Maulid Nabi dan Semangat Merayakan Persaudaraan Kebangsaan

Maulid Nabi dan Semangat Merayakan Persaudaraan Kebangsaan

- in Suara Kita
950
0
Maulid Nabi dan Semangat Merayakan Persaudaraan Kebangsaan

Tentu bukan saatnya lagi memperdebatkan hukum memperingati Maulid Nabi. Sudah usang dan tak relevan. Referensi para ulama salaf terhadap perayaan ini dan dalil ekspresi mencintai Nabi sudah banyak dikupas dan tidak bisa dikalahkan dengan sekedar mempropagandakan bid’ah dan sesat. Apalagi memperdebatkan hal yang nampaknya kurang kerjaan tentang pergeseran libur Maulid Nabi. Tentu sekedar liburnya bukan perayaannya yang digeser. Itu pun perdebatan yang hanya mencari sensasi.

Di beberapa negara perayaan Maulid dirayakan dengan cukup meriah. Tak terkecuali di negara yang para ulamanya memandang perayaan ini sebagai bid’ah. Arab Saudi, misalnya, memang secara nasional tidak dirayakan, tetapi Maulid telah menjadi bagian penting dari gairah masyarakat Arab untuk memperingati dengan cara membaca sirah, membaca shalawat dan melaksanakan kegiatan amal baik lainnya.

Maulid telah menjadi perayaan besar di berbagai negara sebagai bentuk ekspresi cinta umat kepada Rasulullah. Dan terpenting Maulid sebagai sarana meneladani lebih jauh kehidupan Rasulullah melalui akhlak terpuji yang menjadi misi besar perjuangan Islam. Akhlak adalah sumber kebaikan manusia dari dalam hati hingga tindakan.

Dalam konteks menjadikan Maulid sebagai peringatan Nasional, tentu sekali lagi tidak hanya dilihat dari apakah diliburkan atau tidak dan digeser atau tidak. Sekali lagi perdebatan yang kurang subtantif untuk merayakan momentum yang sangat berharga ini. Dalam konteks kebangsaan, Maulid Nabi dijadikan hari nasional agar seluruh masyarakat dapat menjadikan momentum ini sebagai spirit membangun bangsa.

Meneladani Nabi dalam konteks bernegara adalah meneladani sifat, sikap dan ajaran Nabi dalam membangun sebuah komunitas besar. Kesuksesan Nabi Muhammad dalam melakukan perubahan besar di jazirah Arab patut menjadi teladan. Dalam sejarah tidak ada tokoh yang paling berpengaruh besar dalam mengubah sejarah kecuali sang Nabi. Michael H Hart, menempatkan Nabi Muhammad di urutan pertama dari 100 Tokoh yang berpengaruh di dunia.

Apa kesuksesan terbesarnya? Membangun masyarakat dengan nilai baru yang bernama persaudaraan dan persatuan. Nabi merangkai dan menyatukan perbedaan yang tercerai berai karena kesukuan yang menjadi penyakit akut masyarakat jahiliyah. Ciri masyarakat terdahulu yang mengandalkan perang fisik dirubah dalam konteks saling bermusyawarah. Ciri masyarakat yang suka mengunggulkan kesukuan dirubah menjadi kesepakatan bersama untuk hidup berdampingan dan saling menjaga.

Teladan mempersatukan dan menjaga persaudaraan nampaknya menjadi spirit penting dalam menelanani Nabi dalam konteks berbangsa. Nabi mempersatukan umat Islam yang berbeda-beda suku dan antara pendatang dan pribumi dalam komunitas umat Madinah. Tidak hanya satu keyakinan, Nabi lalu membangun dinding kokoh persaudaraan lintas agama dan suku yang menjadi modal terbaik membangun peradaban Islam. Melalui persatuan inilah peradaban Islam menjadi cahaya baru yang menyilaukan peradaban lain yang berdiri sebelumnya.

Teladan persatuan dan persaudaraan inilah yang harus ditransfer dan diinternalisasi dalam merayakan Maulid Nabi. Bangsa ini harus belajar dari teladan Nabi yang membangun sebuah peradaban besar dengan modal persatuan dan persaudaraan. Ketika modal ini sudah mulai keropos, lambat laun peradaban itu akan segera sirna dalam sejarah.

Bangsa ini harus belajar tentang bersikap waspada terhadap perpecahan. Jangankan membangun persaudaraan lintas batas suku, etnik dan bangsa, terkadang sesama muslim kita hari ini banyak dihalangi oleh perilaku saling mencela dan merendahkan. Jelas Rasulullah telah mengajarkan  bahwa “Seseorang Muslim adalah bersaudara dengan seorang Muslim yang lain. Janganlah kamu menzaliminya, jangan pula menghinanya dan juga jangan merendahkan mereka” (HR. Imam Muslim).

Momentum merayakan Maulid Nabi dalam konteks kebangsaan sekali lagi adalah meneladani persatuan dan persaudaraan sebagaimana Rasulullah sukses dalam sejarah menyatukan umat yang berbeda. Tidak ada sebuah bangsa yang maju karena perpecahan. Semua dibangun dengan modal persatuan dan persaudaraan. Inilah kunci kesuksesan Nabi yang membangun peradaban egaliter di jazirah Arab.

Modal terbaik bangsa ini dan bangsa manapun adalah persatuan. Tentu kita sudah banyak belajar bagaimana sebuah negara hancur karena perpecahan. Intervensi asing mudah masuk atas nama HAM karena persatuan di dalam sudah pecah dan luluhlantak. Indonesia dengan kekayaan luar biasa harus terus merawat semangat persatuan dan persaudaraan.

Facebook Comments