Maulid Nabi: Ajaran Kemanusiaan Rasulullah yang Terlupakan

Maulid Nabi: Ajaran Kemanusiaan Rasulullah yang Terlupakan

- in Suara Kita
1150
0
Maulid Nabi: Ajaran Kemanusiaan Rasulullah yang Terlupakan

Fenomena umat Islam terkini yang bisa dilihat dengan cukup terang adalah pengamalan agama secara simbolik dan dangkal. Agama Islam dijauhkan dari ruh dan esensinya yang terdalam. Meskipun yang berdiam di ruang ejawantah beragama secara dangkal ini hanya sebagian kecilnya, namun efeknya bisa dirasakan oleh seluruh umat Islam dan bahkan semua penduduk bumi.

Efek paling kentara dan nyata dari sikap formalistik dna simbolik ini adalah munculnya sikap eksklusif dan merasa benar sendiri, selalu menyalahkan kelompok lain dan sikap tidak terpuji yang lain. Yang terjadi kemudian tidak lain kekerasan atas nama agama, radikalisme dan terorisme. Jihad dimaknai secara tekstual dan hanya berkonotasi pada perang fisik.

Jelas, sangat menyimpang jauh dari misi agama “untuk menyempurnakan akhlak manusia”. Ini tidak seperti perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi. Beliau ramah, adil, penyayang, pemaaf, jujur dan penuh kelembutan; tutur kata maupun perbuatan. Supaya kesalahan serupa tidak terulang dan menimpa generasi berikutnya, diperlukan upaya pembacaan yang serius terhadap sejarah Nabi sebagai teladan agung dan memahaminya dengan sempurna, baik teks maupun konteksnya.

Maulid atau hari kelahiran Baginda Rasulullah menjadi momentum membaca kembali sejarah beliau untuk pijakan beragama secara benar. Supaya beliau tetap abadi dalam relung-relung kehidupan umat Islam. Uswah hasanah beliau tidak lekang oleh waktu dan menjadi inspirasi dari setiap generasi. Dan tentunya, kesalahan menjadikan agama hanya sebagai baju dan identitas simbolik saja tidak terjadi lagi. Kewibawaan agama Islam tidak tercoreng dan kembali tampil dengan wajah aslinya sebagai agama yang membawa rahmat bagi alam semesta.

Islam rahmatan lil ‘alamin hanya bisa direalisasikan oleh umat Islam sebagai kepanjangan tangan dari Nabi Muhammad dengan cara memahami teks-teks al Qur’an dan hadis tidak hanya berupa sekumpulan teks dengan makna harfiahnya saja, tetapi harus dielaborasi dengan penterjemahan tafsir yang kreatif sesuai dengan masa dan tempat dimana hadis Nabi itu akan dipakai serta dalam konteks seperti apa hadis itu disabdakan.

Sebagai contoh, hadis Nabi tentang jihad penekanan maknanya akan sangat berbeda antara situasi perang dan situasi damai dengan masyarakat sekitar yang multi agama, ras dan golongan seperti di Indonesia. Tidak ada ruang kebenaran dalam situasi seperti di Indonesia saat ini apabila memaknai hadis-hadis tentang jihad dipakai untuk melegitimasi kekerasan. Sebab tanpa interpretasi yang memadai, tidak boleh mengamalkan hadis begitu saja, apalagi sampai digunakan sebagai justifikasi pembenaran terhadap tindakan kekerasan. Konteks dan latar sosio-historis Nabi bersabda demikian harus dipahami lebih dulu.

Jika tidak demikian, maka teladan relasi sosial Nabi akan raib begitu saja. Nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan yang dipesankan oleh beliau lenyap bak ditelan bumi. Karena itu, melakukan elaborasi teks dan konteks hadis sangatlah urgen. Dan, pemahaman hadis yang ideal tersebut bisa sukses apabila memahami sejarah Nabi lebih dulu, lalu melakukan pembacaan dengan perangkat keilmuan multi disiplin yang memadai.

Ajaran Kemanusiaan Rasulullah

Mari kita lihat satu teladan Nabi tentang kamanusiaan yang sering dilupakan. Suatu ketika, Nabi berdiri untuk menghormati iring-iringan rombongan yang membawa janazah. Para sahabat heran, kemudian memberitahu beliau bahwa yang lewat adalah jenazah Yahudi. Beliau berkata, “Bukankah ia juga manusia”?.

Contoh teladan berikutnya dari Nabi adalah ketika menjenguk khadam (pembantu) beliau, seorang Yahudi yang sedang sakit, beliau mengunjunginya dan mendoakan supaya ia menjadi pemeluk Islam. Bersamaan dengan hidayah dari Allah, si Yahudi masuk Islam.

Dengan demikian, bagaimana mungkin kita sebagai umat Islam menyatakan semua non muslim halal darahnya dan harus diperangi? Doktrin seperti ini teladan siapa?. Apalagi, sesama penganut Islam yang hanya gara-gara beda orientasi bermazhabnya lalu dikatakan murtad dan kafir, harus dibunuh. Maka, melegitimasi gerakan semisal separatisme, radikalisme dan terorisme dengan legitimasi hadis maupun ayat jihad adalah kentara kedangkalan ilmu agamanya bila dipakai dalam konteks masa kini seperti di Indonesia.

Untuk itu kita harus terus membaca sejarah Nabi supaya bisa menangkap nilai-nilai atau ruh dan esensi terdalam ajaran Baginda Nabi. Perayaan Maulid Nabi menjadi momentum untuk menyegarkan dan menghentakkan komitmen untuk meneladani Nabi secara bijak.

Facebook Comments