Masihkah Ada Jejak Ramadan dalam Manusia Fitri?

Masihkah Ada Jejak Ramadan dalam Manusia Fitri?

- in Suara Kita
199
0

Ramadan yang penuh keberkahan dan keutamaan telah berlalu. Bulan latihan yang menguji dan melatih manusia untuk mencapai khittah sebagai manusia fitri. Selama satu bulan umat Islam ditempa untuk memiliki kesabaran, ketabahan, kepedulian, kepekaan dan ketakwaan dalam melawan hawa nafsu. Predikat fitri terhampar ketika diri mampu menjadikan Ramadan sebagai benteng diri.

Pertanyaannya, apa yang bisa dibawa dari nilai Ramadan pasca kehidupan latihan suci itu? Masih adakah jejak Ramadan dalam diri kita? Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadan berlalu? Adakah jejak-jejak nilai kebaikan yang masih tertempel pada diri kita seusai bulan Ramadan, atau malah amalan yang kita kerjakan malah memudar seiring berakhirnya bulan puasa? Ini merupakan sedikit pertanyaan yang sudah seharusnya kita renungkan.

Allah SAW berpesan kepada umatnya di dalam al-Quran, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi tercerai-berai kembali” (QS. An-Nahl: 92). Ayat ini sebagai perumpaan dari peringatan Tuhan untuk menggambarkan kondisi sebagian kita yang begitu cepat kembali kepada perbuatan dosa dan keburukan secepat berlalunya Ramadan.

Selama sebulan penuh, kita melakukan ibadah salat wajib dan sunah dengan taat, dengan rutin membaca alquran dan berdzikir, serta menangis karena perbuatan dosa kita dan malu kepada Allah. Di bulan suci kita belajar menahan tidak hanya makan minum bahkan amarah pun diredam. Kebencian, fitnah, adu domba dan kekerasan dikekang agar tidak merusak ibadah puasa. Namun sayangnya, Idul fitri seketika kita mengurai dan menghapus semua ibadah dan latihan itu seiring berlalunya Ramadan.

Inilah yang penting menjadi perhatian dalam diri kita bahwa Ramadan harus meninggalkan jejak nilai dalam diri yang fitri. Ramadan harus mampu mendidik pribadi yang fitri yang terus melawan nafsu dan keburukan pasca Ramadan. Tidak makan dan minum adalah kegiatan simbolik hanya di bulan Ramadan, namun menahan amarah dan kebencian adalah sifat yang ditempa di bulan suci itu.

Menjadi manusia fitri adalah manusia yang membawa jejak Ramadan dalam diri. Manusia yang fitri bukan menahan dari lapar dan haus, tetapi menahan dari aktifitas yang bisa meluapkan hawa nafsu dan amarah. Manusia fitri didikan Ramadan adalah manusia yang mampu mengelola nafsu menjadi kegiatan yang produktif. Nafsu akan selalu ada, tetapi jejak Ramadan akan mengarahkan nafsu ke arah yang lebih baik.

Kehidupan pasca Ramadan tentu lebih ganas dan buas. Manusia yang lain tidak dibebankan dengan aktifitas seperti Ramadan. Hanya manusia yang fitri yang mampu merasakan kehidupan Pasca Ramadan selayaknya masih bulan Ramadan. Nilai-nilai Ramadan harus selalu menjadi nilai yang terus terinternalisasi dan tereksternalisasi dalam dalam perbuatan sehari-hari.

Kehidupan Ramadan mengajarkan diri tidak mudah berbuat keburukan dan tidak mudah mengumbar amarah. Sekaligus Ramadan adalah cerminan kehidupan Pasca Ramadan. Jika puasamu tidak dijadikan benteng tetapi hanya sebagai formalitas tentu Ramadan tidak akan pernah membekas dalam diri kita.

Jika berpuasa hanya menahan lapar dan minum, tetapi amarah dan nafsu tetap dibiarkan liar, Ramadan pun tidak akan meninggalkan jejak yang berarti. Berpuasa tetapi masih kerap memaki, memprovokasi dan membenci, maka Ramadan hanya sebagai ritual tahunan tanpa arti. Ramadan tidak akan berbekas dalam diri.

Manusia yang fitri adalah manusia yang berlatih sungguh-sungguh di bulan suci dan membawa nilai itu Pasca Ramadan. Kesuksesan manusia fitri akan dilihat dari cara seseorang menyikapi masalah dengan sabar dan selalu berorientasi kebaikan. Semoga diri kita adalah termasuk manusia fitri yang tetap menjaga kualitas kesucian diri.

Facebook Comments