Masjid yang Hilang dan Ancaman Banjir Besar Radikalisme

Masjid yang Hilang dan Ancaman Banjir Besar Radikalisme

- in Suara Kita
208
0
Masjid yang Hilang dan Ancaman Banjir Besar Radikalisme

“Dulu ke masjid kita kehilangan sandal, sekarang kita kehilangan mimbar”.
KH Hasyim Muzadi

Kehilangan mimbar bukan karena raib dicuri, melainkan peran di mimbar itu yang raib karena dirampas. Imam dan khotibnya dikuasai kelompok aliran keras. Sekelompok umat Islam yang memiliki kegemaran menyalahkan, bahkan sampai mengkafirkan muslim lain yang tidak sealiran dengan mereka. Kelompok yang mengkapling kebenaran hanya milik mereka sendiri.

Per November 2018 Badan Intelejen Negara (BIN) mencatat ada 41 masjid yang menjadi basis penguatan paham radikalisme, 17 diantaranya masuk kategori parah. Jumlah tersebut lebih kecil dari tahun sebelumnya setelah ada upaya serius BIN dan BNPT giat melakukan upaya persuasif terhadap khotib yang isi ceramahnya mendoktrin jamaah dengan paham radikalisme.

Secara lahiriah tampilan kelompok radikal yang sering berulah menguasai masjid di beberapa tempat tersebut terlihat positif. Mulai dari kajian keagamaan sampai olah raga jasmani. Jamaah solat lima waktu rajin dan jamaahnya cukup banyak.

Sayangnya, sikap mereka arogan; ingin menang sendiri dan merasa benar sendiri, anti perbedaan, fanatik buta terhadap madhab yang diikuti dan anti kritik.

Suatu fenomena yang indah di permukaan, namun isinya mencekam. Materi khutbah, kajian keagamaan dan diskusi-diskusi mereka membuat suasana mencekam, mengkhawatirkan dan menakutkan. Pasalnya, mereka sebenarnya tengah menggarap sawah dan menanam benih-benih terorisme. dari suasana masjid seperti itu akan tumbuh subur paham radikalisme yang menjadi faktor paling dominan mendorong tindakan terorisme.

Di masjid seperti ini tumbuh subur intoleransi dan kebencian. Dalam hati para jamaahnya tertanam ego ke aku an yang akut. Memandang yang tidak sehaluan sebagai musuh yang harus dimusnahkan dan dienyahkan.

Satu ciri khasnya, apabila dikritik segera mereka menarasikan kritik tersebut adalah islamophobia, anti Islam dan kriminalisasi agama. Alasan ini yang menjadi senjata ampuh mereka untuk berlindung dibalik agama. Untuk menyembunyikan maksud dan tujuan sebenarnya.

Ancaman Banjir Besar Radikalisme melalui Mimbar Masjid

Betul kalau dikatakan “Tidak ada masjid radikal” karena yang dimaksud masjid radikal bukan masjidnya, tapi kelompok yang merebut mimbar khutbah dan membuat rumah Tuhan menjadi sumber petaka suburnya radikalisme.

Dengan cara apa untuk meminimalisir (kalau tidak bisa dihilangkan seluruhnya) fenomena penyebaran paham radikalisme yang bersumber dari masjid?

Pertama, sinergitas umara dan ulama beserta seluruh elemen bangsa. Untuk meminimalisir penyuburan paham radikalisme di masjid perlu ada usaha kontinu dari negara dan peran aktif tokoh agama dan tokoh masyarakat serta kalangan muda menarasikan bahaya paham radikalisme.

Bagaimana pun, aktifitas mereka ibarat banjir besar yang sewaktu-waktu akan menerjang ke Indonesia an kita. Menihilkan kesadaran kesadaran akan realitas kemajemukan atau pluralitas yang menjadi bagian tak lepas dari bangsa Indonesia.

Kedua, mengkampanyekan dan menanamkan ide-ide pluralisme. Saling mengakui dan saling menghargai dalam alam kebhinekaan. Masyarakat Indonesia yang plural merupakan sesuatu yang tidak terbantahkan dan tidak terelakkan. Kemajemukan penduduk Indonesia bukan terbentuk atas keinginan kita, tapi kehendak Tuhan.

Karena itu, manusia yang baik adalah mereka (apapun background agama, suku dan rasnya) yang menerima fakta atau keadaan yang beragam tersebut. Kesadaran menerima kemajemukan akan membentuk sifat mengakui sekaligus menghargai, menghormati, memelihara, mengembangkan dan memperkaya pemahaman tentang pluralisme.

Ketiga, memberikan dan menginformasikan pemahaman yang benar tentang agama. Semakin mendalam pemahaman seseorang tentang ilmu agama, semakin tinggi sikap teloransi yang dimiliki, semakin memahami perbedaan sebagai sesuatu yang memang ada dan tidak bisa dinafikan. Perbedaan adalah kekayaan, bukan ancaman.

Poin nomer tiga menjadi penentu, sebab, seandainya umat Islam seluruhnya memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama, niscaya tidak akan ada yang namanya kekerasan. Kebhinekaan di Indonesia disamping sebagai kekayaan juga sebagai kekuatan.

Setiap individu tidak lagi berbicara tentang perbedaan, tapi mendiskusikan bagaimana wajah Indonesia ke depan. Kita yang sebangsa semua bersaudara meskipun lahir dari rahim ibu kandung yang berbeda. Karena kita semua lahir dari rahim bangsa yang sama.

Terakhir sebagai penutup, tentang mereka yang menyemaikan paham radikalisme di masjid, maka penting membaca pesan Sayyidina Ali. Ketika melihat kaum radikal membentangkan bendera bertuliskan dua kalimat syahadat, beliau berkata: “Mereka sesungguhnya kaum kafir dan munafik yang menunggangi Islam untuk memuaskan hawa nafsunya. Mereka adalah musuh Allah da Rasul-Nya.

Facebook Comments