan ia memberikan pesan sarkas : “My Message to Indonesian Goverment: Stop being an idiot”.

Sepertinya motif yang dilancarkan adalah motif politik. Ia pun mengakuinya dalam rangkaian ciutannya di akun twitter yang telah diblokir. Bukan sekedar peretasan hacker pada umumnya, tetapi ada tujuan politik yang diakui. Wajar ia juga sangat familiar dengan beberapa nama-nama tokoh bahkan pegiat sosial sekalipun.

Sindiran dan sarkasme Bjorka pun menjadi populer dan tidak sedikit mendapatkan dukungan netizen. Banyak komen yang mengharapkan Bjorka untuk terus melanjutkan aksinya meretas data pemerintah dan para tokoh-tokoh politik yang ada. Lalu, Bjorka pantas menjadi pahlawan masyarakat?

Menerka Bjorka Motif

Jika mengelukan pahlawan bahkan teroris pun bagi kelompoknya adalah seorang pahlawan yang bersedia mati untuk tujuan politik yang dilakukan. Namun, meretas data publik hingga NIK, nomor telepon dan semua aktifitas adalah kengerian dan ancaman terhadap masyarakat. Meskipun tentu saja itu adalah kegagalan pemerintah dalam memberikan jaminan keamanan.

Apakah itu sebuah kejahatan atau terorisme yang akan menimbulkan kepanikan dan keterancaman masyarakat terhadap aksi Bjorka? Atau tetap dia akan menjadi pahlawan dengan aksinya yang banyak berurusan dengan nada-nada politik.

Jika kejahatan siber biasa tentu itu sudah bagian dari aparat penegak hukum untuk melakukan Tindakan cepat. Jika ia menimbulkan suasana keterancaman masyarakat dengan aksinya di internet bisa jadi ia bagian dari Tindakan terorisme siber. Di Indonesia terorisme siber belum begitu populer. Yang Nampak adalah sebuah pemanfaatan dunia siber untuk kepentingan jaringan terorisme.

Terorisme siber sebagaimana definisi Jonathan Matusitz (2002) secara sederhana dapat diartikan sebagai penggunaan computer, jaringan dan internet yang disengaja untuk enyebabkan kerusakan, bahaya dan ancaman terhadap kepentingan publik. Misalnya peretasan catatan rumah sakit, data-data masyarakat, yang dapat menimbulkan kekacauan dan kepanikan massal. Tujuannya jelas bukan untuk pribadi tetapi bersifat politis atau ideologis.

Di luar negeri, khususnya Amerika, telah memberikan perhatian penuh terhadap serangan terorisme siber yang mengancam kekacauan sosial dan kepanikan massal. Dari sini Indonesia juga bisa belajar bahwa tingkat keamanan siber negara ini masih cukup lemah, tetapi juga kejahatan siber biasa atau bahkan terorisme siber juga ke depan akan menjadi ancaman nyata dengan motif ideologi, politik, dan gangguan keamanan.

Sejatinya, peretasan oleh hacker sudah biasa terjadi. Indonesia dan pemerintah juga pernah mengalami hal sama. Artinya, harus banyak belajar dari berbagai kasus untuk mengevaluasi kerentanan keamanan siber yang dimiliki bangsa ini. Peretasan situs pemerintah dan lembaga jika tidak membocorkan data dan rahasia lumrah terjadi. Namun, persoalannya jika peretasan data untuk kepentingan publik dan berbahaya terkait keamanan masyarakat tentu menjadi persoalan lain.

Bjorka menunjukkan rapuhnya keamanan siber kita yang tidak hanya persoalan membocorkan data tokoh-tokoh politik, tetapi persoalan data negara. Apalagi data masyarakat yang akan menimbulkan kecemasan dan kepanikan.

Terserah anda akan melabeli Bjorka sebagai pahlawan, pelaku kriminal siber atau teroris siber? Terpenting tingkat keamanan yang menyangkut data negara dan keamanan siber masyarakat bisa dilindungi agar tidak menciptakan kecemasan dan kekacauan, apalagi jika dilakukan dengan motif politik atau ideologis.

Facebook Comments